Negara Terpuruk Karena Utang

Hingga akhir Desember 2020, utang pemerintah sudah menembus Rp 6.074,56 triliun. (Kompas, Desember 2020). Posisi utang ini naik cukup tajam dibandingkan dengan akhir tahun 2019. Dalam satu tahun, utang Indonesia bertambah Rp 1.296,56 triliun dari akhir Desember 2019 yang tercatat Rp 4.778 triliun. (Kompas, Desember 2020).

Utang luar negeri Indonesia semakin tinggi, berakibat komposisi APBN sebagian besar adalah untuk membayar utang tersebut. Hampir semua sektor bergantung pada utang luar negeri, pada akhirnya berpengaruh terhadap ketahanan negara. Ini tidak lepas peran politik negara atau lembaga pemberi utang. Indonesia selama ini berutang kepada Bank Dunia ataupun IMF. Negara yang berutang berada di bawah tekanan dan cengkeraman kedua lembaga tersebut, ini menjadi faktor Indonesia terpuruk. Lebih dari itu utang ini adalah utang riba yang diharamkan oleh syariah.

Utang dalam Islam hukumnya boleh, namun jika negara berutang kepada negara asing yang memiliki maksud politis dan berakibat pada lemahnya negara karena di bawah tekanan negara asing maka hukumnya adalah haram.

Negara sesungguhnya mampu untuk membiayai kebutuhan masyarakat dan negara dalam segala aspeknya. Hal itu terwujud ketika negara secara benar dalam mengelola sumber daya alam dan manusia untuk menghasilkan kekayaan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Sistem ekonomi dan politik Islam telah mampu mewujudkan negara Islam dengan peradaban gemilang yang ditunjukkan dengan kesejahteraan dan keadilan yang tidak ada sejarahwan dan bukti tertulis yang mengingkarinya. Sistem ini mampu menjadikan negara Islam dan warga negaranya menjadi kuat dan berpengaruh di seluruh dunia. Itulah sistem Islam kaffah.[]

Oleh: Rewpa
(Pemerhati Masalah Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar