10 Tahun Konflik Suriah, FIWS: Menunjukkan Kegagalan Besar PBB dan Komunitas Kapitalisme



TintaSiyasi.com-- Menanggapi 10 tahun konflik suriah, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menyatakan, menunjukkan kegagalan besar dari PBB dan komunitas kapitalisme.

“Krisis di Suriah menunjukkan kegagalan besar dari PBB dan komunitas internasional yang artinya harus dibaca sebagai komunitas kapitalisme, untuk menghentikan berbagai krisis kemanusiaan yang ada di dunia,” tuturnya dalam acara Kabar Malam: 10 Tahun Konflik Suriah, Kamis (18/3/2021) di YouTube News Khilafah Channel.

Menurut Farid, perang Suriah salah satu perang yang paling brutal yang sangat keji lebih dari 500 ribu orang terbunuh, banyak diantara korbannya adalah para anak-anak tidak hanya itu konflik ini telah menyebabkan lebih dari 12 juta, setengah dari penduduk Suriah mengungsi ke kem-kem pengungsian yang tidak layak.

“Inilah perang yang brutal karena menggunakan senjata-senjata yang sering dikecam oleh komunitas internasional sebagai senjata-senjata yang tidak berperikemanusiaan seperti penggunaan senjata zat kimia, bom-bom barel,” ujarnya.

Menurutnya, ada ketidak pedulian para penguasa penguasa negeri-negeri Islam terhadap saudara-saudaranya sendiri, alih-alih melakukan tindakan yang nyata untuk menyelamatkan rakyat Suriah. negara-negara regional di sekitar Suriah seperti Saudi negara-negara teluk Iran, Turki dan yang lain-lain justru bekerja untuk melayani kepentingan Amerika.

Menurutnya, konflik di Suria itu sebenarnya merupakan imbas dari perlawanan damai dari rakyat Suriah karena Arab spring, ditandai dengan aksi aksi damai rakyat yang menginginkan rezim Bashar Assad untuk turun.

“Namun Apa yang dilakukan Bashad Assad? Bashad Assad melakukan penindasan yang sangat mengerikan ya ditandai dengan pada bulan Maret 10 tahun yang lalu, protes damai meletus di Suriah setelah 15 anak laki-laki ditahan dan disiksa karena membuat graffiti di dinding di Suriah di kota-kota Suriah yang mendukung Arab spring,” ujarnya.

“Salah seorang anak laki-laki yang berusia 13 tahun kemudian dibunuh dan disiksa secara brutal. Rezim Suriah juga melakukan tindakan yang sangat Represif terhadap rakyat Suriah yang menginginkan perubahan,” tegasnya.

Farid pun menilai, Amerika semakin gerah dengan kondisi perubahan di sana, yaitu keinginan rakyat Suriah untuk menuntut penerapan syariat Islam secara kafah. Demikian juga ada seruan-seruan untuk menegakkan khilafah dan Amerika melihat ini adalah sebagai suatu ancaman.

“Kalau umat islam disana bersatu dengan tujuan perjuangan yang jelas adalah membentuk negara yang benar-benar berdasarkan kepada syariat Islam tidak lagi negara yang abu-abu dengan memberikan peluang kepada sistem kapitalisme demokrasi atau kapitalisme liberal kemudian menjadi aturan-aturan di Suriah,” tegasnya.

“Karena itu perjuangan Suriah ini harus fokus pada satu hal, bukan hanya bicara pergantian rezim Bashar Assad yang sangat keji dan kejam, tetapi juga ada perubahan sistem, yang tentu pilihannya tidak ada lain kecuali mengarah kepada Islam dengan penerapan Islam secara kafah yang membangun negara, menerapkan syariat Islam secara kafah,” ujarnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar