Kurikulum Shahih di Masa Pandemi

Pandemi belum juga usai. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pun masih tetap berlangsung. Menanggapi hal itu maka Kementrian Agama (Kemenag) menerbitkan Kurikulum Darurat. Kurikulum Darurat ini menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, Ubudiyah dan kemandirian siswa. Kurikulum darurat ini berlaku bagi jenjang pendidikan Madrasah mulai dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), hingga Aliyah (MA). (edukasi.sindonews.com, 07/01/2021).

Sebelumnya Kemendikbud juga sudah menetapkan kebijakan Kurikulum Darurat yang memberikan payung hukum kepada satuan pendidikan untuk memilih kurikulum sesuai kondisi.

Kurikulum Darurat dari Kemenag maupun Kemendikbud asasnya sama yaitu memisahkan antara agama dengan kehidupan. Terbukti dalam kebijakan Kemenag sekalipun hanya menekankan di ahlak mulia dan aspek Ubudiyah saja. Padahal  Islam itu mencakup syariah Islam di dalamnya.

Permasalahan kurikulum mulai dari dulu sampai sekarang tak kunjung usai. Bergonta-gantinya kurikulum hampir setiap beberapa tahun sekali menandakan bahwa kurikulum yang ada masih lemah. Sejak orde lama kurikulum pendidikan sudah mengalami sebelas kali perubahan. Karena inilah banyak guru yang kelabakan, siswa pun menjadi korban karena seolah jadi kelinci percobaan.

Terlihat pendidikan ini masih bermasalah dari visi, misi, konsep sampai teknis. Kita perlu perubahan kurikulum yang shahih yang ukurannya jelas sehingga tidak terjadi revisi kurikulum terus-menerus. Bukan Kurikulum yang dibuat berlandaskan asas sekularisme. Yaitu adanya pemisahan agama dari kehidupan. Kurikulum shahih itu hanya ada pada sistem pendidikan Islam berikut dengan sistem politik yang menaunginya.
Sistem pendidikan dalam islam tegak atas akidah Islam yaitu kepercayaan bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Maha Pengatur Kehidupan. Kurikulum ini menjadi wasilah bagi manusia agar mereka tahu tujuan hidupnya, terbentuk kepribadian Islam dan mempunyai skill untuk membangun peradaban Islam cemerlang. Dari visi inilah yang diturunkan menjadi kurikulum Islam, berikut metode pembelajaran dan evaluasinya.

Tujuan Pendidikan dalam Islam, yaitu: pertama, Membentuk generasi berkepribadian Islam, yaitu membentuk pola pikir berdasarkan akidah islam serta mengikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Kedua, menguasai ilmu kehidupan. Yakni keterampilan dan pengetahuan. Yaitu menguasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengarungi kehidupan yang diperlukan. Agar dapat berinteraksi dengan lingkungan, menggunakan peralatan, mengembangkan pengetahuan sehingga bisa berinovasi di berbagai bidang terapan.

Ketiga, mempersiapkan anak didik memasuki jenjang sekolah berikutnya. Materi dan metode pembelajaran bersifat baku dan tidak berubah-ubah, kecuali yang berkaitan dengan perkembangan atau inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat sistem pendidikan dihadapkan pada situsi yang tidak biasa. Materi dan metode tidak berubah, namun teknis penyelenggaraan atau uslub disesuaikan dengan situasi dengan memastikan teknis tersebut akan menghantarkan pada tujuan dan kompetensi yang seharusnya diraih.

Adapun evaluasi pendidikan dalam sistem pendidikan Islam sangat handal dan dilakukan secara komprehensif untuk mencapai tujuan pendidikan. Ujian umum selenggarakan untuk seluruh mata pelajaran yang sudah diberikan. Ujian dilakukan secara lisan dan tulisan. 

Sedangkan ujian praktek dilakukan pada bidang keahlian. Siswa yang naik tingkat atau lulus harus dipastikan telah terbentuk kepribadian Islam pada dirinya yang tercermin dari perilakunya. Serta telah mencapai kompetensi atau menguasi pelajaran yang sudah diberikan dengan melewati ujian sebaik-baiknya. 

Penerapan kurikulum pendidikan ini disupport penuh oleh negara, dengan berbagai sarana dan prasarana penunjang. Termasuk pendidik yang punya kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni. Negara akan menjamin agar para guru mengajar dan mendidik secara maksimal dengan memberikan fasilitas tempat tinggal di sekitar sekolah serta gaji yang sangat mencukupi. Contohnya pada masa Umar bin Khattab  yang menggaji guru ngaji anak-anak  15 dinar perbulan atau sekitar 59.270.500 rupiah, jika 1 dinar = 4,25 gram emas dan harga satu gram emas Rp 930.000.

Negara juga memastikan agar semua warga negara mendapatkan pendidikan dan fasilitas yang layak. Fasilitas penunjang yaitu: asrama, perpustakaan, laboratorium dan lain-lain. Semuanya diberikan secara gratis, tidak memandang pada agamanya baik Muslim maupun non Muslim, jenis kelaminnya laki-laki ataupun perempuan, kaya ataupun miskin, tingkat kepintarannya. Berhak menguasi bidang apapun selama peserta didik mampu. Sistem ujian pada kurikulum islam akan mengarahkan peserta didik agar terarahkan pada bidang yang tepat sesuai kapasitas dirinya.

Sistem pendidikan terbaik dan ideal ini bisa terlaksana ketika negara menerapkan sistem Islam di setiap aspek kehidupan lainnya, satu sama lainnya saling menopang, agar tercapainya tujuan pendidikan dan terjaga kualitas outputnya. Misalnya sistem ekonomi Islam yang mengatur tentang Sumber Daya Alam (SDA) adalah milik umat dan negara wajib mengelolanya dan mengembalikan hasilnya untuk berbagai kemaslahatan. Kemudian juga sistem interaksi sosial, hukum, kesehatan agar sejalan dengan tujuan pendidikan, agar terjaga kualitas ouputnya. 

Keluarga, masyarakat dan negara semuanya beriringan dalam pendidkan untuk mewujudkan generasi cemerlang dan menjaga kualitasnya. Ini bisa terwujud jika ada negara Islam yang menopang dan menyelenggarakan seluruh kebijakan.[]

Oleh: Meita Ciptawati

Posting Komentar

0 Komentar