Perbaikan Ekonomi di Masa Pandemi, Demi Apa?


Dikutip dari kontan.id (9/2/2021), anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021 kembali membengkak. Teranyar, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meningkatkan pagu anggaran PEN di tahun ini menjadi Rp 627,96 triliun. Jumlah tersebut meningkat 1,31% atau Rp 8,13 triiliun dari alokasi anggaran pada akhir bulan lalu sebesar Rp 619,83 triliun. 

Pasalnya, anggaran PEN tahun ini telah dinaikkan sebanyak empat kali. Sebelumnya, pada awal Januari 2021 pagu anggaran PEN tahun ini hanya Rp 403,9 triliun. Kemudian, selang sepekan naik 31,8% menjadi Rp 533,08 triliun. Artinya, alokasi dana PEN teranyar telah meningkat 55,4% dari pertama kali dicetuskan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021.

Salah satu yang menjadi sorotan dalam kenaikan anggaran PEN 2021 di masa pandemi adalah pos infrastruktur. Dikutip dari situs KemenPUPR, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) memperoleh pagu anggaran tahun 2021 sebesar Rp149,81 triliun, bertambah Rp34,23 triliun dari pagu indikatif Tahun Anggaran (TA) 2021 sebesar Rp115,58 triliun. 

Ekonom Senior Institute Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Gugandi mengatakan pembengkakan anggaran PEN harus dapat dipastikan bersumber dari realokasi anggaran belanja lainnya. Sehingga, tidak meningkatkan defisit APBN 2021.

Eric mengatakan pemerintah harus memprioritaskan dana PEN terhadap program penanganan kesehatan, perlindungan sosial dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menurutnya, korporasi belum tentu akan banyak menggunakan insentif pajak, selama demand side yakni konsumsi rumah tangga masih loyo.

Selain itu, Intelektual Muslimah sekaligus Pengamat Ekonomi R.A. Vidia Gati, SE.Akt., CA, M.E.I. berpendapat bahwa penyampaian pos-pos belanja di bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan infrastruktur yang terus berjalan, ia sebut seolah menunjukkan adanya kebanggaan bisa tetap menjalankan proyek infrastruktur di tengah pandemi Covid.

Tentu saja pernyataan ahli ekonomi tersebut sangat beralasan. Ditambah hingga Kamis (4/2/2021), Indonesia memiliki kasus aktif sebanyak 174.798 atau 15,6 persen dari kasus konfirmasi yang berjumlah 1.123.105. Angka kasus aktif di Indonesia itu menjadi yang tertinggi di Asia, mengalahkan India, negara dengan kasus Covid-19 paling banyak di Asia dan nomor dua dunia (kompas.com, 5/2/2021). 

Alhasil, peningkatan anggaran PEN 2021 jika tidak dilandasi dengan kebijakan yang benar hanya akan menambah 'beban' utang negara. Target untuk menyelesaikan persoalan pandemi seolah terpinggirkan hanya karena ingin memenuhi target-target di bidang ekonomi. Padahal untuk memulihkan perekonomian negara juga dibutuhkan sumber daya manusia yang tangguh dan sehat. Lalu, bagaimana solusi Islam dalam menyelesaikan permasalahan ini?

Penjagaan nyawa bagi manusia sangat diperhatikan dalam Islam, terlebih dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Negara akan selalu mengutamakan aktivitas pengurangan jumlah kasus, pencegahan, hingga penyembuhan setiap pasien aktif. 

Pendanaan berbagai program untuk menyelesaikan pandemi diambil dari pos kepemilikan umum. Yakni dari pengelolaan berbagai sumber daya alam milik umum seperti hutan, sumber daya laut dan sebagainya. Ironisnya, selama ini SDA Indonesia telah dikuasakan kepada asing dan aseng.

Dalam Islam, jika sumber pendanaan dari kepemilikan umum masih kurang, akan digalakkan dorongan kepada kaum kaya agar menyumbangkan hartanya. Negara tidak akan pernah utang kepada negara asing yang sudah tentu 'berbunga'. Sebab secara tegas dilarang Allah, baik membayar bunganya ataupun berutang riba.

Untuk itu, sudah saatnya menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan, tidak hanya diambil sebagai aturan dalam beribadah saja, namun juga dalam pengaturan sebuah negara. Niscaya keberkahan dan rahmat Allah SWT akan kita rasakan.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al-A'raaf: 96). Wallahu a'lam bi asshowwab.[]

Oleh: Rany Setiani, S.KM

Posting Komentar

0 Komentar