Miris, Kapitalisme Membuat Keharmonisan Keluarga Semakin Terkikis


“Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga.” (Keluarga Cemara).

Itulah penggalan lirik lagu yang menjadi soundtrack film lawas keluarga cemara. Sebuah lirik yang fenomenal karena memiliki makna yang begitu mendalam. Bagaimana tidak, lirik ini menceritakan tentang betapa tingginya kedudukan sebuah keluarga. Bahkan, harta dan istana tidak akan bisa menyaingi serta menggantikan posisi keluarga.

Keluarga, agaknya menjadi sebuah tempat untuk menanam dan merawat kasih sayang. Akan tetapi, sayangnya masih banyak orang yang tidak memahami hakikat pentingnya keluarga. Untuk memikirkan bagaimana menciptakan hubungan baik di antara sesama anggota keluarga saja masih banyak yang terlupa. Bahkan banyak orang yang justru tega memperlakukan keluarganya dengan  hal yang tidak sewajarnya, hanya karena untuk menuruti keegoisan dan hawa nafsu semata.

Seperti beberapa waktu lalu, muncul sebuah berita yang sempat membuat publik geger. Berita yang sempat viral itu mengungkapkan tentang anak yang menggugat orang tuanya senilai 3 miliar rupiah. Perseteruan antara anak dan ayah ini menjadi sorotan lantaran kasus ini ditangani oleh seorang pengacara yang merupakan anggota keluarga kandung lainnya. 
 
Melalui Pikiran Rakyat.com (30/1/21), telah disebutkan bahwa sang anak diketahui bernama Deden ini tega menggugat ayahnya, Koswara (85) ke Pengadilan Negeri Kelas 1A Bandung, Rabu 20 Januari 2021. Koswara digugat anaknya soal tanah seluas 3.000 meter persegi yang notabene milik Koswara di daerah Cinambo, Kota Bandung, Jawa Barat.

Sungguh, kemunculan berita ini terasa sangat begitu menyayat hati. Orang tua telah berjuang dengan susah payah membesarkan anaknya, malah kini harus mendapatkan balasan yang sama sekali tidak pernah diharapkannya. Hati orang tua mana yang tidak terluka jika mendapatkan perlakuan buruk dari buah hatinya yang selama ini dibesarkan dengan penuh cinta. Kejadian ini seperti merupakan  kebenaran dari pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”.

Seperti yang dikutip oleh Kar.or.id (22/1/21), Hamidah mengatakan jika ayahnya sempat membuat surat pernyataan tertulis sebagai bentuk kekecewaannya pada anak-anak yang telah menggugatnya. Di surat bermaterai dengan cap notaris 11 Desember 2021, Koswara sempat menyatakan jika ia tak lagi mengakui Masitoh, Deden, Ajid, dan Muchtar sebagai anaknya.

Seperti yang diketahui, penggugatan ini dilayangkan karena  Koswara ingin menjual tanah untuk kemudian dibagikan ke saudaranya. Koswara juga ingin membangun masjid kecil. Sedangkan di tanah tersebut Deden telah menyewa untuk usaha toko kelontongnya. Selanjutnya diketahui bahwa pengacara yang menggugat adalah anak ketiga dari Koswara meninggal dunia karena serangan jantung sebelum menjalani sidang. Akhirnya Deden dan saudaranya meminta maaf dan tidak mau berlaku durhaka.

Sebenarnya, kasus ini bukanlah kali pertama. Kasus ini hanya menambah deret kasus pelaporan atau penggugatan anak kepada orang tua yang pernah terjadi, khususnya di Indonesia sendiri. Munculnya kasus ini menjadi bukti bahwa semakin banyak potret keluarga yang menjadi korban dari kekejaman sistem kapitalis saat ini. 

Seperti beberapa waktu lalu seorang ibu mendekam di sel tahanan Polsek Demak Kota setelah dilaporkan oleh anak kandungnya ke polisi. Dan di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat seorang ibu dilaporkan ke polisi oleh anaknya karena masalah motor. Tentu sangat miris melihat potret keluarga yang seharusnya harmonis dan saling mengasihi justru harus berakhir di pengadilan dan saling berselisih satu sama lain hanya karena masalah materi.

Banyaknya potret keluarga di Indonesia yang rusak saat ini, sesungguhnya disebabkan karena gagalnya setiap anggota keluarga dalam memahami peran masing-masing. Penerapan sistem kapitalisme juga tak luput menjadi penyebab terkikisnya keharmonisan keluarga saat ini. Seperti yang diketahui, sistem kapitalisme ini sendiri selalu menjadikan keuntungan serta kepentingan sebagai asas tertinggi. Dalam sistem ini, selama perbuatan yang memiliki manfaat akan selalu di kedepankan untuk dikerjakan. Sekalipun perbuatan itu harus berbenturan dengan nilai-nilai moral.

Sehingga, bukan hal asing jika begitu banyak potret pasangan suami istri yang tidak saling menghargai dan menghormati. Semakin ramai kasus kekerasan anak, penganiayaan serta penggugatan anak kepada orang tua. Semua ini disebabkan karena ketidakmaksimalan antara orang tua dan anak dalam memahami serta menjalankan peran mereka. Terlebih lagi, sistem kapitalisme didasari oleh asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Akibatnya, setiap manusia diberikan kebebasan untuk melakukan sesuatu dengan sesuka hati. Tanpa memperhatikan bagaimana standar benar dan salah yang ada dalam Islam.

Nilai-nilai liberalisme atau kebebasan, telah mengikis  nilai-nilai etika dan moral seorang anak kepada orang tua serta sebaliknya. Akibatnya, generasi yang terbentuk di masyarakat adalah generasi yang miskin etika dan moral. Dalam ajaran Islam, berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban. sedangkan durhaka terhadap orang tua adalah termasuk perbuatan dosa. Dalam beberapa ayat-Nya, Allah telah menyebutkan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Salah satu firman-Nya antara lain dalam QS al-Isra: 23 Allah SWT berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
 
Islam begitu gamblang menjelaskan tentang hak dan kewajiban yang harus dilakukan oleh anak kepada orang tua ataupun sebaliknya. Selain itu, Islam juga mengajarkan agar anak senantiasa melaksanakan kewajiban birrulwalidain. Sehingga, sudah seharusnya anak menunjukkan sikap yang baik apabila orang tua telah memasuki usia renta. Seperti dengan cara merawatnya, menafkahinya atau membantu meringankan kesulitannya. Bukan malah memusuhi hingga berkeinginan untuk memenjarakan orang tua. 

Jika sistem kapitalisme menjadikan materi sebagai talok ukur dan standar kebahagiaam, maka berbeda halnya dengan Islam. Islam menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama setiap manusia, sehingga setiap manusia diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Sehingga, tidak akan terlukis lagi potret buram keluarga yang miris dan menyayat hati seperti yang telah terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini.

Ketika kita telah melihat begitu banyak kerusakan yang diakibatkan oleh penerapan sistem kapaitalisme saat ini, maka sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam. Terlebih, sistem kapitalisme juga sudah terbukti hanya menjadi sistem yang merusak. Tidak hanya memberikan kerusakan dalam tatanan keluarga, tetapi dalam segala hal. Sehingga, hanya sistem Islam yang mampu memberikan aturan yang benar serta komprehensif dari hal terkecil sampai terbesar. Wallahua’lam bishawab.[]

Oleh: Eka Yustika, SP
(Muslimah Peduli Umat)

Posting Komentar

0 Komentar