Krisis Ekologi, Islam Punya Solusi


Krisis ekologi mengancam negeri. Upaya eksploitasi sumber daya alam berdampak pada kerusakan lingkungan. Hal tersebut bukan tanpa data.

Data Global Footprint Network tahun 2020, Indonesia mengalami defisit ekologi sebanyak 42%. Angka ini menunjukkan, konsumsi terhadap sumberdaya lebih tinggi daripada yang saat ini tersedia dan akan menyebabkan daya dukung alam terus berkurang (Media Indonesia.com, 21/1/2021). 

Guru besar IPB University dari Departemen Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Prof Dr Akhmad Fauzi, dilansir dari laman IPB University, menyampaikan, saat ini indeks modal alam Indonesia masih rendah yaitu di urutan 86. Padahal negara tropis umumnya ada di peringkat 10 besar urutan index modal alam."Terdapat kerusakan yang cukup masif pada alam di Indonesia. Kerusakan alam ini misalnya disebabkan oleh alih fungsi lahan. Laju pencemaran lingkungan khususnya air juga tinggi. Selain itu keberagaman alam juga sudah semakin berkurang. 

Selain itu, eksploitasi pertambangan menimbulkan dampak memprihatinkan. Data yang diolah Walhi Kalimantan Selatan menyebutkan dari 3,7 juta hektar luasan wilayah Kalimantan Selatan, hampir 50 persen merupakan lahan tambang dan perkebunan sawit. Sudah bukan rahasia umum, telah lama wilayah ini dikenal surganya pebisnis tambang emas hitam. Tercatat 157 perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan dengan 814 lubang tambang. Hutan di Kalimantan Selatan terus menyusut dari waktu ke waktu, daya dukung dan tampung lingkungan hidup semakin merosot dan berakhir pada bencana ekologis (Kompas.co.id, 26/01/2021).


Eksploitasi Ala Kapitalis, Tak Peduli Ekologi

Eksploitasi alam besar-besaran terus dilakukan. Contohnya, di Kalimantan eksploitasi pertambangan getol dilakukan. Pengusaha tak pernah puas mengeksploitasi demi cuan. Pengusaha mengintervensi penguasa terkait pemberian izin. 

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)/Mining Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak mengusulkan izin usaha pertambangan (IUP) berlaku seumur tambang. Menurutnya, hal ini bakal memberikan kepastian usaha bagi para penambang. 

Menurutnya, jika IUP berlaku seumur tambang, penambang bisa memanfaatkan seluruh sumber daya minerba yang ada dengan maksimal. Karena jika tidak, penambang akan cenderung mengolah mineral dengan kadar yang lebih menguntungkan (Liputan6.com, 11/02/2021). 

Banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi sejak 9 Januari 2021, menyebabkan 15 korban jiwa dan ratusan ribu orang terdampak dan mengungsi. Menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Menjadi bukti, bahwa eksploitasi alam hanya peduli meraup cuan. Kelestarian lingkungan dipinggirkan. 

Penanganan krisis ekologi tetap sama, negara tetap memberi karpet merah pada industri esktraktif seperti tambang dan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur raksasa. Tanpa menghitung daya dukung dan tampung lingkungan hidup. Memberi bantuan secara, sambil terus menyalahkan alam. Ironi eksploitasi ala kapitalis, krisis ekologi mengancam negeri. 


Ekologi Ditopang Ideologi, Islam Punya Solusi

Islam memandang, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.

Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw.: "Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api." (HR Ibnu Majah). Kemudian, Rasul saw juga bersabda: "Tiga hal yang tak boleh dimonopoli: air, rumput dan api." (HR Ibnu Majah).

Berdasarkan dalil di atas jelas, bahwa sumber daya alam hendaknya tidak dikuasai individu. Menghindari keserakahan manusia, yang menginginkan keuntungan yang berlipat-lipat. Fitrah keserakahan manusia acapkali melupakan dampak buruk terhadap alam. 

Islam melarang perbuatan eksploitasi yang merusak lingkungan. Surat Al A'raaf 56, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya..."

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Menurut Ustaz Ismail Yusanto dikutip dari Media Umat, setidaknya ada tiga solusi terhadap bencana, yaitu:

Pertama, perspektif teknis adalah cara sains memandang akar masalah dari bencana. Sebagai contoh masalah banjir apakah karena semata-mata karena curah hujan yang tinggi dan drainase yang mampet atau penyebab lain. 

Kedua, perspektif politis atau persoalan policy (kebijakan). Misalnya di Kalimantan mengalami deforestasi atau penurunan luas hutan yang sangat drastis bukan terjadi secara tiba-tiba, tidak mungkin hutan itu hilang begitu saja, pasti ada yang menghilangkan atau menebanginya. Ada tidaknya eksploitasi alam pasti ada peran keputusan politik. 

Ia mengungkapkan sekarang ini ada penambangan batu bara yang luar biasa besar di Kalimantan, di sana ada tujuh pemilik Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang mencakup lebih dari 300.000 hektare area tambang batu bara. Dan itu pasti memakan area hutan, padahal area hutan itu selain dimakan oleh tambang batubara juga dimakan oleh area kebun sawit.

“Jadi ini soal politis, soal bagaimana pemerintah mengambil kebijakan" tegasnya. 

Ketiga, perspektif filosofis ideologis, yaitu kebijakan yang diambil ini dipengaruhi oleh cara berpikir kapitalistik atau bisa dikatakan kebijakan yang digerakkan oleh kepentingan-kepentingan material, digerakkan oleh kepentingan pemilik modal. Jadi ini semua pangkalnya di sana.

Sekiranya negeri ini mengekploitasi alam ala Islam, bukan ala kapitalis kelestarian alam terjaga. Ideologi ternyata mampu menjaga eksistensi ekologi. Dan Islam mampu menjamin hal itu. 
Allah Subhanahu wa ta’ala, Dzat Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana telah berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 96,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya.”
Wallahu'alam bish-shawwab.[]

Oleh: Sifa Isnaeni

Posting Komentar

0 Komentar