Polemik Seragam Jilbab, KH Hafidz Abdurrahman: Jilbab bagian Solusi Islam



TintaSiyasi.com-- Menanggapi polemik seragam jilbab beberapa waktu lalu, Khadim Syarafaul Haramain KH Hafidz Abdurrahman mengatakan, jilbab merupakan bagian dari solusi Islam untuk permasalah naluri manusia.

"Tetapi ini (menutup aurat) adalah persoalan yang terkait dengan masalah manusia, manusia itu mempunyai problem terkait dengan naluri seksual, laki-laki tertarik kepada perempuan, perempuan tertarik pada laki-laki, maka Islam menurunkan solusi (yaitu jilbab)," tuturnya Forum Afkar, di kanal YouTube Khilafah Channel, Senin (25/1/2021).

Menurutnya, persoalan menutup aurat dan membuka aurat ini bukan semata-mata persoalan menutup aurat dan membuka aurat, "ini bukan semata-mata persoalan terkait dengan Islam dan non Muslim, apalagi dibawa pada isu HAM karena ada pemaksaan."

Ia mengatakan, "sebagian kalangan yang melihat dari perspektif HAM (Hak Asasi Manusia). HAM ini dilihat berdasarkan sudut pandang yang tentu dasarnya bukan akidah Islam." 

Karena itu, ia mengatakan, ketika melihat persoalan diharuskan memakai jilbab, sedangkan dia non Muslim atau bahkan musyrik dengan perspektif HAM yang dipakai untuk menghukumi atau menjadi patokan, menjadi standar tertentu, "akan berbeda dengan ketika kita melihat atau menghukumi atau menilai dengan menggunakan patokan akidah."

Menurutnya, Islam datang sebagai solusi dalam kehidupan yang dibangun dengan cara pandang akidah Islam, "maka yang harus dilihat Islam itu adalah solusi untuk manusia, bukan solusi untuk si Ahmad, si Muhammad, si Fulan atau solusi untuk laki-laki, tidak untuk perempuan, untuk perempuan, tidak untuk laki-laki." 

"Tapi Islam ketika memberikan solusi untuk manusia, maka solusi itu berlaku untuk semuanya tanpa melihat agamanya apa," tegasnya.

Ia mengatakan, jika dilihat dalam konteks dan perspektif seperti saat ini, zina pintunya ditutup, zina diharamkan, kehormatan perempuan dijaga, kemudian pintu-pintu menuju ke arah perzinaan ditutup, "larangan berkhalwat, kemudian larangan nadhar bil syahwat (memandang dengan syahwat) dan sebagainya semua ditutup, ada perintah kepada laki-laki untuk menundukan pandangan dan sebagainya." Jika aturan Islam dipakai untuk menyelamatkan hidup mereka, baik Muslim maupun non Muslim, ia mengatakan, tentunya kesucian mereka akan terjaga, tanpa melihat agama mereka apa.

"Seolah-olah Islam itu hanya khusus untuk Muslim sedangkan untuk non Muslim itu tidak mendapatkan rahmat? Tidak! Islam itu rahmatan lil'alamin, Muslim maupun non Muslim, ketika Islam diterapkan sama-sama mendapatkan rahmat," bebernya.

Menurutnya, rahmat yang dimaksud dalam konteks di atas adalah terwujudnya kemaslahatan dan tertolaknya kerusakan, "itulah yang disebut dengan rahmatan lil'alamin."

Menurutnya, syariat Islam diterapkan sebagai suatu solusi, maka kerusakan akan bisa dicegah dan kemaslahatan bisa diwujudkan. "Itulah yang membedakan Islam dengan akidah dan perspektif tadi dengan cara pandang HAM yang dibangun dengan akidah sekuker yang memisahkan agama dengan kehidupan," pungkasnya.[] Rina Yulistina

Posting Komentar

0 Komentar