Transaksi Dinar Dirham Dikriminalkan, Ekonom Syariah Nilai Kontradiktif dengan Narasi Syariah yang Dibangun Pemerintah



TintaSiyasi.com-- Menanggapi kriminalisasi pemilik pasar muamalah Zaim Saidi terkait transaksi dengan dinar dirham yang ia pelopori, Ekonom Syariah Muhammad Hatta S.E., M.M. menilai hal itu kontraproduktif dengan narasi syariah yang dibangun pemerintah.

"Apa yang terjadi berkaitan dengan Bang Zaim Saidi, terkait dengan dinar dirham itu, saya pikir itu bentuk dari kontraproduktif terhadap upaya yang dibangun oleh pemerintah juga selama ini," tuturnya dalam acara diskusi Focus Group Discussion Pusat Kajian dan Analisis Data: Transaksi Dinar dan Dirham Sebuah Pelanggaran? Perspektif Hukum, Ekonomi, dan Politik, Sabtu (06/02/2021) di YouTube PKAD.

Menurutnya, dinar dan dirham itu adalah satu kesatuan dengan ekonomi syariah, "adalah hal yang sangat aneh, kemudian dinar dan dirham ini dilepaskan dari ekonomi syariah. Makanya ini kontraproduktif, sangat aneh."

"Di tengah pemerintahan mencoba untuk membangun yang namanya kesadaran keuangan syariah, ini sangat aneh saya pikir," tambahnya.

Ia mengatakan, tentang bahaya keuangan moneter yang merugikan negeri ini. "Apakah benar dinar dirham ini yang merugikan? Keuangan syariah ini merugikan bangsa ini? (Padahal) Mata uang dinar dirham ini adalah berdasarkan Al-Qur'an," tandasnya.

Lanjut Hatta, basic dasarnya adalah Al-Qur'an, perintah dari Al-Qur'an, misalnya dalam surat At-Taubah ayat 34, berkaitan larangan orang menyimpan emas dan perak.

"Sangat aneh kalau kemudian menyoalkan perihal ini. Dinar dirham ini juga ditegakkan berdasarkan baginda Rasul SAW. Misalnya disini larangan riba. Ini berkaitan dengan emas riba fadhl ini. Benda-benda ribawi, sejumlah hukum di ekonomi syariah, sejumlah hukum di agama Islam itu, dilekatkan secara ketat, dilekatkan secara fix dengan dinar dan dirham," terangnya.

Katanya, orang yang mencuri seperempat dinar maka dipotong tangannya. Ia menjelaskan, seperempat dinar ini artinya mencuri harta, mencuri uang orang lain. Jadi, ia katakan, kedudukannya sangat tegas dalam agama Islam.

"Bagaimana dari segi kerugian, keuntungan dan kerugian secara materi berkaitan antara keuangan moneter kapitalistik dan ekonomi syariah ini. Salah satu bentuk penjajahan itu adalah dimulai dari mata uang," jelasnya.

Ia menjelaskan, secara eksplisit, secara tegas disampaikan oleh seorang Pakar Ekonomi Syariah dari negeri Jiran. Mata uang itu adalah The Thief of Nation (perampok sebuah bangsa). Thief of nation ini apa? Ternyata adalah the fiat money. Perampok sebuah bangsa ini adalah fiat money. Begitu tegas begitu eksplisit disampaikan.

"Termasuk juga otoritas jasa keuangan dalam membangun yang namanya kecerdasan literasi finansial dalam hal ini adalah keuangan syariah. Literasi finansial sekarang ini masih sangat jauh dibandingkan dengan literasi keuangan konvensional kapitalistik yang sudah 30 persen. Kalau ekonomi syariah masih 8 persenan, 2016 masih 8,1 persen," imbuhnya.

Ia mengungkap, literatur-literatur ekonomi syariah, keuangan syariah yang ditulis oleh Prof. Adiwarman Karim, Prof. DR. Muhammad misalnya, dengan bukunya ekonomi moneter makro syariah dengan sangat mudah kita bahas, kita temukan pembahasan tentang dinar dan dirham.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar