Anak Laki-Laki Dirantai, Inikah Dampak Kehidupan Kapitalistik yang Mengerdilkan Hati Nurani?


Sebuah video viral dari Purbalingga menggemparkan dunia maya. Video tersebut menayangkan seorang anak laki-laki yang dirantai karena ditinggal sendirian oleh orang tuanya berjualan di pasar. Peristiwa tersebut terjadi di Desa Kalimanah Kulon, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Kedua orang tua anak tersebut sehari-hari berjualan di pasar. Mereka berpikir anaknya akan aman jika dirantai ketika ditinggal di rumah sendirian. Kejadian tersebut terjadi tiga kali dalam waktu yang berbeda dan tidak dilakukan selama 1x24 jam atau lebih secara terus-menerus. Menurut keterangan polisi kondisi ekonomi keluarga anak itu lemah dan tidak ada bukti kekerasan selama anak itu dirantai.

Sebagai seorang Muslim kita tentu tetap merasa prihatin atas peristiwa tersebut. Bagaimana bisa orang tua tega merantai tangan dan kakinya saat sendirian di rumahnya? Dimana hati nurani untuk si buah hati? 

Kita saat ini berada di tengah kehidupan kapitalistik. Pemenuhan kebutuhan individu menjadi tanggung jawabnya sendiri termasuk untuk kebutuhan pokok. Tak jarang orang tua harus meninggalkan anak untuk bekerja, kadang dalam waktu yang lama. Apalagi keluarga dengan ekonomi yang lemah membuat kedua orang tua semuanya harus bekerja demi berusaha memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Akhirnya anak harus banyak menghabiskan waktu tanpa kehadiran orang tua. 

Kehidupan kapitalistik juga membuat manusia terbiasa melakukan perbuatan atas dasar asas manfaat. Suatu perbuatan akan dilakukan jika dinilai mendatangkan manfaat atau keuntungan materi. Orang tua yang merantai anaknya tersebut bisa diduga melakukannya karena melihat adanya manfaat berupa ketenangan untuk bekerja dan keamanan untuk anaknya. 

Hati nurani apalagi halal haram dalam melakukan perbuatan lantas diabaikan. Kehidupan kapitalistik yang sekuler memengaruhi cara berpikir dan berperilaku manusia termasuk orang tua terhadap anaknya. Nilai agama kian jauh di tengah keluarga dampak dari pemisahan agama dari kehidupan. 

Individualisme pun kian subur di tengah interaksi manusia. Rasa peduli terhadap sesama makin langka. Perhatian terhadap kerabat dan tetangga jadi tipis sebab kepentingan individu di atas segalanya. Akhirnya apa yang terjadi pada saudara dan tetangga seringkali tidak diketahui dan tak lagi peduli. 

Kehidupan kapitalistik memang terbukti mengerdilkan hati nurani.Tatanan kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara sudah saatnya diperbaiki tanpa ditunda lagi. Kehidupan Islami urgen dikembalikan lagi dalam kehidupan ini. 

Pemahaman orang tua tentang pengasuhan dan pendidikan anak harus diperbaiki lagi. Anak sesungguhnya merupakan titipan Allah Swt. yang haknya harus dipenuhi kedua orang tua. Mendidik dan mengasihi seorang anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Segala perilaku anak selama di dunia juga menjadi tanggung jawab orang tuanya. Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut juga menjelaskan pemimpin negara yang akan diminta pertanggungjawaban atas manusia yang ada di bawah kepemimpinanya. 
Islam mewajibkan negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Nabi saw. bersabda:

مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ كَلاًّ فَإِلَيْنَا

"Siapa yang meninggalkan harta maka harta itu untuk ahli warisnya. Siapa yang meninggalkan keluarga yang terlantar maka itu tanggungan kami." (HR Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Jika ada keluarga yang lemah ekonominya maka negara wajib menanggungnya. Penanggungan oleh negara terhadap anggota keluarga yang terlantar itu adalah atas nafkah-nafkah yang wajib. Dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, sandang dan papan atau tempat tinggal; juga kebutuhan asasi berupa pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan. Dengan demikian, lemahnya ekonomi tidak menjadi alasan bagi orang tua untuk abai terhadap hak anaknya dan minim hati nurani dalam mengasuhnya. 

Orang tua juga wajib menjadikan prinsip halal haram dalam mendidik dan mengasuk anaknya. Orang tua bertanggung jawab penuh terhadap anaknya sehingga tidak menjadikan manfaat sebagai tujuan utama melainkan akan berusaha menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrîm:6)

Individualisme juga akan dikikis habis dalam kehidupan yang Islami. Allah Swt. berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS. An-Nisa: 36)

Seorang muslim tidak akan dinilai baik jika tidak peduli atas apa yang menimpa tetangganya. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya." (HR At-Thabrani)

Kehidupan kapitalistik telah membawa dampak kerusakan bagi kehidupan. Sebaliknya, kehidupan Islami akan menjauhkan individu, keluarga, masyarakat dari kerusakan. Kehidupan kapitalistik mengerdilkan hati nurani sedangkan kehidupan Islami akan menyuburkan kasih sayang dan menyebarkan kasih Ilahi. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Tri Widodo
(Direktur Ulwan Learning Center, Pegiat Dakwah Remaja Purbalingga)

Posting Komentar

0 Komentar