Menakar Masalah Bencana Banjir


Bisa kita lihat di tahun 2021 ini banyak sekali musibah yang terjadi, hampir di seluruh penjuru negeri. Mulai dari bencana erupsi gunung merapi, angin puting beliung, gempa bumi, banjir dan lain sebagainya. Yang akan saya soroti kali ini adalah bencana banjir yang seakan-akan sudah menjadi langganan di negeri ini. Bisa kita lihat di Jawa Timur daerah yang tak luput dari serangan banjir kemarin. Jember salah satu kota di jawa timur yang terdampak banjir cukup deras akibat luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung (Kompas 30/1/2021).

Tak hanya di Jawa Timur, baru-baru ini rakyat dikejutkan oleh banjir yang baru saja melanda daerah Jabodetabek. Sepekan terakhir ini beberapa warga di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi menjadi pekan yang melelahkan. Warga bejibaku dengan banjir yang mengepung kawasan pemukiman mereka. Sejumlah pemukiman di wilayah kota terendam banjir (liputan6.com, 21/2/2021).

Jika kita melihat kondisi negeri akhir-akhir ini sungguh miris sekali. Wabah corona yang tak kunjung usai, bencana demi bencana datang silih berganti menimpa negeri ini. Termasuk banjir yang bisa kita saksikan bersama-sama pada hari ini. Jika kita tarik kesimpulan mengapa bencana banjir ini bisa terjadi, maka ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil: 

Pertama, kesadaran Mlmasyarakat. Kesadaran Masyarakaat juga tak kalah penting dalam pencegahan banjir ini. Kesadaran masyarakat akan larangan membuang sampah sembarangan termasuk membuang sampah dan limbah sampah ke sungai harus dibentuk sejak lama. Jika kesadaran ini sudah mengakar terbentuk di benak setiap masyarakat, Maka pasti tidak akan ada lagi sungai yang meluap akibat kelakuan masyarakat membuang sampah di sungai. Dengan begitu Banjir akan mudah teratasi.

Kedua, tampungan air. Tampungan air juga menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah terjadinya Banjir. Jika penampungan air tidak cukup memadai, maka yang terjadi jika terjadi hujan cukup lebat, air akan meluap ke daratan dan rakyat menjadi korban. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara masyarakat dan aparat setempat guna mengeruk sungai yang dangkal dan aliran sungai kembali lancar. Sistem drainase yang buruk dan umur dari bangunan akan mempengaruhi terjadinya banjir. 

Ketiga, pembangunan liar. Pembangunan yang tidak ramah lingkungan bisa menyebabkan terjadinya banjir. Bisa kita lihat sangat banyak sekali daerah pegunungan, perhutanan yang disulap menjadi villa dan perumahan. Hal ini tentu dapat mendatangkan banjir. Pohon-pohon yang fungsinya menyerap air hujan malah di tebang demi pembangunan yang tak ramah lingkungan. Tergiur dengan uang lalu mengabaikan keseimbangan alam, sungguh miris.

Keempat, pengundulan hutan. Akibat dari kerakusan kapitalisme, mereka rela mengorbankan hutan demi kesenangan materi sesaat. Akhirnya mereka mengalihfungsikan hutan menjadi lahan sawit. Beribu-ribu hektar mereka babat habis demi membuat lahan sawit ini dengan dalih ingin menyejahterakan anak bangsa. Justru fakta mengatakan sebaliknya, nasib anak bangsa menjadi buruh di negeri sendiri. Para Korporat segelintir orang menikmati hasilnya. 

Dari musibah banjir ini seharusnya menjadi pelajaran bersama bagi semua elemen negeri ini. Termasuk negara dimana peran negara adalah melindungi segenap bangsa ini. Negara harus tegas dalam penanganan dan pencegahan bencana, bukan justru malah mengabaikan dan membuka karpet merah bagi para korporat dalam meraup keuntungan.

Musibah banjir seakan terus menghantui negeri ini. Musibah banjir di negeri ini sudah dianggap sebagai hal yang biasa bahkan sudah melanda setiap tahunnya. Dari sini pemerintah seharusnya lebih bisa belajar dari pengalaman sebelumnya untuk mencegah terjadinya kejadian musibah yang akan datang, termasuk masalah banjir ini.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, semua masalah termasuk banjir ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena kapitalisme yang sudah menjangkit pemikiran di masyarakat maupun pemerintah. Sistem kapitalisme yang merambat jauh ke seluruh sendi kehidupan telah menciptakan budaya perilaku yang konsumtif. 

Akhirnya gaya hidup masyarakat sekarang semakin hedonis dan persoalan sampah pun semakin parah. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah terkesan tidak berpihak kepada pencegahan bencana banjir bahkan terkesan abai terhadap dampak yang ditimbulkan kedepan. Kebjiakan hanya mempertimbangkan unsur pemasukan materi atau tidaknya bukan karena kondisi lingkungan.

Berharap kepada sistem kapitalisme sekuler sungguh mustahil. Faktanya sistem kapitalisme membiarkan para korporat menguasai hutan demi kepentingan materi pribadi saja. Negara butuh suatu sistem yang kuat yang bisa mengatasi masalah banjir hingga ke akarnya.

Islam adalah agama yang bukan hanya mengatur masalah hubungan beribadah kepada Allah saja, namun Islam mengatur bagaimana manusia mampu mengelola dunia sehingga berjalan seimbang. Islam dengan padangan yang shahih memberikan nilai yang lengkap bagi setiap manusia. Nilai yang dianut untuk kehidupan pribadi akan selaras dengan nilai-nilai yang seharusnya kita jalankan dalam kehidupan bermasyarakat bahkan bernegara sekalipun.

Seperti halnya dalam mengatasi masalah banjir ini. Dalam Islam, khilafah memiliki kebijakan yang efisien dalam menyelesaikan kasus banjir karena terjadinya alih fungsi lahan dalam proses penyerapan air oleh tanah, khilafah akan membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curah hujan, curahan air dari aliran sungai dan lain sebagainya.

Selain kebijakan diatas, khilafah juga akan membuat kebijakan penting seperti menyediakan variabel drainase ketika terjadi pembangunan pemukiman baru atau kawasan baru. Dan juga khilafah akan memperketat pengawasan pembangunan sehingga dapat dipastikan tidak akan mendatangkan kemudharatan besar seperti terjadi masalah banjir. 

Demikian contoh kecil bagaimana pemerintahan Islam bertanggungjawab dalam mengurus rakyatnya. Seorang khalifah menyadari bahwa tugasnya yang utama adalah mengurus rakyat dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Imam adalah ibarat pengembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (HR. Muslim).

Dalam sistem seperti inilah kebutuhan masyarakat menjadi nyata dan terpenuhi dalam sistem pemerintahan Islam. Maka sudah saatnya kita kembali kepada hukum-hukum Allah SWT, menerapkan syariat Islam. Karena hanya dengan syariat Islam segala permasalahan umat akan mampu terselesaikan dengan baik.[]

Oleh: Robby Vidiansyah Prasetio
(Pegiat Komunitas Majelis Gaul, Member AMK)

Posting Komentar

0 Komentar