Analis Ini Ungkap Penyebab Petani Sulit Memiliki Lahan



TintaSiyasi.com-- Tanggapi rencana pemerintah yang akan melakukan impor satu juta ton beras, Analis Politik Ekonomi Islam Pertanian Tri Wahyu Cahyono SP., M.Ec.Dev., M.Ec mengungkapkan, salah satu penyebabnya adalah kesulitan para petani dalam hal kepemilikan lahan.

"Masalahnya masih sama, yaitu kesulitan di dalam petani itu membuka peluang untuk ekstensifikasi, kepemilikan," tuturnya dalam FGD Spesial PKAD: Kebijakan Impor Beras, Demi Apa dan Untuk Siapa? Kamis (18/03/2021), di kanal Youtube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Dari data Susenas (survei sosial ekonomi nasional) 2018, ia menyebutkan, hanya sepuluh persen dari total petani yang memilki lahan hingga lima hektar. Selebihnya, lanjut ia, 59 persen memiliki lahan kurang dari setengah hektar. "Kemudian 16 persen itu setengah hektar sampai satu hektar. 14 persen, satu sampai dua hektar," ungkapnya.

Maka itu, menurutnya, nilai tawar petani Indonesia menjadi lemah/kecil. Terlebih petani padi yang tambahnya, tidak masuk secara skala keekonomian. Kalau pun survive (bertahan), itu karena sudah menjadi culture (budaya) mereka. "Karena dia ada tanah yang memang harus tetap diolah. Meskipun dia tahu tidak menguntungkan," tegasnya.

Di sisi lain, ia melihat beberapa evaluasi kegagalan negara terkait pembukaan lahan baru untuk persawahan. Ia menilai, hal itu dikarenakan negara saat ini memakai kapitalisme sebagai perspektifnya.

"Ketika investor itu datang uang, maka tanah-tanah yang dikuasai negara pun dipersilahkan untuk dikelola bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Tetapi untuk rakyatnya sendiri itu sangat susah," terangnya.

Terkait hal itu, ia menjelaskan, ada dua solusi dalam sistem Islam. Pertama, ihyaul mawat (menghidupkan tanah mati). Ia menilai, metode itu bisa memberi kesempatan kepada orang-orang yang punya skill bertani untuk menjadi culture dengan menguasai lahan yang lebih luas.

Kedua, iqhta (pemberian bidang tanah negara kepada warganya). "Pemberian negara kepada orang-orang yang mampu untuk mengusahakan tanah itu diberikan oleh negara. Diberikan modal dan seterusnya untuk menghidupkan tanah tersebut," pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar