Penempatan Guru Non Muslim di Sekolah Islam, Bagaimana Bisa?


Semakin miris mendengar berita ini, telah dikeluarkannya peraturan baru oleh kementrian agama bahwa pengajar di sekolah Muslim tidak harus beragama Islam. Padahal masih sangat banyak guru yang beragama Islam. Sebenarnya permasalahannya pada bagaimana seorang guru mengajarkan murid-muridnya, khususnya di sekolah Islam dalam hal akhlak, kepribadian seorang muslim yang baik, cara berpakaian dan sebagainya. Bukan hanya mengajarkan pelajarannya saja.

Disinilah yang sangat disayangkan, kenapa guru non Muslim tidak ditempatkan di sekolah umum saja yang memang kurikulumnya bukan berbasis Islami. Bagaimana akidah seorang anak bisa kuat? Jika yang mengajarkannya saja seorang non Muslim. Karena pada dasarnya kita semua tahu bahwa jika orang tua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah Islam tentu menginginkan agar anaknya memiliki pondasi agama yang kuat. 

Kebijakan penempatan guru beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia, dikatakan oleh Analis Kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah. Mengenai pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30. PMA nomor 90 tahun 2013 telah diperbaharui dengan PMA nomor 60 tahun 2015 dan PMA nomor 66 tahun 2016, dimana pada Bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Andi Syaifullah menerangkan bahwa tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Sabtu 30 Januari 2021. Andi Syaifullah juga mengatakan bahwa guru non Muslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Sehingga menurutnya tidak ada masalah. Bahkan ini salah satu manifestasi dari moderasi beragama, agar Islam tidak menjadi agama yang eksklusif. (Suarasulsel.id, 30/01/2021) 

Disini kita bukan membahas masalah eksklusifitas, karena seharusnya memang seorang guru harus menjadi contoh bagi anak muridnya bukan hanya dalam hal kecerdasan dalam pelajaran, tetapi juga tentang akidah, akhlak, cara bertindak dan sebagainya. Yang menjadi masalah disini adalah, ini untuk sebuah madrasah bukan sekolah negeri yang bebas siapapun untuk mengajar, di mata siapapun madrasah tentunya mengutamakan pendidikan agama. Sehingga kurang masuk akal jika yang mengajar ialah guru non Muslim. 

Dari kutipan diatas dapat kita lihat bahwa kementerian agama seperti menyepelekan masalah ini. Sekali lagi disini bukan tentang pelajaran apa yang diajarkan tapi kembali pada bagaimana seorang guru menjadi teladan bagi murid-muridnya. Bahkan guru non Muslim yang ditunjukpun kaget menerima surat tugas di madrasah, karena memang hal ini adalah hal yang tidak wajar. Seakan-akan seperti kekurangan guru yang beragama Islam. 

Begitulah penerapan aturan di negara dengan sistem kapitalis saat ini, agama dan pendidikan tidak menjadi prioritas dan hal yang diperhatikan. Seperti sekedarnya saja, Menunjukkan pemisahan agama dan kehidupan begitu nyata terlihat. Seperti disengaja menanamkan moderasi beragama dibangku sekolah. Dijauhkan dari pemahaman agama yang sesuai syariat sebagaimana Rasulullah SAW contohkan. 

Padahal penanaman dasar agama dalam dunia pendidikan khususnya sekolah Islam adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan generasi-generasi terbaik di masa depan yang memiliki fondasi kuat dalam agama sehingga tidak mudah terpengaruh arus globalisasi yang terus menyerang. Generasi saat ini, seperti yang kita lihat sudah sangat terpengaruh budaya dari luar yang berpengaruh pada akidah generasi muda umat muslim. Terutama di tengah zaman yang hanya mengutamakan keuntungan tanpa memikirkan apa yang terbaik untuk rakyatnya. 

Sangat berbeda dengan sistem pendidikan di masa kekhilafahan yang sangat mengutamakan perihal penanaman akidah yang kuat. Dengan kurikulum yang dirancang dengan sebaik-baiknya menciptakan generasi emas yang bisa menjadi penerus terbaik di masa mendatang. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK) serta Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna. Pembentukan kepribadian Islam juga perlu dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa. Hal ini bertujuan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatan siswa dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa siswa dengan kesadarannya dapat melaksanakan seluruh kewajiban dan dapat menjauhi segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt. 

Dalam proses pendidikan, keberadaan peran seorang guru menjadi sangat penting; bukan saja sebagai penyampai materi pelajaran (transfer of knowledge), tetapi sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan (uswah) yang baik (transfer of values). Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berhubungan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengusahakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw bersabda, “Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). (Muslimahnews.com, 4/11/19) 

Begitulah bagaimana Islam begitu mengutamakan sistem pendidikan baik dari kurikulum maupun yang mengajarkannya sehingga dapat menciptakan generasi emas penerus peradaban. Wallahu 'alam bishowab.[]

Oleh: drg. Dita Anggraini Brilliantari

Posting Komentar

0 Komentar