Masuknya TKA dan Upaya Pemutusan Rantai Penularan Covid-19


Sudah setahun pandemi Covid-19 ini terjadi di dunia namun belum menunjukkan penurunan. Di Indonesia bahkan kasusnya hingga tembus angka 1 juta lebih dan dengan angka kematian sebanyak 30.000 orang 300 diantaranya adalah dokter. Sementara itu angka pertambahannya begitu dinamis. Dalam 9 hari penambahan kasus Covid-19 ini mencapai 100 juta kasus. Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah diantaranya dengan menerapkan masker, social distancing, vaksinasi. Selain itu pemerintah Indonesia juga menerapkan pelarangan masuknya WNA ke wilayah Indonesia hingga awal Februari (www.kompas.com). 

Namun di tengah pelarangan masuknya WNA ini ke Indonesia, ternyata 153 warga Negara asal China dipersilahkan masuk. Para TKA ini masuk ke Indonesia dengan pesawat China Southern Airlines melalui bandara Soekarno Hatta. Terkait dengan masuknya TKA China ini Kepala Sub Bagian Humas Direktorat Jenderal imigrasi Kemenkumham Ahmad Nursaleh menyatakan bahwa seluruh penumpang asing yang mendarat tersebut masuk pada kategori imigran yang diizinkan masuk ke Indonesia. Yaitu berdasarkan SE Imigran tentang pelarangan masuknya orang asing ke wilayah Indonesia dalam masa pandemic covid19 (www.cnnindonesia.com). 

Masuknya TKA dari China di tengah pandemi Covid-19 ini bukan yang pertama. Sebelumnya sebanyak 500 TKA China masuk ke Indonesia melalui bandara Haluoleo, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Menyikapi hal ini Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan alasan membolehkan WNA China masuk ditengah pelarangan tersebut dikarenakan mereka dibutuhkan Indonesia untuk menyiapkan proyek industry litium baterai (www.kompas.com). 

Hal ini tentu amat disayangkan oleh berbagai pihak. Pasalnya ini menunjukkan ketidak seriuasan pemerintah untuk mengatasi pandemi Covid-19. Bahkan pandemi ini kemudian di nomor duakan dengan proyek ekonomi. Namun memang jika kita melihat upaya pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini pemerintah cenderung fokus pada upaya pengangkatan ekonomi Indonesia. Oleh karenanya pemerintah kemudian menerapkan new normal dan tarik ulur dalam melakukan penerapan PPKM. 

Padahal di tengah pandemi Covid-19 ini seharusnya pemerintah lebih fokus untuk memutus mata rantai penularan virus terlebih dahulu dibandingkan dengan ekonomi. Ketidakfokusan pemerintah untuk memutuskan rantai penularan virus ini pada akhirnya menyebabkan upaya pandemic ini tidak kunjung usai. 

Ini disebabkan karena pemerintah tidak memiliki paradigma yang tepat dalam menangani pandemi ini. Sistem Kapitalisme yang diterapkan saat ini menyebabkan pemerintah menjadikan materialisme sebagai asas dalam kehidupan. Sehingga bahkan di tengah wabah kesehatan yang mendunia maka yang menjadi fokus perhatian pemerintah tetap perolehan materi dengan lebih memperhatikan aspek ekonomi dibandingkan kesehatan warga negaranya. 

Islam memiliki sejumlah paradigma dalam menyelesaikan pandemi ini. Ini dilakukan dengan tujuan utama memutus mata rantai penularan Covid-19. Beberapa paradigma tersebut antara lain: 

Pertama, diterapkannya lockdown syari bukan PSBB. Ini adalah upaya yang telah diserukan oleh Rasulullah SAW pada 13 abad. Pada saat itu Rasulullah SAW bersabda  yang artinya: “Apa bila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apa bila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya. (HR Imam Muslim).

Kedua, social distancing atau penjagaan jarak dan menghindari kerumunan. Hal ini juga telah diusulkan oleh  Sahabat ra Amr Bin Ash; wabah ibarat api  kerumunan manusia kayu bakarnya. Namun ini dilakukan dengan syarat minimal dilakukan dengan masa inkubasi virus terpendek yaitu 14 hari dan dilakukan secara serempak di seluruh dunia.

Ketiga, karantina. haI ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW.: ”Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat. (HR. Imam Bukhari)  

Keempat, pengobatan. Pengobatan ini dilakukan hingga pasien sembuh. Termasuk pada pasien yang tanpa gejala. Ini sebagaimana firman Allah SWT. “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram. 

Kelima, peningkatan imunitas. Yaitu bagi wilayah yang terkena wabah. Allah SWT berfirman, “Yang menentukan kadar (masing-masing ciptaan-Nya) dan memberi petunjuk. (TQS Al Ala: 3).

Beberapa paradigma ini harus ada untuk bisa memutus rantai penularan virus Covid-19. Namun dalam pelaksanannya tentunya tidak lepas dari keberadaan penerapan Islam secara menyeluruh. Yaitu di bidang ekonomi, politik, pendidikan dan pada aspek lainnya dalam kehidupan. Wallahu alam bish showab.[]

Oleh: Desi Maulia, S.K.M

Posting Komentar

0 Komentar