Seorang Tokoh Dituduh Radikal, Jurnalis Senior: Rezim Mainkan Skenario Fait Accompli?


TintaSiyasi.com-- Jurnalis Senior Joko Prasetyo duga rezim memainkan skenario fait accompli, menyoal kasus seorang tokoh yang dituduh radikal.

"Bahasa Prancisnya rezim dan pendukungnya sedang memainkan skenario fait accompli," tuturnya kepada peserta WAG CwOJ (Coaching with Om Joy), Ahad (14/02/2020).

Menurut Om Joy, sapaan akrabnya, fait accompli itu istilah yang bisa digunakan untuk mendefinisikan suatu kondisi yang telah diatur oleh seseorang agar orang lain menyetujui pendapat, ide, atau keputusannya. "Jadi siapa saja yang kritis kepada rezim (bukan dalam tataran ideologis ya tapi pragmatis) akan dihabisi juga dengan cap radikal," tandasnya.

Karena, menurut Om Joy, ada yang kritis secara ideologis yakni orang yang memahami permasalahan sampai ke akar-akarnya (radikal), sehingga meyakini, akar masalah negeri ini, karena tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah (menyeluruh). Ada pula yang kritis secara pragmatis, ia menjelaskan, yakni orang yang hanya memahami masalah sebatas kesalahan rezim saja, tidak sampai menyatakan demokrasi itu sistem bertentangan dengan Islam, kufur, dan jebakan penjajah.

Ia menuturkan, fait accomli dilakukan agar pihak-pihak yang belum ideologis (masih pragmatis), tapi menyadari kekeliruan rezim, takut untuk mengkritik rezim, karena khawatir diperlakukan seperti para tokoh yang dicap radikal. Selain itu, fait accompli juga dilakukan untuk semakin mengokohkan pelabelan moderat versus radikal.

"Orang-orang awam yang tidak mengerti masalah apa yang sedang terjadi akan semakin takut dengan siapa saja yang disebut radikal dan akan semakin senang dengan siapa saja yang disebut moderat," ungkapnya.

Ia menambahkan, tentang seorang tokoh dituduh radikal, padahal tidak mempermasalahkan sistem kufur demokrasi. Secara pragmatis, sangat menguntungkan rezim. Secara ideologis, poin tersebut sangat menguntungkan kafir penjajah.

"Wartawannya seolah mencap seorang tokoh 'moderatdan kelompok lain radikal. Pelabelan itu skenario RAND Corporation untuk mengadu domba sesama umat Islam," ujarnya.

Lanjutnya, RAND Corporation itu murni perang ideologi antara kapitalisme versus Islam. Kalau pelaporan seorang tokoh itu murni pragmatisme, untuk membungkam kekritisan pihak-pihak yang kritis (tapi bukan di tataran ideologi). 

"Tapi jelas menguntungkan pihak ideologis yang anti Islam, karena kita ikut-ikutan masuk ke perangkap radikal versus moderat dalam tataran person umat Islam (bukan dalam tataran kufurnya ide). Bahkan dirumuskan jadi alat adu domba oleh Daniel Pipes yaitu think tank-nya Amerika," jelasnya.

Salah seorang peserta bertanya, "Jadi, labeling moderat bukan jaminan aman?"

Om Joy menjawab, secara ideologis, mungkin untuk sementara aman karena tidak mengganggu ideologi kapitalisme. Tetapi secara pragmatis, sikap seorang tokoh tersebut tentu membikin gerah rezim. "Jadi pelaporan seorang tokoh itu masalah pragmatis saja, bukan masalah ideologis. Karena rezimnya diktator ya yang pragmatis juga bila sebagai oposisi ya dibungkam," tegasnya.

Ia menilai, Indian yang tidak ideologis saja dihabisi oleh kapitalisme Inggris yang menjajah Amerika dan dari moderat lahirnya istilah moderasi beragama. "Dan moderat itu kan selalu dihadap-hadapkan dengan Islam ideologis. Dalam pandangan kafir penjajah dan orang-orang sekuler kan begini: kaum Muslimin yang ingin Islam diterapkan secara kaffah itu radikal, radikal dimaknai mereka sebagai keburukan," jelasnya.

Sebaliknya, kata Om Joy, orang Islam yang bersedia pakai aturan dari kafir penjajah meskipun aturan tersebut bertentangan dengan syariat Islam itu disebut moderat, moderat dimaknai mereka sebagai kebaikan. "Enggak ada yang berubah, rezim dan pendukungnya hanya bersikap pragmatis saja terkait untuk membungkam kekritisan pihak-pihak yang tidak mempermasalahkan demokrasi tetapi jadi oposisi rezim. Begitulah analisa saya terkait fait accompli masalah seorang tokoh ini," pungkas Om Joy.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar