Pakar Ekonomi Islam: Sekarang Terjadi Resesi yang Sangat Menakutkan


TintaSiyasi.com-- Pakar Ekonomi Islam Dwi Condro Triono, S.P, M.Ag., Ph.D. menyatakan, sekarang ini terjadi resesi yang sangat menakutkan.

“Mengalami deflasi itu bahaya. Akhirnya membuat ekonomi mengalami resesi. Sekarang ini terjadi resesi yang sangat menakutkan," tuturnya dalam Kajian Ekonomi Islam di saluran Youtube Ngaji Subuh, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Ustaz Dwi Condro (UDC) sapaan akrabnya, resesi mampu membuat perusahaan terpukul dan tak mampu bayar pajak, sehingga pemerintah defisit. "Dan resesi itu membuat apa? Multiplayer effect-nya panjang. Ketika perusahaan-perusahaan sudah terpukul, hancur, maka kemampuan membayar pajaknya juga turun drastis. Hal ini juga akan memukul pemerintah. Pemerintah mengalami defisit yang sangat besar,” bebernya.

UDC memperkirakan defisit APBN sudah menyentuh 1000 triliun. Menurutnya, itu berarti target penerimaan pajak akan meleset sampai 1000 triliun. Itulah yang menurutnya mengerikan.

“Ini kan, mengerikan? Terus ditutup pakai apa? Utang sana, utang sini, cairnya cuma sedikit-sedikit. Ya, paling dapat 6 triliun, 9 triliun, 11 triliun. Untuk level negara, defisit 1000 triliun, dapatnya 10 triliun aja udah, enggak ngefek itu. Selilit aja enggak,” imbuhnya.

Hal inilah yang diperkirakan Dwi Condro menyebabkan pemerintah mati-matian mengejar dana wakaf tunai. 

“Sudah ngejar-ngejar dana wakaf. Itu, apakah bisa nutup atau tidak? Walaupun wakafnya disebut wakaf tunai. Karena nanti biar bisa untuk anggaran pembangunan juga. Mungkin arahnya nanti ke sana karena sudah kosong itu kas negara,” ujarnya. 

Menurutnya, negara mengalami defisit karena penyakit ekonomi yang kedua, yaitu pengangguran. Ia menjelaskan ada tiga penyakit ekonomi yang utama, yaitu inflasi, pengangguran, dan ketimpangan neraca pembayaran.

“Jadi, sebenarnya pengangguran itu, ya, deflasi itu. Jadi, boleh dibilang, ya, inflasi itu bahaya, deflasi itu bahaya. Jadi, inflasi itu seperti tekanan darah tinggi, kalau pengangguran seperti tekanan darah rendah. Dua-duanya bahaya,” pungkasnya.[] Saptaningtiyas


Posting Komentar

0 Komentar