Potensi Dinar Dirham

Viral, Zaim Saidi sebagai pelopor transaksi menggunakan dinar berujung penangkapannya oleh Bareskrim Polri pada Selasa (2/2/2021). Penyebabnya, Zaim pelopor pasar muamalah Depok ini menggagas transaksi jual beli menggunakan dinar dan dirham. Aktivitas ini dianggap ilegal oleh negara.

Zaim dianggap melanggar ketentuan yang diamanatkan UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang yang diberlakukan NKRI.  Pada Pasal 23 B UUD 1945 jo. Pasal 1 angka 1 dan angka 2, Pasal 2 ayat (1) serta Pasal 21 ayat (1) UU Mata Uang disebutkan rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di NKRI.

Pasal ini mengatur setiap transaksi yang mempunyai tujuan pembayaran dan dilakukan di wilayah NKRI wajib menggunakan rupiah. Jika tidak, akan diancam pidana yang cukup berat berupa kurungan penjara dan denda ratusan juta rupiah.

Berbeda dengan Bank Indonesia, Zaim Saidi sendiri menganggap bahwa apa yang dilakukannya tidak melanggar peraturan Bank Indonesia. Alasannya dinar dan dirham bukan merupakan uang kertas seperti mata uang lainnya. Zaim menjelaskan bahwa dalam UU Mata Uang, tidak diperbolehkan penggunaan mata uang lain seperti dolar, yen dan sebagainya sebagai alat transaksi di wilayah NKRI. Namun dinar dan dirham termasuk dalam kategori perhiasan. Dinar dan dirham merupakan aset berharga. Prinsip transaksi yang dilakukan di pasar Depok tersebut juga bukan jual beli dalam bentuk mata uang, melainkan barter berdasarkan kesepakatan. 

Dalam sejarah, emas dan perak telah digunakan sebagai alat transaksi tukar seperti uang sejak zaman sebelum Islam datang. Penggunaan emas dan perak sebagai alat barter ini telah ada di awal peradaban manusia. Pada periode 570-546 sebelum Masehi, Bangsa Lydia telah menggunakan emas dan perak sebagai alat transaksi. Kemudian bangsa Yahudi dan Yunani mengikuti jejak tersebut.

Di zaman Rasulullah SAW,  juga menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksinya. Perekonomian dalam daulah Islam adalah aspek yang ditangani secara serius melalui lembaga pengelola keuangan baitul mal. Koin emas dan perak menjadi mata uang resmi hingga jatuhnya Kekhilafahan Utsmaniyah. Bahkan, Indonesia juga mencetak dinar dan dirham.

Dilansir pada laman wikipedia, bahwa Dinar IMN adalah yang pertama kali memperkenalkan dan mencetak dinar dan dirham di Indonesia pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2010, IMN mengeluarkan hasil penelitian sejarah, fikih dan timbangan mitsqal yang di ikuti dengan Fatwa Atas Berat dan Kadar Untuk Dinar dan Dirham. Hasil penting ini adalah menyatakan dinar dan dirham adalah murni, 1 mistqal adalah 4.44 gram (1/7 troy ounce) dan 1 dirham adalah 3.11 gram (1/10 troy ounce).

Masih dari wikipedia, Logam Mulia Nusantara adalah grup usaha pengembang dinar dan dirham di Indonesia yang memiliki unit-unit atau jejaring bisnis meliputi: Angsa Emas yang mengedarkan emas batangan, Dholtinuku sebagai jaringan toko emas di seluruh Indonesia, Sillaturrahim Emas sebagai jaringan pengusaha, pedagang, pengembang yang menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi dan investasi dan melakukan berbagai pelatihan penggunaan dinar dan dirham. Itu artinya dinar dirham telah dikenal dan digunakan Indonesia.

Jika demikian, tidak ada yang salah dengan Zaim Saidi pelopor dinar dan dirham sebagai alat barter di pasar muamalah Depok.
Jika alasan mengapa rupiah harus menjadi mata uang wajib yang dipakai pada setiap transaksi, BI menegaskan terkait kedaulatan, alasan ekonomi, hingga stabilitas sistem keuangan nasional, maka semestinya mata uang emas dan perak dalam hal ini dinar dirham bisa menjadi solusinya.

Hal itu karena nilai emas dan perak memiliki nilai yang stabil. Seharusnya ini justru menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menghadapi perekonomian negeri yang semakin terpuruk. Kekhawatiran pemerintah terhadap dinar dirham akan terjadinya kerusakan ekonomi tidak beralasan. Sejatinya kerusakan ekonomi Indonesia terjadi karena kelemahan bawaan dari penerapan fiat money yang membuat mata uang rupiah terus mengalami inflasi.

Tindakan Zaim Saidi seharusnya menjadi renungan untuk melakukan terobosan baru menekan inflasi dan kembali bangkit. Selain itu, Indonesia memiliki potensi alam luar biasa dengan tambang emas dan perak yang tidak dimiliki negara lain. Dengan mengelola tambang secara mandiri oleh negara, seharusnya Indonesia menjadi semakin berdaulat dan memiliki keuangan yang stabil. 

Peran negara dalam mengambil kebijakan dengan memberlakukan dinar dan dirham, dapat menjadikan Indonesia kaya yang bebas hutang luar negeri. Kebijakan ini hanya dapat dilakukan oleh kepemimpinan Islam. Sedangkan kepemimpinan tersebut dapat terbentuk pada daulah khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah. Wallahu a’lam bish showwab.[]
  
Oleh: R. Raraswati
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar