Anak dalam Pusaran Prostitusi, Generasi Kehilangan Perisai


Prostitusi seakan tak terhenti. Tak peduli pandemi, ia mengganas dengan menyasar generasi. Teranyar, publik digemparkan kasus penggerebekan hotel milik artis di Tangerang, Banten, yang diduga menjadi sarang prostitusi anak (16/3/2021). 

Dalam kasus ini, 15 anak usia 14-16 tahun diamankan polisi. Mirisnya, sang artis yang kini menjadi tersangka, dikabarkan mengakui praktik prostitusi itu demi biaya operasional hotelnya.

Celakanya, kasus prostitusi anak ini bukan satu-satunya. Melansir dari Sindonews.com (24/3/2021), beberapa hari setelah kasus di Tangerang itu, Unit Reskrim Polsek Koja, Jakarta Utara juga menangkap puluhan remaja, 45 di antaranya wanita di bawah umur, di salah satu hotel terkait prostitusi online. 

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) merilis data, anak yang terlibat eksploitasi sebanyak 351 anak dan sebanyak 357 anak terlibat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) sepanjang tahun 2019-2021 (Sindonews.com, 24/3/2021).

Sungguh sangat memprihatinkan karena deretan kasus itu bagai fenomena gunung es. Realitasnya masih banyak terjadi, namun tak terungkap. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan menyebut bahwa prostitusi anak semakin marak di tengah pandemi.

Fakta ini wajar. Semasa pandemi, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)  ‘memaksa’ anak akrab dengan internet. Sementara, konten-konten porno yang menyulut hasrat seksual menyebar dan mudah diakses. Teman Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan, hingga 2020 telah ada 1.068.926 konten yang berkaitan dengan pornografi ditangani oleh Tim AIS Ditjen Aplikasi Informatika. 

Sementara itu, dari kasus yang terungkap, sebagian besar transaksi prostitusi dilakukan secara online. Para pelaku bisnis keji ini pun tak membatasi pangsa pasarnya. Tak segan menyasar anak demi materi. 

Menanggapi kasus prostirusi anak ini, Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar meminta orang tua lebih memperhatikan dan menjaga anak agar terhindar dari bujuk rayu oknum tak bertanggung jawab (19/3/2021).

Orang tua memang kini dituntut ekstra menjaga anak. Namun, dalam hal ini keluarga hanya benteng terakhir yang melindungi anak. Orang tua akan begitu lemah bila tanpa kesungguhan negara. Sebab, negaralah sang perisai sejati. 

Rasulullah saw. mengibaratkan kepala negara (imam/khalifah) adalah perisai. 
Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu (laksana) perisai, tempat (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Al-Bukhari) 

Dalam negara, generasi merupakan bagian yang amat lemah, namun amat berharga bagi masa depan dan peradaban. Oleh karenanya, negara mesti melindungi generasi dari segala macam bahaya, termasuk dari kekejian prostitusi.

Fenomena prostitusi anak menunjukkan negara hari ini gagal menjalankan fungsinya sebagai perisai. Penyebab utamanya karena negara berlandaskan pada sekularisme. 

Negara sekuler sangat bersahabat dengan budaya liberal nan hedonis, namun tidak ramah terhadap ajaran Islam. Padahal, hedonisme dan liberalisme telah mempengaruhi pemikiran anak menjadi insan yang tidak mengenal halal haram, tidak takut berbuat dosa. Dengan pemikiran ini, anak mudah terjebak pada pergaulan bebas, termasuk termakan bujuk rayu mucikari.

Hal ini tidak akan bisa dibendung hanya oleh kedua orang tua. Pasalnya, pemikiran dan budaya liberal mudah sekali diakses anak, terlebih dengan adanya kemudahan teknologi. Karenanya, hanya negara yang bisa menanamkan akidah yang kokoh kepada anak melalui sistem pendidikan. Selain itu, hanya negara yang bisa menyaring konten-konten berbahaya dan unfaedah yang membanjiri dunia informasi.

Dalam perkara impitan ekonomi yang acap kali menjadi faktor penyebab minimnya kontrol orang tua terhadap anak hingga anak terjerat prostitusi, ini pun karena negara gagal melindungi. 

Negara menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Akibatnya, kekayaan dikuasai elite kapitalis. Kemiskinan dan kesenjangan pun tak bisa dihindari. Ditambah sekularisme, orang menjadi menghalalkan segala cara demi keuntungan materi. Tak peduli menjalankan cara-cara keji. Meski dengan jalan prostitusi yang merusak generasi.

Dengan demikian, negalah bisa menjadi perisai rakyat dari impitan ekonomi. Dengan menerapkan sistem ekonomi Islam, negara akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok tiap-tiap individu rakyat dan menutup celah penguasaan kekayaan alam hanya oleh segelintir kapitalis. Dengan kemakmuran ekonomi ini, anak pun akan mendapat pendidikan dan penjagaan yang baik dari orang tua.

Di samping itu, hanya negara juga yang bisa menyudahi kasus prostitusi dengan penerapan sanksi tegas. Dalam negara yang mengabaikan syariat ini, sanksi yang diberikan acap kali hanya kepada mucikari, sementar pelaku zina tidak. Itu pun sanksi yang tidak memberikan efek jera. Akibatnya, bisnis prostitusi masih menjamur dengan alasan masih ada peminat. 

Berbeda dengan syariat Islam, Islam memandang zina adalah dosa besar, sebagai perbuatan keji. Siapa pun yang melanggar, bila telah baligh niscaya dosa, terancam mendapatkan hukuman dari Allah. Sanksi perbuatan zina telah ditegaskan langsung oleh Allah. Syariat menetapkan cambuk bagi pezina yang belum menikah dan rajam bagi yang sudah menikah. 

Negaralah yang bisa menerapkan sanksi tersebut. Sanksi tegas sebagaimana diterapkan syariat sebagai penebus (jawabir) atas dosa yang diperbuat, sekaligus sebagai pencegah dan memberi efek jera (jawazir). Dengan demikian zina dan bisnis prostitusi tidak akan merebak apalagi menyasar anak. 

Fungsi negara sebagai perisai ini akan terwujud bila syariat Islam diterapkan secara menyeluruh (kaffah) dalam sistem pemerintahan khilafah Islam. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Saptaningtyas
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar