Miris! Jika Festival Santet dapat Eksis di Negeri Mayoritas Muslim

Sekumpulan dukun di Banyuwangi, Jawa Timur telah mendeklarasikan Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara). Perkumpulan ini mengaku memiliki tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap ilmu perdukunan agar tidak terjerumus dengan aksi dukun abal-abal dan menjerumus pada penipuan (news.detik.com, 6 Februari 2021).

Perdunu tengah merancang acara festival santet di bulan suro dan muharram dalam penanggalan Jawa dan Islam. Mereka berdalih, festival yang akan digelar tidak akan melenceng dari syariat Islam. Namun festival ini malah akan menjadi ajang promosi destinasi wisata mistis di Banyuwangi. Pihak perdunu juga mengatakan agar jangan sampai ada informasi yang aneh-aneh yang kesannya malah menjerumus kepada perbuatan syirik (www.merdeka.com, 6/2/2021).


Aktivitas Perdukunan Menanggalkan Akidah

Allah SWT berfirman,

... وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ

Artinya: “Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman...” (TQS Al Baqarah: 102)

Imam Al Qurthubi mengatakan, ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah SWT yang mendapat Al Kitab tetapi mempelajari ilmu sihir. Mereka adalah orang Yahudi.

Imam Al Suhdi menyatakan bahwa orang Yahudi pada awalnya menggunakan Taurat untuk menentang Nabi Muhammad SAW. Namun ternyata isi Taurat ini sama dengan isi Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sehingga orang Yahudi meninggalkan Taurat dan menggunakan ilmu sihir.

Kemudian Allah melanjutkan firman Nya,

... وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ ...

Artinya: “... Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia yakni Harut dan Marut... 

Ketika Rasulullah SAW menceritakan tentang Nabi Sulaiman bin Nabi Daud kepada orang Yahudi, maka rahib-rahib Yahudi mengatakan bahwa Sulaiman itu hanyalah tukang sihir. Meskipun ayahnya seorang Nabi. Maka Allah menjawab perkataan mereka dengan mengatakan وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ . Kata مَا di sini merupakan bantahan terhadap tuduhan Yahudi kepada nabi Sulaiman. Kemudian pada kata وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡر , Allah SWT menegaskan bahwa tukang sihir itulah yang kafir.

Imam As Suyuthi mengatakan, ayat ini menegaskan bahwa meminta bantuan kepada Jin ataupun setan menyebabkan seseorang melakukan perbuatan yang haram bahkan sampai kepada kekafiran. Karena sudah jelas bahwasanya sihir ataupun perdukunan tidak akan berfungsi jika tidak dibantu oleh syetan ataupun jin.

Terkait dengan dua orang yang bernama Harut dan Marut pada kata وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ terdapat perbedaan dari kalangan ulama mufassir dalam menjelaskan siapa keduanya. Az Zujaj seorang tabi’in meriwayatkan dari Ali RA mengatakan bahwa dua malaikat ini tidaklah mengajarkan sihir kepada manusia, namun peringatan tentang sihir. Bukan mengajarkan untuk mengajak melakukan sihir sehingga terpedaya olehnya dan akhirnya memisahkan suami dari istrinya. Inilah yang menjadi pendapat kebanyakan ahli bahasa.

Namun penjelasan lain seperti dari Imam Al Qurthubi berpendapat berbeda. Beliau mengatakan bahwa kata هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ adalah pengganti dari kata syetan. Kata مَآ  pada وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ merupakan huruf nafyi (peniadaan) bukan sebagai isim maushul yang memiliki makna yang. Sehingga ketika di athafkan kepada kata وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ menjadi negasi dan maknanya menjadi badal atau pengganti dari syetan, karena Nabi Sulaiman bukanlah tukang sihir.

Namun Ibnu Katsir tidak sependapat bahwa harut dan marut merupakan pengganti syetan, syetan tidak memiliki naluri dan tugas untuk menasehati manusia dalam berbuat kebaikan. Sehingga Ibnu Katsir cenderung bahwa Harut dan Marut merupakan pengganti manusia sebagaimana kelanjutan ayat 

... وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِ ...

Artinya: “...sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan). Sebab itu janganlah kamu kafir. Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan seorang (suami) dari istrinya...”


Tangkal Sihir dengan Meminta Perlindungan 

Pada Allah SWT
Allah telah mengatakan bahwa

 وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ 

Artinya: “Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah”. Oleh karenanya jangan pernah lepaskan syariat dan perlindungan Allah SWT di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada masa Khulafaur Rasyidin beserta khilafah setelahnya, seseorang yang murtad akan diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali lagi kepada ajaran Islam yang lurus. Namun seorang tukang sihir ataupun dukun tidak akan diberikan perlakuan serupa namun akan langsung dibunuh.

Nabi Muhammad SAW pernah terkena sihir, lalu Allah SWT menyembuhkannya. Sehingga menjelang tidur Rasulullah SAW mengumpulkan kedua tangannya, kemudian meniupkannya lalu membaca surah Al Muawwidzat yakni Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, berwudhu sebelum tidur dan meminta perlindungan dan penjagaan dari Allah SWT.


Sekularisme Menyuburkan Sihir dan Perdukunan

Ketika peradaban Islam berjaya, sihir dan perdukunan adalah sesuatu yang tabu dan ditinggalkan karena tegasnya negara dalam menangani kasus ini. Namun peradaban telah berganti menjadi peradaban kapitalis yang menilai segala sesuatu dari untung rugi ataupun manfaat.

Sekularisme yang merupakan bidan atas lahirnya kapitalisme telah mengubah pola pikir, perasaan dan aturan di tengah-tengah kaum muslim. Sehingga aktivitas perdukunan yang didukung oleh jin ataupun syetan menjadi lirikan dalam menggembrak pengenalan budaya dan wilayah tertentu. Tak mengenal apakah di wilayah tersebut menjadi mayoritas ataupun tidak dari pemeluk akidah Islam yang seharusnya mengesakan Allah SWT, mengharapkan pertolongan dariNya dan takut akan kekufuran yang ditimbulkannya.

Dunia memang lebih kuat dari sihirnya Harut dan Marut. Terbukti banyak manusia yang menjadi ingkar pada Allah SWT, berbuat apapun untuk dunia karena matanya telah dibutakan. Sebagai seorang Muslim, tidak sepantasnya meniru apa yang dilakukan oleh Yahudi yang meninggalkan Kitab dan mempelajari ilmu sihir dan perdukunan sehingga banyak manusia yang sengsara karenanya disamping kekufuran yang ditimbulkannya.

Sebagai Muslim yang betul-betul mengimani Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan Hari Pembalasan seharusnya meninggalkan segala bentuk sihir dan perdukunan. Menggantinya dengan pendalaman terhadap isi Al Quran dan menerima apapun yang diberitakan oleh Allah SWT di dalamnya. Menjadikannya pedoman di dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat dan bernegara. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Novida Sari
(Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal)

Posting Komentar

0 Komentar