Peternak adalah Pekerjaan Para Nabi


Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar kata ‘peternakan’? Kotor, ayam, kotoran, bau atau hal-hal negatif lain yang mungkin terlintas dalam pikiran. Itu sepertinya yang menjadi indikasi mengapa jurusan peternakan tidak sepopuler jurusan kedokteran atau teknik. Jurusan Peternakan di Indonesia menjadi kurang diminati, baik dalam jenjang perguruan tinggi maupun dalam skala kejuruan. Jurusan ini bisa jadi diidentikkan dengan profesi yang tidak akan mengangkat status sosial. Yang ada dalam bayangan, siapapun yang memilih jurusan peternakan tidak bisa berpakaian rapi dan wangi serta duduk santai di ruang kantor yang ber-AC. Badan Pusat Statistik Indonesia dalam laporannya di tahun 2020 menyebutkan bahwa sektor agriculture yang di dalamnya termasuk peternakan menjadi profesi informal dengan gaji terendah. Maka tak heran, sebagian masyarakat memandang sebelah mata jurusan peternakan. 

Padahal bidang peternakan memiliki potensi cukup tinggi jika dilihat dari sisi kebutuhan akan tenaga kerja. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris yang artinya sebagian besar matapencaharian penduduknya bergerak dibidang pertanian dan peternakan. Sedangkan data menunjukan bahwa pada tahun 2019, dari 264 juta penduduk Indonesia, yang masih berprofesi sebagai petani hanya 4 juta orang saja. 

Jika hal tersebut dibiarkan, maka kita tidak akan pernah mencapai swasembada pangan, Indonesia akan kehilangan jadi dirinya. Pola pikir masyarakat harus diubah, khususnya bagi mahasiswa agrokomplek yang tidak mau bekerja di bidang ini karena anggapan miring dari masyarakat. Pola pikir masyarakat dapat diubah salah satunya adalah dengan cara menanamkan kisah para nabi sedari kecil kepada anak anak, dan menyadarkan masyarakat khususnya para mahasiswa yang memiliki ilmu di bidang ini agar bangga dan mau berkontribusi secara langsung dalam mengembangkan sektor peternakan.

Allah SWT berfirman dalam al-Quran surat al-Mu’minun ayat 21 yang artinya: “Dan sesungguhnya pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan sebagian darinya kamu makan”

Di ayat di atas tersirat bahwa Allah SWT tidak saja menyuruh hamba-Nya untuk memanfaatkan hasil ternak tapi juga mempelajari hal-hal yang terdapat di dalamnya. Dengan menggali ilmu peternakan, kita bisa menggali lebih jauh tentang pengolahan pupuk biogas misalnya. Atau menganalisa gizi yang bisa dihasilkan dari susu sapi atau mempelajari cara pengolahan produk-produk hasil peternakan. 

Apabila kita melihat sejarah para nabi yang terdapat kaitan erat terhadap dunia peternakan. Bahkan Rasululah Muhammad saw pun pernah menyatakan di depan para sahabatnya bahwa: “Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing.” Mereka para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath (mata uang dinar, pen.) dari penduduk Mekah” (HR. Bukhari, no. 2262).

Dari (Fath Al-Bari, 4:441) dijelaskan bahwa ada beberapa faedah dari menggembala kambing dengan korelasinya di kehidupan nyata yaitu dari menggembala kambing kita dapat melatih kesabaran dan  belajar cara mengayomi hewan ternak. Juga disebutkan bahwa dari menggembala kambing kita terbiasa untuk menangani permasalahan (problem solving) yang nantinya akan membuat kita dapat menangani permasalahan umat yang lebih kompleks. Selain itu juga menggembala kambing membuat kita lebih tawaddu karna pekerjaan ini sering dianggap sebagai pekerjaan biasa.

Pemerintah dan masyarakat pun sudah saatnya melirik jurusan peternakan karena berbagai potensi yang bisa dikembangkan di dalamnya. Ketergantungan negeri ini untuk mengimpor berbagai produk olahan hewan ternak termasuk protein hewani mungkin bisa dihindari. Memberdayakan ahli-ahli di bidang peternakan bisa menjadi salahsatu usaha agar Indonesia bisa mewujudkan swasembada pangan kembali. Wa Allahu a’lam bi ash-shawab.[]

Referensi:

- Badan Pusat Statistik. 2020. Statistik Indonesia 2020. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia. 
- Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik Indonesia 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia.

Oleh: Sabna Balqist Budiman
(Penulis merupakan seorang mahasiswa Fakultas Peternakan di Universitas Padjadjaran)

Posting Komentar

0 Komentar