Pakar Riset Ungkap Permasalahan yang Dihadapi Inventor



TintaSiyasi.com-- Menyorot permasalahan invensi (penemuan/ciptaan) menjadi sebuah inovasi, Pakar Riset Sistem Informasi Spasial , Prof. Dr. -Ing. Fahmi Amhar mengungkapkan masalah yang dihadapi inventor (penemu) untuk bisa menjadikan penemuannya menjadi sebuah inovasi.

"Inilah yang kita hadapi kalau punya invensi untuk jadi inovasi. Jadi ada masalah, dengan masalah kapasitas industri, masalah hukum, masalah keuangan dan juga kompetitor global dan juga budaya," ungkapnya dalam Kabar Malam: Ketika Inovasi Teknologi Butuh Tuntunan Ideologi, Sabtu (06/02/2021) di kanal Youtube News Khilafah Channel.

Beberapa permasalahan yang dimaksud, pertama, kemampuan produksi massal dari sebuah invensi. Menurutnya, jangan sampai ketika datang banyak permintaan, kesiapan produksi massal belum ada. "Setelah mereka membuat invensi mereka harus memikirkan bagaimana manufaktur massal dengan standar yang sama," sarannya.

Kedua, adanya aturan-aturan standar yang kadang tidak relevan. Ia mencontohkan kebingungan inventor mobil listrik ketika ditanya hasil uji emisi sebagai syarat kelaikan. Padahal menurutnya, mobil listrik tidak menghasilkan gas emisi.

Ketiga, masalah anggaran. Ia menuturkan persoalan ini juga terkadang tidak ramah terhadap pelatihan-pelatihan online yang sekarang menjadi kebutuhan. "Kadang-kadang kalau pelatihan online itu, pengajar itu nggak bisa dibayar. Kenapa? Karena bayarannya itu harus hadir. Harus tatap muka, kalau online nggak dibayar," tandasnya.

Keempat, persaingan kompetitor global. Ia menjadikan alat ge-nose sebagai contoh produk yang berpotensi diambil alih produsen lain jika tidak diproduksi cepat dengan harga jual dan kualitas yang sama. "Kantor saya yang termasuk pesan. Ternyata semuanya inden enam bulan," tambahnya.

Kelima, kemampuan inventor mengedukasi masyarakat. Ia mencontohkan invensi sebuah produk baru minuman kemasan. Menurutnya, meskipun nanti harga jualnya lebih murah, tapi masyarakat sudah banyak yang terpola dengan brand tertentu yang terkenal. "Meskipun lebih murah bisa nggak laku," ujarnya.

Maka itu ia menyarankan agar pemerintah dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melibatkan kementerian dan lembaga-lembaga lain terkait permasalahan peraturan, anggaran bahkan perdagangan internasional. "Jadi kalau Kemenristek dan BRIN sendiri menghadapi itu, saya kira tidak mudah untuk tidak mengatakan hampir mustahil," pungkasnya. [] Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar