Prof. Din Syamsuddin Korban Islamofobia Kaum Sekuler Radikal?

Di tengah suasana wabah corona dan banyaknya musibah yang melanda tanah air, publik kembali dibuat gaduh. Ya, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. DR. Drs. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA. (Din Syamsuddin) dilaporkan ke KASN atas dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku terkait radikalisme.

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) Agus Pramusinto. Beliau mengaku telah melimpahkan laporan dugaan radikalisme itu ke Kementerian Agama (Kemenag), dan juga diteruskan ke Satuan Tugas Penanganan Radikalisme ASN.
"KASN meneruskan aduan tersebut kepada Satgas Penanganan Radikalisme ASN dan Kementerian Agama sebagai instansi induk tempat Pak Din Syamsuddin," kata Ketua KASN, Agus Pramusinto kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (13/2).

Prof. Din diduga telah melanggar kode etik sebagai ASN terkait sejumlah pernyataan dan tindakannya dalam dua tahun terakhir. Di antaranya mengenai putusan Mahkamah Konstitusi terkait putusan hasil sengketa Pilpres 2019 dan kiprahnya di KAMI. KAMI atau Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia dikenal kritis terhadap rezim Joko Widodo. (cnnindonesia.com, 15/02/21)

Benarkah Prof Din itu radikal? Mengapa beliau dilaporkan? Terkait hal tersebut, penulis memberikan tiga catatan penting sebagai berikut:

Pertama, Sosok Santun dan Intelek yang dituding Radikal. Siapa pun yang pernah berinteraksi dengan beliau tentu paham karakter Prof. Din, sangat lembut dan santun. Sepanjang interaksi dengan beliau, Penulis melihat sosok beliau itu santun dan intelek. Sangat jauh dari kesan kekerasan.

Lalu, kenapa dituding dan difitnah radikal? Jawabannya, ada dua kemungkinan; 1) penuding dan pemfitnah itu tidak kenal beliau. 2) mungkin kenal sosok beliau namun ada motif lain sehingga tega memfitnahnya. Tentu banyak pihak yang tak percaya dan menolak jika Prof. Din dituding radikal. Namun terkadang tudingan itu sudah cukup membuat gaduh dan merugikan yang dituding.

Kedua, Terpapar Virus Islamofobia. Fitnah dan tudingan yang menimpa tokoh islam Prof. Din, patut diduga dilakukan oleh mereka yang sudah terpapar virus islamofobia. Apa itu islamofobia?

Istilah Islamofobia sudah ada sejak sekitar tahun 1980-an. Semakin populer pasca peristiwa-911, saat ambruknya gedung WTC pada 11 September 2001.  Islamofobia dimaknai sebagai prasangka, diskriminasi, ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim. 

Munculnya penyakit islamofobia ini diawali dari Prasangka alias dugaan-dugaan. Dari prasangka buruk (buruk sangka) itulah muncul ketakutan yang tak perlu. Semestinya ini bisa diselesaikan jika mau tabayun (konfirmasi dan klarifikasi). Sayangnya ada sebagian yang tidak mau klarifikasi dan tetap hidup dengan prasangka buruk terhadap islam. Dari Prasangka buruk ini kemudian meningkat menjadi kebencian dan akhirnya memusuhi tanpa sebab yang jelas.

Ketiga, Sebagian besar pengidap Islamofobia hanyalah Korban Narasi. Tak semua Islamofobia memfitnah dan menyerang. Sebagian besar pengidap penyakit islamofobia hidup dengan prasangka buruk terhadap islam tanpa berusaha mengklarifikasi. 

Kelompok yang terpapar islamofobia dapat kita pilah menjadi tiga; 1) Sekuler pasif, 2) Sekuler liberal, 3) Sekuler Radikal. Kalangan sekuler pasif, biasanya diam saja. Mereka tidak membuat gaduh, yang penting tidak terganggu. Sedangkan kalangan sekuler liberal kebanyakan melakukan kajian terhadap ajaran-ajaran islam lalu melakukan kritik atas ajaran-ajaran itu dengan menawarkan paham sekuler dan liberal. Di sisi lain kalangan sekuler radikal inilah yang menyerang islam dan umatnya. 

Namun disaat yang sama ada musuh-musuh islam terus memproduksi narasi-narasi kebencian terhadap islam. Narasi inilah yang memasuki alam pikiran para pengidap penyakit islamofobia sehingga mereka semakin takut dan semakin benci kepada islam dan umatnya tanpa ada upaya klarifikasi.

Kaum sekuler radikal yang terpapar virus islamofobia inilah yang kemudian membenci, memusuhi dan menyarang islam. Ada tiga yang diserang; 1) ajaran-ajaran Islam, 2) Simbol-simbol islam, 3) tokoh-tokoh islam dan umatnya.  Kaum sekuler radikal ini hanya sebagian kecil saja, jumlahnya tak banyak. Namun mereka menyerang islam, baik dari sisi ajaran, simbol dan tokoh-tokoh islam. Mereka inilah yang bertindak radikal dengan memfintah dan melaporkan tokoh-tokoh Islam. 

Cara paling terbaik adalah mengajak dialog dan membangun pemahaman bersama agar tak terjadi salah paham. Dialog dan diskusi bisa dilakukan dengan kelompok sekuler pasif maupun islam sekuler. Namun yang sulit adalah mengajak dialog kaum sekuler radikal. Akan lebih sulit lagi jika mereka berkolaborasi dengan kepentingan politik dan  kekuasaan.

Semoga sesama anak negeri ini semakin kompak dan tidak saling lapor-melaporkan. Semakin sedikit yanag mengidap islamofobia. Lalu, jika ada prasangka dan hal yang belum jelas bisa segera ada dialog agar bisa saling memahami dan tidak mudah diprovokasi kaum sekuler radikal dan pihak lainnya. Tabiik.[]

Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute)

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Posting Komentar

0 Komentar