Wanita-Wanita Negarawan, Inspirator Tradisi Wakaf


Di pekan terakhir Januari lalu, Presiden Joko Widodo meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU). Persepsi positif terhadap syariat wakaf ini tampak dalam pernyataan beliau melalui YouTube Sekretariat Presiden. Ringkasnya beliau berharap dengan pemanfaatan wakaf yang lebih luas untuk tujuan sosial ekonomi, akan memberikan dampak yang signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial di masyarakat (kompas.com, 25/2/2021). 

Setelah kehebohan jilbab Padang yang menjadi momentum untuk mempersoalkan kembali perda syariah terkait, wajar jika GNWU ini memantik tanda tanya. Akankah ini membuktikan antusiasme terhadap ajaran Islam? Bisa jadi perbedaan sikap ini karena kemaslahatan jilbab di ranah publik lebih sulit disadari ketimbang kemaslahatan yang tampak kasat mata dalam syariat wakaf. Semoga pemahaman dan kesadaran untuk berhukum pada syariat dalam diri para petinggi negara ini makin membaik. Berikutnya, tak berlebihan kiranya jika diharapkan para elite ini bakal memelopori untuk berwakaf secara optimal sehingga GNWU makin inspiratif. 

Bicara soal inspirasi dalam berwakaf, sejarah Islam memiliki masa-masa emas yang mencatat sejumlah nama pemberi wakaf dari kalangan pembesar, bahkan para wanitanya. Adalah Fathimah binti Fadl, istri Khalifah Harun al Rasyid yang berperan besar pada proyek "Ain Zubaidah" (mata air Zubaidah). Kepekaannya sebagai ibu negara, mendorongnya untuk berwakaf untuk membangun saluran air bersih bagi jamaah haji, umroh dan warga yang tinggal di kawasan tersebut. Hingga sekarang air bersih yang dihasilkan bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma. 

First lady lain yang tak kalah inspiratif adalah Zamrud Khatun. Istri Sultan Imaduddin Zanki ini memberikan wakaf untuk pendidikan. Beliau membangun Madrasah al Khatuniyah al Baraniyah pada 526H. Selanjutnya Khatun 'Ishmatuddin, istri Sultan Nuruddin Zanki mendirikan Madrasah al Khatuniyah al Jawaniyah pada 628H. Rupanya para "khatun" (gelar kehormatan wanita di masa Dinasti Zankiyah, Ayyubiyah dan Mamalik) merupakan ibu negara yang sangat mencintai ilmu dan ulama. Dengan hartanya, mereka berwakaf untuk pendidikan rakyatnya yang berkualitas lagi cuma-cuma. 

Fathimah binti Muhammad al Fihri tak kalah fenomenal. Muslimah kelas jetset asal Andalusia yang berhijrah ke Fez (Maroko) ini dikenal berperan besar dalam pendirian Masjid Jami' al Qarawiyyin yang akhirnya berkembang menjadi Universitas al Qarawiyyin. Universitas yang konon lebih tua dari Oxford dan Cambridge University ini adalah hasil wakaf beliau yang berasal dari harta warisan sang ayah. Rupanya, meski tergolong borjuis, tak lantas membuat Fathimah terperangkap gaya hidup hedonis yang mengikis kepekaannya terhadap kebutuhan masyarakat. 

Ringannya para muslimah negarawan tersebut melepas harta pribadinya untuk wakaf tentu bukan tanpa sebab. Kuatnya akidah Islam membentuk persepsi yang khas tentang makna dan tujuan hidup di dunia. Menghamba kepada Allah dengan ketaatan total sebagai sebaik-baik bekal untuk akhirat memberikan definisi kebahagiaan yang khas. Bertolak belakang dengan kapitalisme sekularisme yang materialistik. Bahagia diraih dengan menggenggam erat harta dunia. Sementara iman Islam memaknai harta dunia sebagai alat untuk meraih ridhoNya meski harus habis tak bersisa. Seperti itulah teladan dari Ummul Mukminin tatkala menerima wakaf dan pemberian dari para sahabat sepeninggal Rasulullah SAW. Sikap demikian juga diperkuat prinsip tawakkal yang membuat mereka tak pernah risau akan ketercukupannya di masa depan. Kondisi tersebut menjadi atmosfer dominan di tengah masyarakat Islam. 

Hal ini sulit dirasakan dalam kehidupan dewasa ini. Derasnya persepsi materialistik dalam kehidupan sekularisme telah mengikis pandangan hidup yang Islami. Manusia memberhalakan materi. Tak ada lagi amal kebaikan melainkan setelah ditimbang-timbang keuntungannya dalam jangka pendek. Dalam atmosfer semacam ini, agaknya GNWU tak kan begitu saja mudah diwujudkan. 

Di sisi lain kita bisa menyaksikan para wanita yang mulia ini selalu menghadirkan teladan dan perhatian terhadap kemaslahatan rakyat. Wakaf sebagai ajaran Islam yang terbukti membuahkan maslahat tidak mengendap sebagai teori belaka di benak mereka. Keyakinan akan hal tersebut mendorong mereka di garda depan dalam menyambut ajaran wakaf. Tak mencukupkan diri dengan retorika sembari menyeru orang lain untuk berwakaf, namun ia sendiri turut berwakaf hingga mampu memberi kemaslahatan sepanjang zaman. Ini tentu buah mental negarawan pada sosok-sosok mulia tersebut yang rela berpayah-payah untuk melayani rakyat. 

Yang juga tak kalah penting adalah adanya negara yang menghadirkan diri sebagai pengelola wakaf yang amanah dan profesional. Negara semacam ini terwujud dengan kepemimpinan yang sadar akan hari berbangkit dan pertanggungjawaban amal. Kepemimpinan yang takutnya pada Allah mendorongnya bersikap hati-hati dalam mengelola harta wakaf. Tak dikelola sepeser pun melainkan sesuai dengan hukum syariat tentang wakaf. Tak ada sunat, penyelewengan maupun penggelapan. Di titik inilah muncul kekhawatiran umat dewasa ini akan terselewengkannya dana wakaf di tangan sistem yang menghalalkan segalanya. 

Tak pelak, wakaf adalah ajaran Islam yang pasti menuai maslahat. Pandangan yang sama juga semestinya ditujukan pada ajaran Islam  yang lain. Karena tanpa penerimaan dan pelaksanaan ajaran Islam yang lain, sulit mengharapkan wakaf sebagai mana harapan RI 1. 

Suasana keimanan di tengah masyarakat, sosialisasi dan pelaksanaan hukum-hukum fiqh berkaitan dengan wakaf, keteladanan para pemimpin dan keluarganya untuk ikut berwakaf, menjadi pilar penting membudayanya wakaf.

Di samping itu, terwujudnya tatanan ekonomi yang mampu menyejahterakan rakyatnya serta hadirnya negara yang mengelola wakaf itu dengan amanah dan profesional, akan mendukung kegairahan umat dalam berwakaf. Semua itu terwujud dalam tatanan negara yang sempurna menerapkan syariah kaffah. Di sanalah akan luas dirasakan keberkahan ajaran wakaf. []

Oleh: Hayatul Mardhiyyah

Posting Komentar

0 Komentar