Polemik Pernikahan Dini, Butuh Edukasi Syar’i


Pernikahan adalah menyatukan dua insan dalam satu ikatan, bahkan menyatukan dua keluarga dengan perbedaan latar belakang. Pernikahan memang bukan atas dasar tuntutan atau perlombaan, karna menikah merajut harap dalam kehidupan maka tidak jarang pernikahan ideal menjadi tujuan kebahagiaan, untuk itu dibutuhkan kesiapan. Namun apa indikator siap yang menjadi acuan?

Pernikahan dini di Indonesia masih tinggi di tingkat Asean dengan perbandingan negara lain, fakta ini disampaikan I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ia mengajak masyarakat untuk mendukung pencegahan pernikahan dini dengan melibatkan seluruh elemen bahkan media, karena sinergitas gerakan bersama akan memudahkan penyelesaian, begitu tuturnya dalam media gathering Kemen PPPA. (kompas.com, 11/02/2021)

Kampanye pencegahan pernikahan dini bermula dari salah satu wedding organizer dengan nama brand Aisha Weddings yang mempromosikan pernikahan dini dan mengajak perempuan menikah muda, namun ternyata pernyataan itu dianggap oleh Menteri PPPA melanggar aturan yang diberlakukan yaitu UU Perlindungan Anak, UU Perkawinan Anak, dan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang. Bahkan kasus ini sudah masuk dalam jalur hukum, situs resmi WO tersebut bahkan di blokir oleh Kemenkinfo (cnnIndonesia, 11/2/2021).

Sementara itu, dalam upaya pencegahan pernikahan dini, sejak tahun 2019, KemenPPPA sudah menginiasi gerakan bersama pencegahan pernikahan anak usia dini. Karena telah banyak kasus kekerasan serta eksploitasi hak dan kewajiban yang terjadi pada pernikahan usia remaja. Upaya pemerintah dengan pihak terkait melakukan gerakan sosialisasi dan pencegahan pernikahan anak usia dini bahkan pada tingkat desa, dengan acuan UU Republik Indonesia No. 1/1974 pasal 7, jika sebelumnya minimal usia perempuan 16 tahun kini menjadi 19 tahun yang terdapat pada UU No. 16/2019. (merdeka.com, 11/02/2021)


Eksploitasi Tidak Pernah Habis Selama Asas Kebebasan Kapitalis Eksis

Dalam target prioritas nasional terkait perempuan dan anak, pemerintah bekerjasama dengan United Nations Population Fund (UNFPA), mengurai program berjangka lima tahun ini fokus pada isu sensitif yang memuat program-program diantaranya penurunan angka kematian ibu, penyelenggaraan kesehatan ibu dan Keluarga Berencana yang terintegrasi, peningkatan potensi anak muda dan kespro remaja, penurunan kekerasan dan praktik-praktik berbahaya terhadap perempuan dan anak, serta data kependudukan yang terintegrasi.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, mengatakan mendukung program tersebut. Harapannya 10 tahun kedepan Indonesia mencapai visi Tiga Tujuan Transformatif (Three Zeros). Yaitu menghapuskan kematian ibu yang bisa dicegah, kebutuhan Keluarga Berencana yang tidak terpenuhi, dan kekerasan berbasis gender serta praktik-praktik berbahaya terhadap perempuan dan anak.

Jika ditelusuri lebih detail, sejatinya kekerasan dan eksploitasi yang terjadi bukan karena minimnya pemahaman, tidak pula karena kurangnya penyuluhan sehingga tidak ada langkah pencegahan. Namun masalah ini melibatkan berbagai sudut pandang dan bidang. Pencegahan pernikahan dini sampai ke lini tingkat terkecil seperti di desa, tidak akan mampu menekan penurunan angka.

Karena sumbu masalah yang menyebabkan terjadinya eksploitasi tidak lain asas kehidupan dan dasar dari lahirnya sebuah kebijakan hari ini. Asas kehidupan akan menentukan cara pandang dalam penyelesaian masalah. Kehidupan yang serba bebas dengan rincian kebebasan yang diberlakukannya menjadikan hal tabu tersebut hadir ditengah publik. Bebas berperilaku, bebas berkeyakinan, bebas berpendapat dan bebas hak milik. Empat asas kebebasan ini menjadikan usia remaja yang merasa ingin bebas justru terfasilitasi. 

Kehidupan hedonisme turut mendukungnya. Kedaulatan ditangan rakyat menjadi tumpuan harapan bahwa kesejahteraan akan lahir jika pengaturan yang diserahkan kepada rakyat sebagai pelakunya. Itu semua lahir dalam aturan demokrasi liberal. Menjadikan manusia bebas membuat aturan. Inilah sifat asli demokrasi yang hadir atas dukungan idealisme kapitalis dengan asas manfaat termasuk fasilitas pemberlakuan adanya kebebasan. 

Bahkan dalam kebijakan politiknya dengan slogan politik bebas aktif menjadikan kebijakan diberlakukan justru ketika masalah sudah datang. Hal ini tentu akan semakin susah, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan memang perlu dengan berbagai pemberlakuan aturan yang didesign untuk mengarahkan. 

Namun, sekat kebebasan justru susah ditumbangkan dengan pencegahan yang lahir hanya solusi parsial sebagai penanganan sementara dan bisa jadi ajang coba-coba pemberlakuan aturan, jika tidak sesuai maka akan diganti dengan aturan lain yang dianggap lebih peting dalam menyelesaikan, pemberlakuan solusi untuk mengudang masalah baru lagi.

Kunci pemberantasan kekerasan dan eksploitasi tidak lain dengan menyingkirkan kebebasan dan asas manfaat, yaitu kehidupan kapitalis global yang selama ini merenggut fitrah manusia. Pergaulan bebas, kebebasan media dan informasi, standar kepemilikan yang menghadirkan kesenjangan, kegiatan ekonomi yang tidak menyehatkan, pendidikan yang jauh dari dambaan karena kurikulum yang diberlakukan justru menjadi beban biaya kehidupan yang tidak ada penjaminan sudah cukup menguras habis kewarasan. 

Maka asas kehidupan yang melahirkan pemberlakuan aturan hari ini harus dilenyapkan, asas sekuler kapitalis yang tertuang dalam demokrasi liberalis. Menggantinya dengan menghadirkan aturan yang mampu meyelamatkan kehidupan dari kerakusan dan kerusakan hedonisme, menjadikan standar kehidupannya sebatas kesenangan dirinya. Termasuk dalam ranah pemerintahan juga bagaimana pertanggungjawaban hanya sebatas legalitas semata bukan atas kesadaran. 

Asas sekulerisme yang merupakan paham yang memisahkan agama dan kehidupan dunia, lahir daripada dataran eropa. Dalam buku virus fikrah melemahkan ketahanan umat karya Nabil bin Abdurrahman Al Muhaisy menjelaskan bahwa ajaran sekulerisme sangat berbahaya bagi kaum muslim karena memutuskan hubungan kehidupan manusia dengan aturan diinul Islam.

Dalam buku tersebut juga menjelaskan bagian dari pada penyusupan virus fikrah dalam bidang adat istiadat yang berpengaruh pada kehidupan sosial, mereka menyasar para wanita untuk meninggalkan rumah menuju pekerjaan, menjadikan peran terbengkalai dan terabaikannya peendidikan, kasih sayang, nasihat serta bimbingan dari sinilah kenakalan remaja dan tindakan kriminal menigkat. Agenda besar dengan memberikan gaya hidup ala Barat yang menjadi acuan.


Sistem Islam Memiliki Solusi Preventif dan Komplit sebagai Penyelesaian Masalah Berbelit

Islam pernah menduduki kejayaan hingga peradaban lain hari ini tidak ada yang mampu mengalahkannya, 13 abad lamanya hampir 2/3 dunia dibawah naungannya, usaha yang sia-sia jika hanya ingin menguburkan perjalanan sejarah, karena dunia telah mengakuinya. 

Keruntuhan saat itu hingga hari ini tertinggal puing-puing keimanan, serta usaha musuh Islam memadamkan cahaya kegemilangannya sudah dimulai sejak lama, menyasar bidang peradaban dan sejarah dengan penyelewengan, pemalsuan, pengaburan fakta, para pemikir barat orientalis berusaha keras melemahkan kekuatan Islam hingga melalui media informasi untuk menghancurkan norma dan budaya kaum muslim. Dari sinilah semua umat menuju gerbong kehancuran mental, moral, etika sosial, sikap brutal, membangkang. Hilang sifat jujur, khanif, tertib, sopan santun semua menguar bersama kebebasan . 

Sejak saat itu konsep Islam dalam aturan kehidupan hilang tertinggal jejak dalam benak termasuk masalah eksploitasi dan kekerasan yang terjadi , karena minimnya iman jauhnya dari konsep penghisaban bahkan diperdayakan dunia. Padahal sejatinya sebagai suatu sistem yang terbangun atas dasar aqidah dan aturan berupa syariat islam layak dijadikan solusi permasalahn hidup termasuk dalam permasalahan hari ini. 

Padahal sejatinya telah menceritakan kepada [Abu Mu’awiyah] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu memikul beban (rumah tangga), maka menikahlah. Karena sesungguhnya, pernikahan itu lebih menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan, barangsiapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai ( akan meredakan gejolak hasrat seksual).” (HR Muslim).

Hukum pernikahan adalah sunah. Dalam Al Quran, Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. ”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” (QS An Nur: 30-31).

Islam memiliki aturan preventif. Dalam aktifitas sosial mengarahkan jika di luar pernikahan atau belum sanggup menikah, maka wajib menjaga pandangan dan kemaluan. memerintahkan baik kepada laki-laki maupun wanita agar menundukkan pandangannya serta memelihara kemaluannya, memerintahkan kaum laki-laki maupun kaum wanita agar menjauhi perkara-perkara yang syubhat, dan menganjurkan sikap hati-hati agar tidak tergelincir dalam perbuatan maksiat kepada Allah.

Sistem sosial dalam negara dibawah naungan Islam mengharuskan interaksi di masyarakat harus terjaga keamanan hubungannya. Hal ini perlu dukungan dengan pendidikan berbasis kurikulum dan mutu terbaik. Jaminan sistem ekonomi yang tidak mencekik karena atas dasar penjaminan bahkan ditopang sistem keamanan melalui dapertemen penerangan sebagai pertanggungjawaban atas informasi yang beredar. Ditambah dengan politik keamanan dalam dan luar negeri yang menjaga iman dan umat.

Pembatasan usia pernikahan jelas bertentangan dengan syariat Islam. Bahkan kebijakan ini condong kepada kepentingan politik global yang bertujuan mengurangi populasi penduduk muslim. Pelarangan pernikahan dini yang diiringi dengan kampanye kesehatan reproduksi remaja dengan klaim berbagai macam bahaya kehamilan di usia dini, jelas akan mengurangi waktu yang memungkinkan hamil.

Selain itu ada tujuan lain yang sarat dengan kepentingan ekonomi kapitalis. Menjadikan generasi budak dunia dan kesenangan melalui fun, food, fashion. Mereka digiring untuk memenuhi kebutuhan konsumtifnya dengan bekerja terutama bagi perempuan. Bahkan tidak pernah ada peraturan yang melarang pergaulan bebas, yang ada justru melegalkan aborsi untuk memberi solusi kehamilan akibat pergaulan bebas.

Sungguh tidak masuk akal usia 19 tahun masih dianggap anak-anak (usia dini). Padahal mereka sudah matang secara reproduksi dan mental yang stabil apabila mereka mendapat pendidikan dan lingkungan yang baik. Semua itu tidak bisa dilakukan kecuali dalam sebuah negara yang mampu menerapkan syariat Islam, karna landasan hukum yang diberlakukan berdasarkan syariat. 

Dalam Islam, pernikahan dini tidak dilarang, bahkan bisa menjadi solusi menjauhkan anak-anak muda dari keburukan zina dan menjaga kehormatan mereka. Sehingga tidak dibutuhkan penyuluhan dna pencegahan, karena pengaturan dalam Islam mengharuskan dalam menunaikannya atas dasar keimanan kepada Pencipta, kebaikan-kebaikan akan tercipta dalam kehidupan di bawah naungan daulah Islam yag mampu menjaga dan menyelesaiakn semua problematika umat di dunia. Wallahu’alam bishshawwab.[]

Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani S.P
(Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar