Sadarilah Potensimu, Wahai Umat Besar


Pengguna aplikasi pesan singkat WhatsApp boleh sedikit lega. Pasalnya, perusahaan teknologi komunikasi tersebut akhirnya menunda kebijakannya untuk membagi data pribadi pelanggan dengan Facebook yang kini telah menjadi induk perusahaannya. 

Dilansir dari CNNIndonesia, 14/1/2021, kebijakan yang semula direncanakan berlaku mulai 8 Februari 2021 itu pun ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Penundaan tersebut disinyalir karena kekhawatiran pihak WhatsApp bahwa pelanggan akan meninggalkannya dan beralih ke aplikasi pesan singkat yang lain.

Sebagaimana diketahui, sejak WhatsApp menerbitkan kebijakan privasi baru yaitu membagi data atau informasi pelanggan kepada Facebook, berbagai kritikan datang. Sejumlah pihak mengkhawatirkan keamanan data-data pribadi mereka yang rentan disalahgunakan dan beramai-ramai mengajak pengguna yang lain untuk beralih aplikasi.

Salah satu aplikasi yang dilirik oleh mereka adalah BiP buatan Turki. BiP dinilai lebih aman dalam menjaga privasi data pelanggan. Tak heran jika kemudian aplikasi ini mengalami lonjakan pengguna di berbagai negara. Sambutan yang cukup besar terjadi di negara bagian delta Asia Selatan terutama Bangladesh. Tak hanya di Bangladesh, antusiasme tersebut ternyata juga datang dari pengguna di Indonesia. 

Dikutip dari Portal Islam.ID, 19/1/202, BiP telah mencatat jumlah total pengguna sebanyak 50 juta orang yang tersebar di 192 negara. Meskipun belum sebanyak pengguna Telegram yang mencapai 500 juta atau WhatsApp sendiri yang tembus 2 miliar pengguna, tetapi keberadaan BiP lumayan di perhitungkan sejak kebijakan baru WhatsApp.

Ancaman boikot dari pelanggan ini ternyata cukup manjur untuk membuat sebuah perusahaan berskala global seperti WhatsApp "mengalah" dengan menunda kebijakannya. Ini menunjukkan bahwa sikap dan suara tegas masyarakat memiliki kekuatan tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Terlebih suara umat Islam yang saat ini memiliki jumlah penganut mencapai 1,9 miliar berdasarkan data Pew Research Center 2020.

Maka, umat Islam harus menyadari potensi besar yang dimilikinya. Meskipun kondisinya saat ini umat Islam belum memiliki kepemimpinan politiknya sendiri yaitu sistem Islam, tetapi sikap tegas dan konsisten berpegang teguh pada ajaran Islam akan mampu menggentarkan musuh-musuhnya. 

Sebagai contoh, ketika umat Islam bersatu dengan berani memutus ketergantungan pada korporasi kapitalis global dengan meluncurkan BiP misalnya, maka hal itu ternyata mampu menggertak perusahaan teknologi raksasa dunia setingkat WhatsApp. 

Namun, sayangnya saat ini umat Islam masih tercerai berai tidak bersatu. Umat Islam masih berserak dalam sekat negara bangsa dengan banyak kepentingan masing-masing. Sehingga yang terjadi hari ini, umat Islam pun masih mudah didikte oleh penguasa kapitalis global baik dari segi ekonomi maupun politik.

Rasulullah Saw. telah mengingatkan dalam sabdanya,  "Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang menyerbu makanan di atas piring. "Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "cinta dunia dan takut mati." (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud). 

Oleh karenanya, saatnya umat Islam bersatu. Bersama-sama bahu membahu mewujudkan satu kepemimpinan global yaitu sistem Islam. Dalam sistem Islam yang disebut dengan Khilafah Islam, umat Islam akan memiliki kekuatan untuk bangkit, berdiri di bawah kaki sendiri. Yaitu dengan menjadikan syariat Islam sebagai landasan bagi sistem politik maupun ekonominya. 

Dengan demikian, umat Islam akan mampu menjadi umat yang mandiri, tidak mudah dikendalikan oleh sistem kapitalis ataupun yang lainnya. Sebagaimana dulu yang pernah terjadi di masa Rasulullah Saw. dan kekhilafahan setelahnya selama kurang lebih 1300 tahun, Islam telah terbukti mampu memimpin peradaban dunia.Tentu saja ketika Islam diterapkan sebagai pengatur dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu'alam bish shawab.[]

Oleh: Ana Mujianah, S. sos.I

Posting Komentar

0 Komentar