Sistem Islam Menjaga Pergaulan Sosial


Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Ade Armando, M.Sc., ikut menanggapi kasus kasus Nissa Sabyan yang dituding sebagai pelakor karena dianggap merebut suamit orang.

Tanggapan itu disampaikan Ade Armando melalui sebuah poster yang dia posting di akun twitternya ade armando @adearmando1 pada Jumat, 19 Februari 2021. Ade Armando berpendapat bahwa kasus Nissa Sabyan menunjukkan jilbab itu hanya gaya berpakaian (bacanews.id, 20/2/2021).

Sungguh tidak benar ketika perilaku seseorang di anggap salah, lantas yang disoroti adalah jilbabnya. Sebagai seorang yang mengaku Muslim seharusnya dirinya paham bahwa menutup aurat adalah kewajiban dari Allah Swt. Sedangkan hasil perbuatan manusia tentu ada timbangannya tersendiri. Jika seseorang dalam bergaul dianggap kurang bisa menjaga, maka yang di perbaiki adalah caranya bergaul bukan mengutak atik jilbabnya (yang sudah benar)

Ajaran tentang menutup aurat terdapat dengan jelas didalam alquran surat An-Nur ayat 31 (perintah mengenakan kerudung) dan di dalam Al Quran surat Al-Ahzab ayat 59:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِ جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Akar Masalah 

Kasus Nissa Sabyan dapat diibaratkan fenomena gunung es. Mengapa kasus ini menjadi heboh? Bisa jadi karena Nissa dikenal publik yang sering menyanyikan ulang (cover) lagu-lagu bernuansa Islami ataupun salawat Nabi. Video klipnya telah ditonton jutaan kali dan sering menjadi trending di youtube.

Padahal jika kita perhatikan kehidupan artis pada umumnya tak jauh dari perselingkuhan yang berujung kepada gugatan perceraian. Contohnya seperti kasus Gisel kapan hari yang sempat menghebohkan dunia maya dengan berita 'video mirip artis'. Ada juga perselingkuhan Tora Sudiro dan Mieke Amalia, kasus rumah tangga Sule dan Lina dan masih banyak lagi.

Perasaan cinta itu sendiri secara fitrah ada dalam setiap diri manusia dan munculnya karena ada rangsangan dari luar. Salah satunya disebabkan banyaknya konten yang merangsang munculnya naluri nau' (naluri berkasih sayang) mereka. Seperti sinetron yang bertema cinta, film remaja yang full adegan pacaran, konten youtube pasangan mesra bahkan iklan permen, ice cream, coklat, sepeda motor dan lain-lain semua tak pernah lepas dari adegan mesra antara laki-laki dan perempuan. 

Parahnya, konten-konten merusak seperti ini justru dianggap membawa keuntungan bagi para pengusaha. Hal tersebut tidak mengherankan, bagi para penganut kapitalisme, apa pun yang akan menghasilkan uang akan dilakukan tanpa mempedulikan halal haram.

Alih-alih negara menjadi pelindung masa depan generasinya namun negara justru berada di pihak yang merusak. Semua itu dapat kita lihat dari hasil kebijakan-kebijakan yang diambil negara. Seharusnya negara menghentikan tayangan-tayangan yang tidak layak dikonsumsi generasi, menghentikan penyebaran pornografi dan pornoaksi. 

Adanya lembaga sensor pun terasa sekedar basa-basi. Tayangan merusak akhlak dan moral tetap saja riwa riwi dan dapat diakses dengan sangat mudah oleh siapa pun yaitu dengan sekali klik. Lalu apa yang bisa dilakukan negara? Negara sekadar menghimbau orang tua dan keluarga bertindak selektif memilihkan tayangan anak-anak mereka dan menganjurkan untuk mendampinginya.


Sistem Pergaulan dalam Islam

Islam sebagai agama yang sempurna juga mengatur masalah pergaulan sosial diantaranya:

Pertama. Larangan campur baur (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan bukan mahram. 

Nabi Saw., bersabda, “Janganlah kamu masuk masjid dari pintu wanita.” (HR. Bhukari)

Campur baur yang bebas antara laki-laki dan perempuan, seperti yang dibiarkan tumbuh subur dalam sistem kapitalis liberal, menjadi salah satu pemicu kasus perselingkuhan hingga perzinahan. Selama didasari atas rasa suka sama suka dan tidak ada unsur paksaan, maka dianggap sebagai hak berperilaku individu tersebut. Na'udzubillah.

Kedua. Melarang laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya (khalwat). 

“Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.”  (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

Nabi Saw., bersabda, “Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga. Perintah untuk menutup aurat.

يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا .

“Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah balig, maka tidak boleh tampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke wajah dan telapak tangan).” (HR. Abu Dawud)

Keempat. Memerintahkan kepada seorang muslim untuk menjaga pandangan (ghadlul bashar).Rasulullah Saw. bersabda;

يَا عَلِيُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ “

“Wahai Ali, janganlah engkau mengikutkan pandangan (pertama, yang tidak disengaja- pen.) dengan pandangan (kedua, yang disengaja- pen.), karena sesungguhnya engkau berhak pada pandangan pertama, tetapi tidak berhak pada pandangan yang akhir”. (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Hakim)

Dengan menahan pandangan dari perkara yang diharamkan untuk dilihat, seorang muslim akan mampu membentengi dirinya dari perselingkuhan.

Kelima. Memerintahkan perempuan muslimah pergi safar sehari semalam disertai mahramnya. Dari Abu Hurairah ra., Nabi Saw., bersabda,

لا يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ لَيْلَةٍ إلَّا وَمعهَا رَجُلٌ ذُو حُرْمَةٍ منها

“Tidak halal bagi seorang wanita muslimah, bersafar yang jauhnya sejauh perjalanan sehari semalam, kecuali bersama lelaki yang merupakan mahramnya.”  (HR Muslim no. 1339).

Keenam. Perintah segera menikah bagi pemuda yang sudah mampu dan menyuruh untuk berpuasa bagi mereka yang belum mampu.

Anjuran ini terdapat dalam hadis Nabi Saw.:

مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Barang siapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedudukan pernikahan menurut Islam merupakan sunah Rasul Saw, bahkan bernilai pahala yang luar biasa. Seperti dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata,

Rasulullah Saw. bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya. Siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR Ibnu Majah).

Orang yang menikah karena ingin memelihara diri dari kemaksiatan berhak ditolong Allah Swt.

ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ: اَلْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَالْمُكَاتَبُالَّذِي يُرِيْدُ اْلأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيْدُ الْعَفَافَ

“Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.” (Hadis hasan: Diriwayatkan Ahmad)

Ketujuh. Islam memerintahkan individu muslim menghiasi dirinya dengan ketakwaan 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS al-Ahzab: 70).

Demikianlah ketentuan Islam yang dibebankan kepada individu dan masyarakat dalam rangka mencegah terjadinya kemaksiatan.

Namun, upaya tersebut tidak akan efektif menyelesaikan masalah pergaulan bebas manakala negara tidak hadir melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengayom dan pelindung rakyat. Negara pengayom tersebut hanya akan didapatkan didalam Daulah Khilafah Islamiyah.[]

Oleh: Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar