Kriminalisasi Pelopor Transaksi Dinar Dirham Dinilai UIY Sudah Kehilangan Akal Sehat



TintaSiyasi.com-- Menanggapi kriminalisasi pelopor transaksi dinar dan dirham (koin emas dan perak) yang menimpa Zaim Saidi dinilai Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) sudah kehilangan akal sehat.

“Jadi, sedih sekali saya melihat itu. Sedih karena kita telah kehilangan akal sehat kita,” ungkapnya dalam FGD Spesial: Transaksi Dinar dan Dirham, Sebuah Pelanggaran? Perspektif Hukum, Ekonomi, dan Politik, Sabtu (06/02/2021) di kanal YouTube Pusat Kajian Analisis dan Data (PKAD).

UIY sapaan akrabnya, menceritakan ketika ia mempresentasikan gagasan Islam kaffah (menyeluruh) di hadapan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang sekarang menjadi Wakil Presiden yaitu KH Ma'ruf Amin. Lalu, muncul pertanyaan dari deputi Wantimpres terkait kesesuaian gagasan yang UIY presentasikan dengan peraturan perundangan yang berlaku. "Lalu saya jawab, tentu tidak. Kan tidak mungkin saya menjawab sesuai gitu," jawabnya.

Meski begitu, ia berharap agar cara memandang sebuah gagasan tidak sekadar sesuai atau tidak dengan peraturan perundangan yang ada. Sebab, tambahnya, sangat banyak gagasan baik di luar sana.

Jika dibandingkan dengan Malaysia, ia menjelaskan, justru di sana pengkajian dinar dan dirham difasilitasi negara. "Dan praktik dinar sudah dilakukan di Kelantan," tambahnya.

Selanjutnya ia mengungkapkan, keberadaan pusat studi ekonomi Islam justru ada di Universitas Harvard yang nota bene universitas Katolik. "Coba tengok di perguruan tinggi kita, ada enggak itu pusat studi ekonomi Islam?" herannya.

Karena bangsa ini sedang menghadapi persoalan ekonomi dan moneter dalam konteks global, menurutnya, aneh jika ada orang yang mempermasalahkan praktik dinar dan dirham dalam skala kecil. Ia menambahkan, semestinya hal demikian harus ditanggapi sebagai sebuah inisiasi bagus.

Maka terkait polemik transaksi jual beli oleh Zaim Saidi yang menggunakan koin emas, ia menegaskan cara berpikir rezim sekarang menunjukkan sebuah set back (kemunduran) sebagai sebuah bangsa. "Itu kan dia di dalam rangka sosialisasi sesuatu yang menjadi ajaran Islam," pungkasnya. [] Zainul Krian

Posting Komentar

0 Komentar