Stabilitas Finansial dengan Sistem Mata Uang Emas


Uang dalam perekonomian memiliki arti sangat penting. Ketidakstabilan alat tukar tersebut akan mengakibatkan perekonomian tidak berjalan pada titik keseimbangan. Bahkan sistem moneter yang diadopsi sebuah negara amat menentukan apakah negara tersebut akan rentan krisis atau tidak.

Hingga perang dunia pertama, dunia masih menjalankan sistem mata uang emas. Mata uang yang beredar saat itu berupa uang logam emas dan perak atau uang kertas yang dapat ditukar dengan emas. Penerapan mata uang emas dan perak ini memberi pengaruh yang sangat baik terhadap hubungan-hubungan ekonomi antar negara.

Namun ketika dicetuskan PD I tahun 1914, negara-negara yang berperang sengaja mengambil langkah-langkah yang mengguncang sistem mata uang emas. Diantaranya dengan menghentikan konversi mata uang negaranya dengan emas, membuat persyaratan ketat terhadap ekspor emas dan mempersulit pengimporannya. Akibatnya, mata uang basis emas goyang dan harga kurs pun jungkir balik. Sejak saat itu, mata uang emas tidak lagi menjadi sistem moneter internasional, tetapi hanya berlaku khusus di beberapa negara saja.

Seiring dominasi Kapitalisme AS, mata uang dolar kini menjadi salah satu mata uang dunia yang digunakan sebagai standar nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional. Terutama sejak berakhirnya sistem Breton Woods yang mengaitkan dolar dengan emas (1ons/28,35 gram emas=35 dolar AS) pada tahun 1970-an, dolar AS tidak ditopang lagi dengan emas dan dapat berlaku hanya karena kepercayaan orang pada dolar. Akibatnya sistem moneter dunia tidak lagi stabil dan rentan meledakkan krisis berkelanjutan.

Uang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh hampir seluruh negara di dunia. Dalam sistem uang kertas ini, masyarakat dipaksa oleh negara untuk percaya bahwa selembar kertas itu memiliki nilai tertentu dan penggunaannya bergantung dekrit bank sentral atau pengumuman pemerintah. Uang kertas yang pada dasarnya hanya berupa kertas tidak memiliki nilai intrinsik yang murni. Sehingga, fluktuasi nilai tukarnya terus terjadi baik karena gangguan sektor riil maupun moneter.

Tulisan ini mencoba memberikan alternatif sistem moneter yang adil dengan menawarkan penggunaan sistem mata uang dinar dan dirham. Dinar (mata uang yang terbuat dari emas) dan dirham (mata uang yang terbuat dari perak) memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh dolar. Pertama, dinar dan dirham kebal terhadap krisis moneter. Ketika nilai rupiah anjlok terhadap dolar, nilai emas tetap tinggi terhadap dolar. Terbukti saat krisis rupiah 1997, nilai emas di Indonesia melonjak hingga 375% dalam kurun waktu tujuh bulan. Tidak hanya di Indonesia, di negeri manapun emas terbukti kalis dari segala krisis moneter. Di Meksiko 1995,nilai emas disana naik 107% dalam waktu tiga bulan meskipun Peso dihantam krisis. Saat krisis Ribel Rusia11998, nilai emas disana naik 307% dalam kurun waktu delapan bulan.

Kedua. Kebal terhadap kebijakan moneter. Pemerintah tidak dapat mengumumkan tidak berlakunya uang emas karena masyarakat akan tetap menghargai nilai intrinsiknya. Nilai nominal dinar dan dirham ditentukan oleh berat logamnya itu sendiri yang sekaligus menjadi nilai intrinsiknya (dinar memiliki berat4,25gr emas 22 karat dan dirham 3gr perak murni), bukan ditentukan oleh dekrit bank sentral. ini berbeda dengan mata uang kertas. Bila kita memiliki dinar 100 gram , umpamanya, dinar akan tetap berlaku kapanpun dan dimanapun tidak bergantung pada dekrit pemerintah maupun bank sentral. Seandainya kita menyimpan uang satu milyar lalu Bank Indonesia mengumumkan uang itu tidak berlaku lagi dan tidak bisa ditukar dengan uang baru maka kita cuma bisa gigit jari. Uang satu milyar tadi berubah menjadi sampah kertas yang tidak bernilai.

Tambahan pula, mata uang kertas tidak memiliki kesamaan antara nilai intrinsik dengan nilai nominalnya. Akibatnya, fluktuasi nilai terus terjadi. Perbedaan kedua nilai ini mencerminkan ketidakadilan (unfairness) alat tukar. Misalnya; untuk mencetak uang dengan nominal 1 dolar AS diperlukan biaya hanya 4 sen dolar saja. Nilai 4 sen dolar ini kemudian disebut nilai intrinsik. Bila kurs 1 dolar Rp 9.000, berarti 4 sen dolar hanya sebesar Rp 360.

Selanjutnya, kita menjual hasil hutan berupa kayu dengan harga 1 dolar, maka sebenarnya kita cuma mendapat pembayaran sebesar Rp 360. Begitu pula bila mengekspor minyak, hasil pertanian, elektronik dan lainnya hanya ditukar dengan kertas yang nilainya sangat kecil.

Ketiga. Kebal terhadap inflasi. Dinar dan dirham tidak mengalami penyusutan nilai seiring dengan pertambahan waktu. Uang yang terbuat dari emas dan perak tetap akan bernilai tinggi meski usianya telah berabad-abad. Pada zaman Nabi Muhammad saw orang dapat membeli seekor kambing dengan harga 1 dinar dan seekor ayam dengan harga 1 dirham. Hari ini, 1500 tahun kemudian, dengan sekeping dinar orang masih dapat membeli seekor kambing dan seekor ayam dengan 1 dirham.

Berbeda dengan sistem mata uang kertas yang didalam tubuhnya memang terdapat unsur inflasi permanen. Misalnya Anda meminjamkan uang kepada seseorang Rp 10 juta dengan waktu pengembalian 10 tahun mendatang. Masalahnya, samakah nilai Rp 10 juta saat ini dengan Rp 10 juta untuk tahun mendatang. Tentu saja tidak. Hal ini disebabkan uang kertas rupiah mengalami depresiasi karena adanya inflasi permanen. Inilah kelemahan mendasar uang kertas.

Keempat. Bisa dipergunakan dimana saja dan kapan saja. Mata uang emas dan perak akan diterima oleh siapapun di seluruh penjuru dunia. Ia tidak mengenal batas teritorial dan bersifat universal. Keunggulan ini menyebabkan uang emas dan perak tidak memiliki masalah kurs. Sehingga harga 1 dinar di Amerika Serikat sama dengan harga 1 dinar di Indonesia. Tidak seperti saat ini, 1 US dolar tiba-tiba 10.000 kali lipat rupiah. Pemakaian dinar dan dirham ini akan mendatangkan efisiensi. Mata uang tersebut bisa langsung ditransaksikan tanpa harus ditukar dengan mata uang lain.

Kelima. Tidak ketergantungan dengan negara lain. Negara yang menggunakan mata uang dinar atau dirham tidak akan tergantung kepada negara lain. Justru negara lainlah yang bergantung kepadanya. Nilai mata uang negara-negara yang menggunakan matauang kertas sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dan ekonomi negara lain. Akibatnya, jika mata uang sebuah negara mengalami krisis maka krisis itu akan segera menjalar ke negara lain. Kita bisa saksikan ketika krisis moneter meyerang Thailand, hampirseluruh negara Asia terserang krisis multidimensional. Bagi Indonesia, pemakaian dinar sebagai alat ukur nilai bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

Menjadikan dinar dandirham sebagai mata uang bukan utopis tetapi menyetel ulang fenomena yang pernah terjadi ratusan tahun silam. Menurut catatan sejarah, mata uang emas telah digunakan oleh Kerajaan Bizantium, Romawi Timur sedangkan mata uang perak dikeluarkan oleh Kerajaan Persia. Di Indonesia sendiri, sebagian besar kerajaan menggunakan emas dan perak sebagai alat transaksi jual beli atau pembayaran upeti. Ketika melakukan transaksi, VOC yang didirikan Belanda pada 1602 menggunakan kepingan dirham untuk membeli rempah-rempah dari orang pribumi.

Oleh sebab itulah, pemanfaatan dinar dan dirham secara luas di masyarakat kemungkinan tidak akan memakan waktu banyak. Apalagi jika dibarengi sosialisasi intensif. Bagi pemerintah selaku pengendali otoritas moneter yang selama ini hanya mengaitkan rupiah dengan dolar, euro, pondsterling, yen dan france untuk menambahkan satu mata uang lagi yakni dinar dan dirham dalam busket of currency. Ini semua dilakukan bertujuan untuk menciptakan sistem moneter yang adil untuk merealisasikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. []

Oleh: Fitria Osin

Posting Komentar

0 Komentar