Presiden Minta Dikritik, Dosol Uniol 4.0: Wajah Politik Hipokrit



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pernyataan Presiden Jokowi minta rakyat lebih aktif mengkritik pemerintah, Dosen Online (Dosol) Universitas Online (Uniol) 4.0 Diponorogo dan Analis Politik dan Media Puspita Satyawati menilai sebagai wajah politik hipokrit. 

"Pernyataan minta rakyat lebih aktif mengkritik pemerintah menunjukkan kekuasaan berwajah hipokrit," tuturnya dalam Kuliah Online di WAG Uniol 4.0 Diponorogo, Ahad (14/2/2021).

Ia mengungkapkan, pernyataan presiden di satu sisi menunjukkan pesan positif untuk bersedia dikritik. Namun di sisi lain, faktanya terus menangkap atau menghantam pihak yang lantang mengkritik kekuasaan.

“Dalam politik negara, komitmen kepada rakyat adalah hal utama. Memainkan politik muka dua sejatinya sama saja dengan bentuk hipokrisi politik," katanya. 

Ia menjelaskan, hipokrisi selalu menumbuhkan sikap politik plin-plan dan mencla-mencle. "Esuk dhele, sore tempe. Bahkan, dalam bertindak tidak segan menempuh penghalalan segala cara demi kepentingan diri dan kelompoknya,” tandasnya.

Ia menilai, pada taraf ini hipokrisi politik tentu berbahaya. Padahal politisi merupakan ujung tombak dalam membela kepentingan rakyat. "Pada merekalah rakyat berharap dan menitipkan aspirasi (amanah) untuk diperjuangkan. Namun bagaimana jadinya bila amanah itu dikhianati?" tanyanya. 

Ia menyampaikan bahwa permainan politik jenis ini adalah kejam. "Kekejaman politik bermuka dua adalah menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan untuk menumbuhkan harapan dan citra positif di mata rakyat. Sedangkan subtansinya adalah demi keuntungan pribadi dan kelompoknya belaka,” bebernya.

Ia menduga, politisi hipokrit seakan memiliki keahlian lain dalam menampilkan dirinya di depan setiap orang. Kepiawaian mereka bertutur kata manis dan bertopengkan seribu wajah tidak diragukan. 

"Mereka sering menampilkan topeng wajah kebaikan yang mendatangkan tepuk tangan meriah dan kekaguman. Padahal sesungguhnya itu hanyalah tipuan," ujarnya.

Ia mempertanyakan, jika yang terjadi seperti ini, mungkinkah pernyataan presiden akan mendapatkan respon positif dan diamini oleh rakyat. 

"Sebenarnya masyarakat tidak segan menyampaikan kritik kepada pemerintah. Namun, masyarakat sudah lebih dulu hidup dalam ketakutan. Diduga, kita tengah dalam fase masyarakat jeri atau mengalami keengganan menyampaikan pendapat akibat eksisnya regulasi yang membatasi kebebasam berekspresi,” pungkasnya [] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar