Tanggapi Kasus Abu Janda, Prof. Suteki: Rasialis dan Penista Agama adalah Common Enemy



TintaSiyasi.com-- Menanggapi kasus Abu Janda yang diduga melakukan tindakan rasialis dan penistaan agama, Amir Universitas Online 4.0 UNIOL Diponorogo Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum., mengatakan, rasialis dan penista agama adalah common enemy (musuh bersama) masyarakat, bangsa, dan negara.

"Semua pihak hendaknya maju terus pantang mundur untuk melawan dan menghentikan langkah para rasialis dan penista agama. Mereka adalah common enemy masyarakat, bangsa dan negara," tuturnya dalam kuliah online Uniol 4.0 Diponorogo, Selasa (2/2/2021) via daring di zoom meeting. 

"Apakah kita akan serius menangani common enemy terkait dengan Abu Janda yang diduga telah melakukan perbuatan rasisme dan penistaan agama ini?" tanyanya.

Ia menjelaskan, semua bergantung pada para pihak khususnya APH dalam Sistem Peradilan Pidana (SPP) mulai dari keseriusan pihak Kepolisian, kemudian kejaksaan dan pengadilan. "Kita tagih janji atau komitmen Kapolri Baru untuk menegakkan hukum dan menghadirkan keadilan di tengah masyarakat sehingga slogan presisi (Prediktif Responsibiltas Transparansi Berkeadilan) benar-benar dapat diwujudkan, bukan macan kertas belaka," bebernya. 

Menurutnya, penempatan Abu Janda menjadi common enemy ia kira tidak berlebihan. Hal ini dikarenakan kekesalan masyarakat terhadap Abu Janda yang ia temui sering melecehkan Islam dan umat Muslim lewat konten-kontennya di media sosial. "Setelah tindakan rasisnya terhadap Natalius Pigai dilaporkan, kini Abu Janda membuat ulah baru yang menyerang kehormatan umat Islam dengan menyebutkan kalau Islam merupakan agama pendatang yang arogan," tandasnya.

"Common enemy menjadi sangat penting dalam memerangi rasialisme dan penistaan agama, karena keduanya merupakan perbuatan yang sengaja ditujukan untuk merendahkan martabat manusia dan komunitas agama yang memiliki derajat tinggi," jelasnya.

Ia melanjutkan, common enemy akan mendorong terciptanya common sense of crisis (rasa keprihatinan bersama) dan akhirnya akan membentuk common action (tindakan bersama untuk melawan). 

Ia melihat, kekompakan partai-partai di DPR (minus PDIP) dan dukungan masyarakat luas, ormas, tokoh-tokoh masyarakat dan agama, akademisi dan lain-lain dapat ia maknai, bahwa Abu Janda alias Permadi Arya telah dianggap sebagai musuh bersama (common enemy). "Karena dianggap berpotensi memecah belah bangsa yang sangat menghormati kebhinekaan dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tindakan Permadi Arya juga berpotensi merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia," katanya. 

Ia mempertanyakan, apalagi yang ditunggu oleh Aparat Penegak Hukum (APH), ketika tokoh publik, rakyat, dan semua telah dihadapkan pada fakta adanya common enemy, salah satunya adalah Abu Janda alias Permadi Arya. "Prinsip Equality before the law dan presumption of innocence, memang perlu diperhatikan, namun jangan sampai melemahkan tindakan aparat penegak hukum memproses hukum Abu Janda," pungkasnya.[] Ika Mawarningtyas



 

Posting Komentar

0 Komentar