Kurikulum Darurat, Solusikah Atasi Pendidikan di Masa Pandemi?


Pembelajaran jarak jauh (PJJ), atau pembelajaran secara daring telah kita laksanakan kurang lebih satu tahun. Ini bukanlah waktu yang pendek, sehingga munculnya berbagai masalah di dunia pendidikan sudah menjadi konsekuensi logis di masa pandemi ini. Termasuk potensi terjadinya learning loss (berkurangnya pengetahuan dan ketrampilan secara akademis) mengkhawatirkan akan menjadi masalah besar.

Seperti dilansir kompas.com (31/1/2021), Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Kemendikbud, Rachmadi Widdiharto mengatakan, Kemendikbud memahami kekhawatiran learning loss tersebut di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai karena berkurangnya intensitas interaksi guru dan siswa saat proses pembelajaran.

Menanggapi hal itu, kurikulum darurat pun disiapkan untuk memandu mencapai tujuan pendidikan di masa darurat Covid-19. Kementerian Agama (Kemenag) merespons masalah pandemi Covid-19 yang panjang dengan menerbitkan Kurikulum Darurat. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, panduan ini merupakan pedoman bagi satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran di madrasah pada masa darurat Covid-19. "Sebenarnya, ini sudah disiapkan tahun lalu, dan semakin relevan saat pandemi menunjukkan grafik naik drastis," kata dia dalam keterangan tertulisnya kepada Republika (republika.co.id, 7/2/2021).

Kurikulum ini sifatnya sementara dan berlaku pada masa pandemi Covid-19 ini lebih menekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah dan kemandirian siswa. Pemenuhan aspek kompetensi, baik dasar maupun inti, tetap mendapat perhatian dalam skala tertentu.

Sebenarnya, selama sudah banyak permasalahan siswa dalam menjalani PJJ, baik dari sisi ekonomi keluarga, daerah black spot yang tidak terjangkau provider internet, atau kemampuan siswa dalam belajar mandiri. Termasuk keluhan orang tua terhadap aktivitas siswa yang tidak terarah dalam kehidupannya selama belajar dari rumah. Hal ini membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak disiplin dan sulit menemukan jati dirinya.

Bagaimanapun juga dengan PJJ yang berkepanjangan akan membawa siswa, orang tua dan guru pada kondisi yang menjemukan. Keterbatasan siswa saat belajar secara mandiri akan berdampak pada keputusasaan. Siswa bukan malah belajar, akan tetapi mereka akan mencari alternatif aktivitas lain yang memberikan rasa senang dan tidak membebani. Karena PJJ saat ini cenderung untuk memberikan banyak tugas setiap hari.

Orang tua yang bisa memberikan pendampingan anak-anaknya belajar secara mandiri di rumah pun mempunyai keterbatasan. Sehingga berdampak pada keputusasaan juga apalagi yang tidak bisa mendampingi. Dalam kondisi seperti itu maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menyerah. Banyak orang tua yang akhirnya tidak peduli lagi dengan kebutuhan belajar anaknya. Setali tiga uang dengan anaknya, maka banyak anak atau siswa juga akan tidak peduli dengan pelajaran dan tugas sekolahnya.

Ditambah lagi dengan keterbatasan guru dalam menjalankan PJJ, banyak kendala yang dihadapinya. Bisa jadi dari respon siswa yang hanya sekedarnya atau bahkan menghadapi siswa yang sama sekali tidak  respon dengan PJJ nya. Siswa seakan berada jauh di luar jangkauan gurunya. Kondisi seperti ini tentu saja tidak hanya akan berdampak pada terjadinya learning loss. Tetapi juga berakibat pada turunnya atau bahkan hilangnya sikat disiplin dan rasa tanggungjawab pada siswa. Yang mana muaranya adalah menjadi generasi yang berkepribadian rendah. Ini merupakan musibah besar bagi suatu bangsa.

Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan setiap individu dalam masyarakat. Maka menuntut Ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim. Di sini tidak ada batasan usia, artinya tidak terbatas pada anak usia sekolah saja. Tetapi seluruh masyarakat secara umum mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu. Tentu saja yang diwajibkan adalah belajar atau menuntut ilmu tentang agama Islam.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kewajiban menuntut ilmu merupakan modal utama agar pendidikan tidak hanya dibebankan pada sekolah dan guru. Dengan demikian, masyarakat akan memahami bahwa suatu kewajiban apabila tidak ditunaikan maka akan mendapatkan dosa di sisi Allah SWT. Pemahaman seperti itu jika sudah tertanam di masyarakat maka semua pihak akan senantiasa mengontrol aktivitas di dunia pendidikan.

Maka pada situasi menghadapi pandemi seperti saat ini, akan dengan mudah disolusikan. Karena ketakwaan individu,  kontrol  masyarakat dan penerapan oleh negara menjadi pilar yang kokoh dalam pelaksanaan pendidikan di masyarakat. Banyak pelajaran yang bisa kita teladani dari sejarah munculnya para ilmuwan hebat pada masa-masa pemerintahan Islam. Meskipun sarana dan prasarana saat itu masih sangat terbatas, mereka tetap berjuang dan pantang menyerah demi menunaikan kewajibannya menuntut Ilmu.

Membangun masyarakat yang kepribadian Islam tinggi adalah dambaan setiap generasi bangsa. Apabila masyarakat suatu bangsa sudah mempunyai kepribadian yang tinggi, maka kondisi apapun tidak akan melenakannya untuk tetap istiqamah menunaikan kewajiban. Sehingga masyarakat akan tetap menuntut ilmu meskipun di masa pandemi seperti sekarang ini.

Apalagi anak-anak usia sekolah yang mana prioritas utama mereka adalah belajar. PJJ tidak akan menjadi alasan mereka untuk bermalas-malasan atau lari dari tanggung jawab. Kondisi darurat pandemi akan menjadi motivasi dahsyat bagi generasi muda untuk bisa segera mengatasinya. Juga menjadi cambuk  yang melecut mereka untuk segera berkarya yang membawa manfaat untuk kemanusiaan.  Maka, kurikulum darurat pun tak mampu memberi solusi jika kesadaran dalam masyarakat nol. Untuk itu, kenapa kita tidak belajar pada sistem Islam, yang sudah memberikan bukti yang nyata? Wallahu a’lam bishowab.[]

Oleh: Sri Kayati
(Komunitas Penulis Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar