Tidak Ada Learning Loss dalam Sistem Pendidikan Islam

Pandemi belum juga usai dan kita tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan saat ini, oleh karena itu diperlukan solusi tuntas untuk mengatasi masalah pendidikan yang memang sedang terjadi di negri ini.

Seperti dilansir dari Kompas.com (31/01/21), pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 telah berlangsung selama 10 bulan. Tak hanya menimbulkan tantangan bagi siswa, guru maupun orangtua, salah satu efek PJJ berkepanjangan ialah learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. Potensi learning loss, bisa terjadi karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rachmadi Widdiharto mengatakan, Kemendikbud memahami kekhawatiran learning loss tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai. "Pada saat yang bersamaan, kesehatan adalah sebuah kebutuhan yang tak bisa ditunda,” ujarnya pada acara Kunjungan Kerja Spesifik Bidang Pendidikan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, di Pendopo Kabupaten Sukabumi, Jumat (29/1/2021).

Pada kesempatan lain, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyebutkan, Kemendikbud dapat menghitung learning loss tersebut melalui penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN) yang rencananya akan dilakukan pada September 2021. Selain itu, melalui AN juga akan terpetakan sekolah-sekolah mana yang akan mendapatkan bantuan dari pemerintah sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. 

"AN tetap perlu dilaksanakan. Kalau tidak, kita tidak bisa menghitung learning loss dan mengetahui mana saja sekolah-sekolah yang paling membutuhkan bantuan kita. Inilah yang diinginkan Kemendikbud dan DPR,” jelas Nadiem, seperti dilansir dari laman Kemendikbud, Jumat (11/1/21).

Dari sini dapat kita lihat bahwa kurikulum darurat dari Kemendikbud terbukti tidak efektif memandu mencapai tujuan pendidikan di masa darurat, karena sistem sekulerisme masih menjadi pijakan lahirnya kurikulum di negri ini, sehingga masalah masalah pembelajaran selama pandemi dirasa semakin memberatkan.

Learning loss gagal disolusi dengan kurikulum sekuler dimana terjadi pemisahan antara agama dan kehidupan yang mana pelajaran agama hanya sekedar menekankan pada aspek ubudiyah saja, sementara kurikulum pendidikan menekankan pada penyiapan manusia kapitalistik yang mengagungkan nilai materi semata, akibatnya sering kita lihat masalah yang sering terjadi di kalangan pelajar dan anak didik seperti: adanya siswa yang depresi,  masuk RS jiwa, sampai kecanduan gadget dan seetrusnya.

Berbeda dengan sistem kapitalis, dalam masa pendemi seperti ini sistem Islam yang di terapkan dalam daulah Islam mengerahkan segenap sumber daya untuk menciptakan sistem, membuat aplikasi hingga mengatasi kendala teknis agar hak pendidikan seluruh warganya terpenuhi.
Islam memandang bahwa pendidikan adalah hak setiap individu yang wajib di hadirkan oleh daulah kepada setiap warga negaranya. 

Karena pengajaran adalah hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupanya sehingga merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhinya hak hak individu, baik laki-laki maupun perempuan. Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga negara dengan cuma-cuma, dengan fasilitas sebaik mungkin. Sekalipun di musim pandemi daulah Islam akan menyediakan layanan dan prasarana untuk tetap bisa terlaksanya kegiatan belajar mengajar yang kondusif. 

Dalam sistem Islam kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah Islam. Mata Pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dalam pendidikan dari asas tersebut. Politik pendidikan adalah membentuk pola pikir dan pola jiwa yang Islami. Seluruh mata pelajaran disusun berdasarkan dasar strategi tersebut.

Tujuan pendidikan adalah pembentukan kepribadian Islam serta membekalinya dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan. Metode pendidikannya dirancang untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut, setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut di larang. Waktu pelajaran untuk ilmu ilmu Islam dan bahasa Arab yang diberikan setiap minggu harus disesuaikan dengan pelajaran ilmu ilmu lain, baik dari segi jumlah maupun waktu. 

Dalam sistem Islam negara menyediakan perpustakaan, laboratorium dan sarana ilmu pengetahuan lainya, disamping gedung -gedung sekolah, universitas untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai cabang pengetahuan, seperti fiqh, Ushul fiqh, hadist dan tafsir, termasuk di bidang ilmu murni, kedokteran, tehnik, kimia, penemuan penemuan baru, sehingga lahir di tengah-tengah umat sekelompok besar mujtahidin dan para penemu. (Nizham Al-Islam oleh Syaikh Taqiyudin An-Nabhani)

Dalam sistem Islam negara memiliki kewajiban untuk bisa menjamin kebutuhan pokok masing-masing individu di dalam negaranya. Kebutuhan pokok tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan yang harus dijamin oleh negara. Inilah prioritas utama yang diperhatikan negara, selain juga menjamin setiap kepala keluarga bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 

Sehingga dalam sistem Islam tidak akan kita temui learning loss karena secara otomatis daulah akan memastikan bahwa semua warga negaranya sudah mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai standart. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh: Isty Ummu Aiman

Posting Komentar

0 Komentar