Mampukah Demokrasi Mewujudkan Generasi Unggul?

Kemajuan suatu negara sangat dipengaruhi dari hasil sistem pendidikannya. Apabila pendidikan yang diberikan berparadigma sahih maka hasil pendidikannya akan unggul dan berkualitas namun sebaliknya jika berparadigma batil justru akan membahayakan dan mengancam eksistensi suatu negeri. Tentu setiap masyarakat tidak menginginkan negerinya mengalami kemunduran sehingga dibutuhkan usaha mengevaluasi dan juga keluar dari masalah yang melingkupi.

Pada hakikatnya pendidikan merupakan kebutuhan pokok/primer yang menjadi tanggung jawab negara. Artinya, negaralah yang menjamin pendidikan bagi setiap warga negara. Namun di era demokrasi saat ini pendidikan tergeserkan dari kata primer, pendidikan bisa saja pada posisi sekunder bahkan tersier, karena tidak semua warga negara dapat mengenyam bangku pendidikan. Hal ini karena biaya untuk mendapatkan hak pendidikan pun semakin mahal, sehingga banyak pula yang memilih untuk tidak melanjutkan sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Ketika pandemi hadir sistem pendidikan saat ini pun kian menemui berbagai banyak tantangan, baik kendala dari hal teknis hingga perkara paradigmatis. Meski jauh sebelum terjadinya wabah, negeri ini telah menghadapi kendala-kendala dalam sistem pendidikan. Saat pandemi penyelenggaraan pendidikan banyak diselenggarakan melalui online/daring. Hal ini banyak dijumpai kendala teknis berupa alat, kebutuhan kuota, sinyal jaringan dan lain sebagainya. Terbayang bagaimana suasana pembelajaran online yang dilakukan peserta didik yang terkendala, belum dengan penyampaian materi yang tidak dapat diterima dengan baik sepenuhnya termasuk teladan dari pengajarnya. Adab seorang guru pun juga akan sangat minim didapatkan jika kondisi daring terus dilakukan.

Menyoroti dari sisi paradigmatis, sistem pendidikan saat ini telah fatal mengadopsi sekularisme (memisahkan aturan agama dari kehidupan) sebagai asasnya. Asas inilah yang telah mengebiri tujuan pendidikan negeri ini yang membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Bagaimana dapat mencetak insan yang bertakwa apabila agama disingkirkan dalam kancah kehidupan? Seharusnya misi pendidikan mencetak insan bertakwa tidak sekadar misi yang tertulis namun juga harus dapat terimplementasi secara realistis.

Berbicara sistem pendidikan hal ini tidak terlepas dari input, proses dan outputnya. Pendidikan di era saat ini besar arusnya diarahkan oleh paradigma kapitalisme dimana orientasinya untuk mengejar materi semata. Dari sisi input maka jangan heran jika peserta didik sejak awal belajar bisa salah niatnya bukan karena memahami belajar dalam rangka menuntut ilmu adalah kewajiban namun ada niat tidak enak dengan orang tua karena telah menyekolahkannya. Bersekolah atau kuliah dibiayai orang tua seolah menjadi utang budi yang besok harus dikembalikan setelah lulus sekolah dengan bekerja. Mengejar materi dan nilai kelulusan pun secara tidak langsung menjadi orientasi peserta didik.

Pada sisi proses, kurikulum saat ini yang berlandaskan sekularisme (memisahkan aturan agama dari kehidupan) memberikan program yang arahnya menjauhkan peserta didik dari pengaturan Islam secara kafah, hal ini terbukti dari pendidikan yang hanya mengambil Islam sekadar aspek spiritual ubudiyah saja, padahal Islam adalah agama sempurna yang tidak sekadar mengatur aspek spiritual semata namun juga mengatur segala aspek kehidupan manusia. Penting dalam hal ini kurikulum yang digunakan haruslah berasas akidah Islam. Kurikulum yang berubah-ubah telah membuat bingung baik guru dan siswanya, belum dengan adanya pelajaran-pelajaran yang sarat dengan nilai-nilai kebebasan. Padatnya tugas dan jadwal menjadikan peserta didik fokus menyelesaikan tugas-tugasnya. Sehingga individualisme pelan tapi pasti sedang terbentuk dari sistem pendidikan saat ini.

Pada sisi output, jika dari sisi niat dan proses dengan kurikulum berasaskan sekularisme maka akan seperti apa output yang dilahirkan? Pandai namun individualis, paham agama namun tidak digunakan dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan dan juga negara. Terlebih era saat ini yang mudah membajak potensi generasi sesuai arahan kepentingan asing kapitalis. Para peserta didik diarahkan untuk menjadi buruh, penopang ekonomi kapitalisme.

Demokrasi dengan asas sekularisme membuat permasalahan besar, dari pendidikan yang kurikulum mudah berubah, hingga hanya menempatkan Islam sekadar nilai atau aspek spiritual semata. Mengantarkan generasi ini berpotensi jauh dari ketakwaan, dan demokrasi biang permasalahan terjadi. Media yang disuguhkan pun betapa banyak yang mengarahkan pada pemikiran-pemikiran liberal sehingga kualitas generasi ini dalam bayang-bayang jauh dari tujuan pendidikan.


Sistem Islam Melahirkan Generasi Unggul

Berbeda dengan sistem Islam yang dalam pengaturannya berasaskan akidah Islam. Halal-haram sangat diperhatikan karena setiap apa yang dilakukan manusia di dunia ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kehadiran pemimpin di dalam Islam dalam mengurusi urusan umat dengan melaksanakan hukum Islam sangat didambakan. Sebagaimana sabda Nabi SAW: Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya. (HR. Muslim dan Ahmad)

Begitu pula pengaturan ini melingkupi baik media, peradilan dan juga pendidikannya harus sesuai dengan syariat Islam. Untuk mewujudkan generasi yang unggul tentu butuh penerapan Islam secara menyeluruh. Pendidikan Islam dengan tujuan membentuk kepribadian Islam, menguasai ilmu skill yang ilmunya dapat bermanfaat untuk kemaslahatan umat.

Media yang ditontonkan adalah media yang mencerdaskan yang semakin mendekatkan diri kepada Allah di jalan ketaatan. Media yang diberikan adalah tayangan yang menutup rapat dari tayangan pornografi, pornoaksi, pemikiran-pemikiran yang sekuler. Dengan demikian generasi tertempa menjadi pribadi yang bertakwa.

Pengaturan Islam yang sempurna niscaya membawa kemaslahatan, aturan Islam hadir untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan. Negara juga akan mengatasi kendala-kendala teknis, baik kuota, pengadaan baiknya jaringan, hingga fasilitas kepentingan pendidikan lainnya. Agar suatu negara dapat melahirkan generasi-generasi yang unggul kita hanya butuh sistem Islam untuk mewujudkan generasi yang unggul berkualitas, berkepribadian Islam, ahli sains teknologi yang ilmunya bermanfaat untuk umat dan berjiwa kepemimpinan. Wallahu'alam bis shawab.[]

Oleh: Hernani Sulistyaningsih. S.Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar