Maraknya Prostitusi Remaja di Kalsel Buah Penerapan Sekularisme


Komisioner Komisi Perlindungan Anak dan Indonesia (KPAI), Ai Maryati Sholihah dalam siaran persnya (5/2/2021) menyampaikan banyak laporan yang masuk mengenai kasus prostitusi anak di Indonesia. Sejak Januari tercatat ada 79 korban prostitusi anak.
Di Kalsel (Kalimantan Selatan) khususnya Banjarmasin, dari catatan Dinas PPPA Kota Banjarmasin, tahun 2019 dan 2020, kasus yang ditangani dinas bersama instansi seperti P2TP2A, TPPKK dan Polresta Banjarmasin itu ada sebanyak 35 hingga 36 kasus yang terlaporkan,” kata Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina, Sabtu (30/1/2021).

Bahkan yang terbaru terungkap penganiayaan terhadap remaja (28/1/2021) di sebuah hotel yang viral di medsos menambah catatan buruk dalam kasus perlindungan anak dan perempuan. Apalagi latar belakang pengeroyokan itu mencuatkan dugaan praktek prostitusi online, hal ini menambah daftar kejahatan prostitusi bagi anak di bawah umur. Berdasarkan wawancara salah seorang pelaku mengaku masih menjadi pemain baru di dunia prostitusi online, itu pun katanya karena ajakan kawannya. “Baru-baru saja, itu pun karena ajakan kawan,” ujarnya.

Menyikapi fenomena prostitusi online remaja, khususnya yang melibatkan anak di bawah umur, Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Alfian Tri Permadi mengaku akan terus mendalami pengak uan pelaku. "Kami akan melakukan pendalaman terkait dugaan prostitusi online yang dilakukan oleh pelaku," ungkapnya. Bahkan pihak Kasat pihaknya akan berkoordinasi dengan Intel guna melakukan 'pemetaan' untuk melihat hotel atau homestay mana yang sering digunakan untuk fasilitas prostitusi online.

Adapun faktor penyebab timbulnya prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur atau remaja, yakni dapat kita lihat bahwa untuk memenuhi kebutuhan pribadi (karena kesulitan ekonomi orang tua)sebagaimana sekarang gaya hidup yang mewah dan glamor menuntut mereka ingin bergaya seperti itu tapi tidak punya biaya, kurangnya pengawasan dari orang tua dan faktor lingkungan yakni sering mengikuti ajakan teman agar dapat penghasilan secara cepat serta kurangnya pendidikan keagamaan bagi anak dan faham kapitalisme yang mengukur segalanya dengan materi termasuk dalam hal kepuasan seksual, maka bisa dikatakan sistem sekuler yang diterapkan saat ini hanya menyuburkan perzinaan karna prinsip mereka adalah kebebasan.

Sebenarnya dalam sistem sekuler ini, kemaksiatan apa sih yang tidak bisa terjadi? Mengingat sistem sekuler adalah akar masalah utama kebebasan dalam segala hal yang menyebabkan kemaksiatan terjadi, sistem ini tidak menyelesaikan kemaksiatan termasuk juga masalah prostitusi bagi anak di bawah umur atau remaja. Bahkan yang terjadi adalah semakin subur dan berkembang di mana-mana selama masih ada yang menikmatinya meskipun merusak moral masyarakat diberbagai kalangan secara masif.

Lantas bagaimana caranya untuk menanggulangi menjamurnya kemaksiatan di negeri ini? Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh sebagai kaum muslimin memiliki solusi paripurna. Islam yang tidak sekedar agama, namun sebagai ideologi yang memiliki pengaturan luar biasa dan tegas yaitu dengan penerapan sanksi yang tegas.

Dalam Al Quran sangat jelas Allah swt melarang umatnya untuk berzina, jangankan untuk berzina mendekati saja dilarang karena mendekati zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS al Isra ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

Secara preventif, Islam memiliki seperangkat aturan mendasar dan fundamental agar prostitusi tidak terjadi. Di antaranya:

Pertama, mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial seperti melarang khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) maupun ikhtilat (campur-baur antara laki-laki dan perempuan kecuali untuk keperluan syar’i seperti pendidikan (misalkan sekolah), ekonomi/perdagangan (misalkan pasar) dan kesehatan (misalkan rumah sakit). Aturan ini bisa mencegah terjadinya aktivitas zina atau perilaku menyimpang seksual lainnya.

Kedua, memberikan sanksi tegas terhadap pelaku zina (had/hudud) baik bagi yang belum pernah menikah (ghairu muhson) berupa hukuman jilid 100 kali maupun yang sudah pernah menikah (muhson) dengan dirajam hingga mati. Namun demikian, hukuman ini hanya bisa dilakukan oleh pemimpin Islam (khalifah) di bawah sistem khilafah. Hukuman dan sanksi dalam Islam berfungsi sebagai zawajir (pencegah orang lain agar tidak melakukan pelanggaran serupa) dan jawabir (penebus siksa di akhirat). Dua fungsi ini akan bisa meminimalkan kasus zina termasuk prostitusi yang masih marak terjadi.

Ketiga, negara menutup/memblokir akses terhadap situs-situs porno, menyita buku, majalah, film dan gambar porno yang dapat menstimulasi nafsu libido.

Keempat, mengintensifkan pendidikan agama dan penguatan akidah kepada anak mulai dari tingkat sekolah dasar hingga pendidikan tinggi.

Kelima, memahamkan para remaja yang menginjak usia balig tentang naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’) agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas.

Keenam, memahamkan generasi muda tentang nilai agung sebuah hubungan pernikahan (edukasi pra nikah) dan menghindari seks bebas.

Ketujuh, di lingkungan keluarga, negara berupaya memperkuat kualitas relasi anggota keluarga sehingga harmonis dan anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas yang hedonis, meskipun mungkin kondisi keluarganya tidak ideal (misal orang tua bercerai dan lain-lain).

Semua hal tersebut dapat dilakukan jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sendi-sendi kehidupan umat manusia. Hanya Islam lah yang akan mampu untuk mengatasi segala bentuk kemaksiatan yang telah merajalela. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Nur Aisyah
(Penggiat masalah Remaja dan Aktivis Dakwah Remaja)

Posting Komentar

0 Komentar