100 Tahun tanpa Khilafah, Aktivis Dakwah Islam: Khilafah Penjaga Entitas Pelaksana Syariah



TintaSiyasi.com-- Merespons 100 tahun keruntuhan khilafah, Aktivis Dakwah Islam Ustaz Adi Victoria mengatakan, khilafah adalah penjaga entitas pelaksana hukum syariah.

"Karena sebagaimana yang disebutkan tadi, bahwa khilafah itu adalah penjaga, sebuah entitas pelaksana hukum syariah," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (26/2/2021). 

Menurutnya, jelas sangat penting dan ada relevansinya kenapa umat ini harus mengembalikan lagi khilafah dalam segi aqidah dan syariah. "Tanpa adanya khilafah, maka tidak akan ada yang menjaga aqidah umat ini, serta hukum-hukum syariah Islam tidak bisa dilaksanakan secara kaffah di dalam setiap sendi kehidupan manusia," tegasnya.

"Dan silahkan lihat keadaan umat Islam sekarang tanpa khilafah," tandasnya. Menurutnya, secara aqidah, mudah sekali umat ini murtad atau keluar dari Islam. Selain itu, kehormatan umat Islam pun tak terjaga, "laki-lakinya di bantai, wanitanya diperkosa dan dibunuh, sebagaimana yang terjadi di beberapa negara seperti di Myanmar, Palestina, Khasmir dan belahan negeri lainnya."

Teringat dengan apa yang pernah dituliskan oleh Imam Abu al-Ma’aliy al-Juwaini (Imam al-Haramain), ia menjelaskan, seorang ulama besar mazhab Syafi’iy, di dalam Kitab al-Irsyad pernah mengatakan, sebagai berikut.

اَلْكَلَامُ فِى هذا الباب لَيْسَ مِنْ أُصُوْلِ الْاِعْتِقَادِ، وَالْخَطْرُ عَلَى مَنْ يَزِلُ فِيْهِ يُرَبِّى عَلَى الْخَطْرِ عَلَى مَنْ يَجْهَلُ أَصْله

“Pembicaraan dalam bab ini (imamah) tidak termasuk pokok-pokok aqidah (keyakinan), namun bahaya atas orang yang tergelincir di dalamnya lebih besar daripada orang yang tidak mengerti asalnya (maksudnya pokok-pokok agama Islam (‘aqidah atau ushuul al-diin).” 

"Nah, walaupun persoalan ini bukan masuk pada wilayah aqidah, namun perkara ini sangatlah penting," imbuhnya. Namun, ketiadaan khilafah sekarang ini, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap agama Islam, yakni dalam masalah aqidah dan syariah.

Ia mengatakan, Imam al-Ghazali bahkan mengungkapkan pentingnya kekuasaan (negara) dan agama, yaitu.

اَلدِّيْنُ وَالسُّلْطَانُ تَوْأَمَانِ، اَلدِّيْنُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ وَمَا لاَ أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ

“Agama dan kekuasaan (ibarat) saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya runtuh dan sesuatu tanpa penjaga niscaya lenyap.” 

"Artinya jelas, keberaan khilafah sebagai sebuah institusi pelaksana syariah, berperan sebagai penjaga," tegasnya. Menurutnya, tanpa adanya penjaga, maka akan lenyaplah perkara-perkara dalam masalah aqidah dan syariah. 

Sebagaimana ia kutip dari Asy-Syatibi yang merumuskan lima maqashid asy-syariah (tujuan dari penerapan syariah Islam), yaitu, pertama, menjaga agama (hifzh ad-dien), kedua, menjaga jiwa (hifzh an-nafs), ketiga, menjaga akal (hifzh al-‘aql), keempat, menjaga keturunan (hifzh an-nasl).

"Kelima, menjaga harta (hizh al-mâl), yang kemudian ditambahkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjadi delapan, yakni, keenam, menjaga kemuliaan (hifzh Al-karamah), ketujuh, menjaga ketentraman atau keamanan (hifz al-amn), dan kedelapan, menjaga negara (hifz ad-dawlah)," pungkasnya.[] Enggo Transinus



 

Posting Komentar

0 Komentar