Nikah Muda tak Jadi Soal dalam Islam


Baru-baru ini beredar kabar tentang Wedding Organizer Aisha Wedding yang mempromosikan dan mengajak perempuan menikah muda di usia 12 sampai 21 tahun. Ujungnya pihak Aisha Wedding berurusan dengan pihak kepolisian karena dinilai melanggar aturan pemerintah Nomor1 Tahun 2014 tentang perkawinan. Disebutkan bahwa usia minimal pasangan menikah adalah 19 tahun. 

Hal senada disampaikan oleh Menteri Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati yang menyatakan bahwa hal ini telah melanggar dan mengabaikan pemerintah dalam upaya melindungi dan mencegah anak dari korban kekerasan dan eksploitasi (merdeka.com 11/02/2021).

Pemerintah Indonesia bersama United Nations Population Fund (UNFPA) telah menandatangani Rencana Aksi Program Kerja Sama atau Country Programme Aktion Plan (CPAP) 2021-2125 senilai $USD 27,5 juta. Sasaran program tersebut yaitu menurunkan kematian ibu, penyelenggaraan kesehatan ibu dan keluarga berencana yang terintegrasi, peningkatan potensi anak muda dan kespro remaja, serta penurunan kekerasan dari praktik-praktik berbahaya terhadap perempuan dan anak.

Menurut pandangan sekuler, pernikahan dini akan menimbulkan permasalahan, seperti kekerasan seksual, tingginya perceraian, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan kesehatan reproduksi karena pernikahan seperti ini merupakan hubungan yang terbentuk antara pria dan wanita hanya sebatas seksualitas semata atau perolehan materi tanpa ada aturan agama yang mengatur dan melandasinya.

Ini berbeda dengan cara pandang Islam. Dalam pernikahan bukan permasalahan usia melainkan kesiapan individu dalam memikul tanggungjawab dan beban pemikiran. 

Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang telah mampu memikul beban (rumah tangga) maka menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu lebih menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu melaksanakannya hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai dan meredakan gejolak hasrat seksual." (HR. Muslim).

Dari hadits di atas, menunjukkan bahwa pernikahan tidak dibatasi dengan usia, selama individu yang akan menikah mempunyai kemampuan memikul tanggung jawab maka dengan menikah akan menjaga diri dari terbukanya pintu zina.

Serta ada hikmah besar dalam pernikahan yaitu terpenuhinya hasrat seksual sebagai naluri yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Begitupun pernikahan dapat mencegah pandangan dari perbuatan zina yang dilarang oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk." (Qs. Al-Isra' (17):32).

Dengan demikian, dikaitkannya berbagai kasus rumah tangga dengan faktor usia ini membuktikan bahwa kegagalan sistem kapitalisme dalam membentuk keluarga yang melahirkan generasi yang berkualitas dan unggul. Jadi pernikahan dini adalah istilah tendensius terhadap syariat pernikahan yang sejatinya di dalam Islam tidak ada korelatif antara kasus-kasus rumah tangga yang terjadi dengan batasan usia. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Tuti Febrimawati
(Ibu Rumah Tangga)

Posting Komentar

0 Komentar