UIY Ungkap Tiga Perspektif Penyebab Banjir Kalsel




TintaSiyasi.com-- Menanggapi bencana banjir di Kalimantan Selatan, Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan tiga perspektif mendasar yang menyebabkan bencana banjir besar melanda Kalimantan Selatan (Kalsel). 

“Jadi, kalau kita lihat apa yang tengah terjadi di Kalimantan Selatan ini banjir besar, banjir terbesar katanya dalam 50 tahun terakhir, Itu kita bisa melihat dari 3 perspektif,” ungkapnya dalam sebuah acara talkshow bertema Banjir Besar Kalsel, Salah Siapa? di kanal Youtube Fokus Khilafah Channel, Ahad (24/01/2021).

Pertama, perspektif teknis. Menurutnya, ada soal drainase yang mampet yang tidak mencukupi kapasitasnya atau bahkan tidak ada, kemudian ada juga pasang surut. “Termasuk saya kira persoalan teknis itu adalah soal curah hujan sebagai hal yang tidak bisa dihindari,” jelasnya.

Kedua, perspektif politis. Ia menjelaskan pada konteks politis adalah bagaimana pemerintah membuat kebijakan terkait pengelolaan sumberdaya alam. Berkurangnya hutan/deforestasi secara drastis di Kalsel bukan terjadi secara tiba-tiba, namun ada yang sengaja menebangi dan memotongnya. 

Lebih lanjut, UIY menjelaskan bahwa persoalan teknis seperti drainase yang buruk dan curah hujan merupakan faktor yang pasti terjadi, namun yang terpenting bagaimana policy menghadapi itu semua. 

“Jadi, ini soal politis, soal bagaimana pemerintah mengambil kebijakan dalam pengelolaan sumber daya alam. Bahwa ada faktor teknis iya, tetapi yang tidak boleh dilupakan dan saya kira sangat faktual adalah soal policy,” jelasnya.

Menurutnya, seharusnya presiden itu tidak menunjuk persoalan teknis, namun persoalan policy karena persoalan-persoalan teknis itu persoalan yang akan terjadi, misalnya curah hujan, itu akan terjadi yang itu kita tidak minta. "Tetapi kemudian persoalannya adalah bagaimana policy menghadapi itu semua,” ujarnya. 

Ketiga, persperktif ideologis. Ia mengungkapkan bahwa policy yang ugal-ugalan itu tidak terlepas dari perspektif yang ketiga yaitu perspektif filosofis ideologis.

"Nah, yang terjadi sekarang curah hujannya sangat tinggi, mencapai 300 mm padahal normalnya 150 mm, dua kali lipat dari keadaan normalnya dan terjadi di sebuah wilayah yang telah mengalami penderitaan luar biasa akibat policy yang brutal, ugal-ugalan berkenan dengan pengelolaan kehutanan dan juga pertambangan serta perkebunan," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa seharusnya PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara) yang telah habis masa kontraknya dikembalikan kepada negara. "Namun, alih-alih mau dikembalikan kepada negara, regulasi yang mengatur itu ternyata sudah dihapus, justru negara memberikan jaminan perpanjangan kontrak dua kali sepuluh dengan tambahan dua kali sepuluh lagi, jika dijumlahkan maka jaminan itu mencapai 40 tahun," ungkapnya.

Menurutnya, lahirnya policy semacam ini, sementara potensi cadangan di dalam area yang dikuasai oleh PKP2B oleh tujuh perusahaan itu disebut-sebut oleh pemerintah, oleh Dirjend Minerba pada waktu itu lebih dari 13.000 triliun, profen risetnya 2.000 triliun, keuntungan bersihnya dalam 1 tahun itu tidak kurang dari 2 triliun dipengaruhi oleh faktor yang ketiga yaitu perspektif filosofis ideologis. "Digerakkan oleh ideologi, oleh cara berfikir kapitalisme,” ungkapnya.

“Jadi, sekarang ini penduduk sebenarnya (warga di Kalsel) sedang mengalami dampak dari kebijakan-kebijakan yang bertumpu pada falsafah ideologi kapitalis,” pungkasnya. [] Ade Sunandar

Posting Komentar

0 Komentar