Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga: Jilbab bagian Perintah Allah, Tujuannya Takwa



TintaSiyasi.com-- Menanggapi keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang tidak membolehkan sekolah mewajibkan seragam jilbab, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga Dra (Psi). Zulia Ilmawati mengatakan, jilbab itu bagian perintah Allah SWT, tujuannya untuk bertakwa.

“Jilbab itu bagian dari perintah Allah, salah satu perintah Allah bagi perempuan yang sudah baligh untuk menutup aurat. Kalau kita kembalikan pada tujuan pendidikan nasional, sebetulnya fine-fine aja, enggak ada masalah. Karena tujuannya untuk beriman dan bertakwa", ujarnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (12/2/2021).

"Apalagi ini lembaga pendidikan yang jelas tujuannya untuk mendorong anak didik dan seluruh civitas akademika yang di dalamnya itu bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa,” tandasnya. 

Ia mengatakan, menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Ia menjelaskan, membentuk anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah poin penting dalam tujuan Pendidikan Nasional. Ia mengatakan, manusia bertakwa ditandai dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. 


Semestinya Didukung

Ia mengatakan, aturan seragam jilbab tersebut semestinya didukung, karena merupakan implementasi dari tujuan pendidikan nasional.

"Mestinya didukung, karena ini bagian dari mengimplementasikan tujuan pendidikan nasional itu sendiri, membentuk manusia yang bertakwa," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan dalam menyikapi polemik seragam jilbab itu tergantung pada cara pandang yang dipakai. Jika menggunakan cara pandang Islam, aturan seragam jilbab justru baik karena mendorong siswi muslimah untuk taat kepada perintah Allah. Namun, jika menggunakan cara pandang yang bukan dari Islam, maka yang terjadi justru sebaliknya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, perlu adanya aturan jilbab yang diterapkan melalui 3 pilar:

 naneimanan individu, yakni setiap individu menjalankan aturan (jilbab) karena kesadaran sendiri. Kedua, harus ada semacam lembaga yang terkesan "memaksa" untuk sebuah kebaikan. Dalam hal ini sekolah memberlakukan seragam jilbab yang dipatuhi oleh siswi muslimah. Ketiga, pelaksanaan aturan jilbab oleh negara.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, lembaga pendidikan (sekolah) adalah bagian yang tidak terlepas dari lingkungan sosial anak yang turut andil dalam membentuk anak-anak menjadi lebih baik, beriman, dan bertakwa. Sehingga aturan seragam jilbab seharusnya dipandang positif.

"Kalau ini menjadi cara kita dalam membentuk anak menjadi lebih baik, menutup auratnya, tidak memberi rangsangan kepada yang lain untuk aktivitas-aktivitas maksiat, tentu harus dipandang dengan cara pandang positif,” pungkasnya. [] Nurwati

Posting Komentar

0 Komentar