Om Joy: Patut Diduga Perpres Ekstremisme Digunakan Menghambat Dakwah Islam Kafah



TintaSiyasi.com-- Menanggapi Perpres Ekstremisme yang baru saja diteken, Jurnalis Media Umat Joko Prasetyo mengatakan, patut diduga perpres tersebut digunakan untuk menghambat dakwah Islam kafah.

Pertama, Perpres Ekstremisme itu patut diduga untuk menghambat segala aktivitas yang mengarah kepada dakwah secara kafah. Kepada yang mendakwahkan Islam secara utuh, secara kafah, bisa dikenai delik ini," tutur Jurnalis Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dalam Bedah Tabloid Media Umat: Perpres Ektremisme Menyerang Islam? Selasa (09/02/2021) di kanal Youtube Follback Dakwah.

Om Joy sapaan akrabnya menjelaskan, indikasi yang diduga disasar oleh perpres tersebut adalah Islam kafah, karena melihat bunyi pasal 1 ayat 2 Perpres RAN PE yaitu, “Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme adalah keyakinan dan/atau tindakan yang menggunakan cara-cara kekerasan atau ancaman kekerasan ekstrem dengan tujuan mendukung atau melakukan aksi terorisme.”

Menurutnya, kata "keyakinan" dimasukkan dalam bagian ekstremisme adalah kebablasan dan berbahaya. "Ditambah pengertian ekstremisme tidak jelas. Keyakinan dan tindakan seperti apa yang disebut ekstremisme? Tidak jelas," tandasnya.

Ia memaparkan, jika umat Islam memahami Islam secara kafah, umat Islam tidak akan melakukan tindakan terorisme. "Maka, tidak main nuduh sembarangan, tidak main hakum sembarangan, tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan," jelasnya.

Menurutnya, kalau yang disasar perpres RAN PE adalah terorisme, seharusnya tidak perlu khawatir kepada orang yang memegang Islam secara utuh. Karena, umat Islam yang memegang Islam secara kafah, ia nilai, tidak akan melakukan tindakan kekerasan atau pun ekstremisme.

"Nah, tetapi perpres ini menyasar kepada Islam karena ada frasa 'keyakinan dan garis miring atau' tadi. Jadi, meskipun tidak melakukan tindakan kekerasan, sangat memungkinkan  bisa dikenai delik-delik yang ada di pasal ini. Jadi, kata keyakinan dalam perpres ini kebablasan dan berbahaya," tegasnya.

Om Joy mengungkapkan, dua poin bahaya lainnya. Kedua, bisa terjadi adu domba di tengah masyarakat. "Karena bukan hanya aparat yang bergerak, tapi juga masyarakat bisa melaporkan melalui pengaduan hotline. Juga dibantu adanya kelompok yang dibina untuk melakukan pencegahan ekstremisme di tengah-tengah masyarakat," jelasnya.

Ia menjelaskan, salah satu indikasinya ada pada pasal 8 dan lampiran latar belakang. "Pasal 8 berbunyi, dalam melaksanakan RAN PE, kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dapat bekerja sama dan melibatkan peran serta masyarakat," katanya.

"Lampiran (Latar Belakang). Penyusunan dan implementasi RAN PE ini, menekankan pada keterlibatan menyeluruh pemerintah dan masyarakat (whole of gouernment approach and whole of society approach)," tambahnya.

Ketiga, perpres RAN PE sangat sejalan dengan war on radicalism yang dijalankan Amerika. "Jadi, melihat perpres ini, arahnya setidaknya ketiga poin tersebut,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (21/5/2017) di Riyadh saat menghadiri pertemuan bersama 50 kepala negara, 41 di antaranya negeri-negeri Muslim dan 9 di antaranya negeri non Muslim. 

"Trump mengatakan sambil memegang bola dunia, jika dalam bahasa Indonesia artinya begini. Masa depan lebih baik hanya bisa dicapai jika kalian bisa menyingkirkan terorisme dan mengusir kelompok esktremis. Usir mereka keluar! Usir dari komunitas, tempat-tempat suci, dan bumi ini. Itu kata Trump dan diikuti oleh negara-negara yang hadir. Itulah yang disebut war on radicalism itu, Amerika ya begitu, dapat dimungkinkan Indonesia melakukan hal yang sama," bebernya.

Menurutnya, semua ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut oleh Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum yang juga dikenal sebagai dalang gerakan Islamophobia dalam artikel berjudul “Rand Corporation and Fixing Islam” dengan istilah religious building

"Yakni upaya untuk membangun agama Islam alternatif dengan 'untuk menghancurkan Islam militan'. Tapi tujuan panjangnya, menurut Daniel Pipes adalah modernisasi Islam. Perang melawan Islam militan inilah yang sering disebut sebagai perang melawan radikalisme atau war on radicalism," pungkasnya.[] M. Siregar




Posting Komentar

0 Komentar