Salah Kaprah di Madrasah, Imbas Moderasi?


Pengajar di madrasah kini tak harus beragama Islam. Ketentuan ini sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia, tentang pengangkatan guru madrasah. Disebutkan dalam PMA nomor 66 tahun 2016 pada bab VI pasal 30 bahwa kualifikasi umum calon guru madrasah yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam penjelasannya, Analis Kepegawaian Kementrian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan menegaskan tidak ada penyebutan harus beragama Islam. Selain itu kondisi ini juga diharapkan dapat menjadi manifestasi moderasi beragama (sulsel.suara.com,30/1/2021).

Pengajar non Muslim yang ditempatkan di madrasah mengajar mata pelajaran umum. Kondisi ini pula yang dijadikan sebagai faktor bolehnya non Muslim mengajar di lingkup madrasah. Selain itu Islam diharapkan tidak lagi dipandang sebagai ajaran yang eksklusif bagi agama lain. Diberitakan sebelumnya bahwa seorang calon pegawai negeri sipil (CPNS) non Muslim menerima pengangkatan sebagai guru di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja. Meski mengaku kaget namun yang bersangkutan tetap berusaha untuk mengikuti penempatan yang telah ditetapkan bagi dirinya (hajinews.id, 31/1/2021).

Keberadaan pengajar atau guru sangatlah berpengaruh dalam  proses pendidikan. Guru memiliki peran besar sebagai pendidik, sebagaimana sebutannya, digugu dan ditiru. Guru tidak sebatas menyampaikan informasi yang bersifat normatif kepada peserta didik. Lebih dari itu, guru harus mampu menjadi teladan bagi para muridnya tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik. Tentu cakupan pribadi yang baik disini tidak disandarkan kepada ukuran yang relatif. Karena kita sebagai muslim maka ukuran baik selayaknya dikembalikan kepada apa saja yang dipandang baik oleh asy-Syari’, Allah SWT.

Hanya guru yang memahami seputar hukum syara’ dapat mengajarkan nilai kebaikan di dalamnya. Kondisi ini hanya akan terwujud jika guru tersebut menjadikan Islam sebagai keyakinan atau aqidah bagi dirinya. Dengan kata lain, hanya seorang guru Muslim yang memahami bagaimana mengajarkan nilai-nilai syariat Islam kepada muridnya. Lantas jika ada yang berpandangan tidak mengapa jika yang diajar bukanlah mata pelajaran terkait agama Islam tentu semakin menegaskan betapa sekulernya cara pandang demikian. Karena sejatinya konsep Islam terintegrasi dalam seluruh aspek pembelajaran dalam Islam.

Guru berperan besar dalam membentuk kepribadian Islam kepada para murid. Pada masa Kekhilafahan Islam, keberadaan guru sangatlah diperhatikan sebab peran strategis ini. Guru diarahkan untuk tidak sekadar menguasai bidang keilmuann tertentu, tetapi juga berkepribadian Islam, berakhlak yang mulia serta memiliki jiwa kepemimpinan . Atas kompetensi ini guru akan mampu membimbing murid menjadi sosok yang shalih, menguasai tsaqafah Islam dan sains serta menjadi pemimpin orang yang bertakwa.

Keshalihan guru atas dasar iman kepada Allah SWT akan terpancar kepada muridnya. Dalam sejarah kegemilangan Islam kita dapati bagaimana peran besar Syeikh Aaq Syamsuddin dalam membentuk kepribadian Muhammad Al Fatih hingga mampu menaklukkan Konstantinopel. Dorongan keimanan yang kuat akan terwujudnya bisyarah Rasulullah SAW senantiasa dikokohkan oleh Syeikh Aaq sebagai salah satu guru Muhammad Al Fatih. 

Ironisnya, saat ini kaum Muslim justru mencoba mengaburkan peran guru dalam membentuk generasi Islam. Umat Islam digiring pada opini moderasi yang mencukupkan pada kesamaan peran guru sebatas sebagai pemberi informasi. Guru tidak lagi dipandang penting dari sisi pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian anak didik. Keberadaan aqidah pada sosok guru justru dinilai sebagai penyebab ekslusivitas. Aqidah Islam dianggap tidak mengakomodir keyakinan di luar dari Islam sehingga dapat memicu intoleransi.  Karenanya konsep moderasi hadir guna membangun pemahaman Islam yang lebih inklusif.

Konsep moderasi hanya akan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam yang benar. Moderasi mengaburkan makna pentingnya kita untuk kembali kepada syariat Allah yang kaffah. Melalui semangat moderasi umat juga diharapkan tidak lagi antipasti dengan segala yang “berbau” barat seperti paham liberalisme, seklerisme dan permisivisme. Tentu setiap Muslim sangat berkepentingan menyelaraskan kehidupannya dengan Islam. Muslim juga seharusnya membersihkan setiap ide dan konsep yang bertentangan dengan aqidahnya, termasuk moderasi.[]

Oleh: Ummu Hanan
(Aktifis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar