Pakar Ekonomi Syariah: Indonesia Rusak Karena Keuangan Dan Moneter Kapitalistik


TintaSiyasi.com-- Menanggapi polemik transaksi menggunakan dinar dirham dan barter yang terjadi di pasar Muamalah yang diinisiasi Zaim Saidi di Depok, Pakar Ekonomi Syariah, Muhammad Hatta, SE.,MM., menyatakan Indonesia rusak karena keuangan dan moneter kapitalistik.

“Sangat aneh kalau mengatakan bahwa dinar dan dirham, keuangan syariah, moneter Islam, itu merusak Indonesia. Justru Indonesia rusak karena keuangan dan moneter kapitalistik,” tuturnya dalam acara FGD PKAD: Transaksi Dinar dan Dirham Sebuah Pelanggaran? Perspektif Hukum, Ekonomi dan Politik, Sabtu (6/2/2021) di YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD).

Ia menyebutkan, sistem keuangan kapitalistik meniscayakan ketidakadilan. “Sistem keuangan kapitalistik moneter kapitalistik ini adalah meniscayakan ketidakadilan. Saya ulangi meniscayakan ketidakadilan bagi masyarakat Indonesia juga dunia,” ungkapnya dengan lantang.

Ia menjelaskan, nilai intrinsik dari mata uang kertas ditentukan oleh undang-undang. “Mata uang kertas yang disebut dengan fiat money itu artinya mata uang yang nilai intrinsiknya ditentukan oleh undang-undang bukan karena bendanya itu sendiri. Makanya, kemudian rupiah tidak bisa dibawa ke Malaysia, ringgit juga tidak bisa dibawa ke Indonesia. Karena undang-undang yang mensahkan dan menilainya itu berbeda, berbeda dengan emas," tuturnya.

“Dengan karakter yang seperti itu, nilai intrinsiknya yang tidak melekat pada dirinya, tetapi karena faktor eksogen faktor luar maka mata uang fiat money termasuk mata uang rupiah itu sangatlah fluktuatif,” imbuhnya.

Menurutnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan dalam satu dokumennya, mengajukan yang namanya mata uang global. Ia menambahkan, dolar sudah tidak dipercaya lagi oleh PBB sebagai mata uang global. "Pertanyaannya apakah mata uang global tersebut masih dalam bentuk feat money atau tidak?" tandasnya.

Ia menilai, apapun selain mata emas pasti akan anjlok. “Apapun selain emas dengan mata uang yang lain, baik itu yen Jepang euro dan dolar Amerika anjlok. Harga mata uang ini dibandingkan tidak hanya rupiah selama itu fiat money apapun itu mata uangnya maka anjlok,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan menggunakan emas tidak perlu lagi ada redenominasi. “Kalau kita menggunakan mata uang emas tidak perlu redenominasi ini. Kita ingin mulai diwacanakan itu kan redenominasi ini 2010 sampai sekarang tidak bisa dilakukan padahal namanya mata uang ini sangat penting bagi transaksi perekonomian,” ujarnya.

“Redenominasi ini apakah kemungkinan berhasil tidak mungkin pasti akan anjlok lagi kenapa karena yang bermasalah bentuk mata uangnya, nilai intrinsik mata uangnya, bukan gambarnya bukan masalah angkanya yang bermasalah adalah nilai intrinsiknya. Jadi, mau berapa kali pun redenominasi nggak akan selesai ini persoalan mata uang kita dan ini global," bebernya.

Menurutnya, di dalam Al Qur'an surat At-Taubah ayat 34, sudah di jelaskan pelarangan menyimpan emas dan perak. “Perintah dari alquran misalnya At Taubah ayat 34 berkaitan dengan larangan menyimpan emas dan perak, emas dan perak ini dulunya mata uang, mata uang dulunya emas dan perak. Jadi, ini landasan yang sangat kokoh dan sangat kuat. Sangat aneh kalau kemudian ada yang mempersoalkan perihal ini,” pungkasnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar