Kontroversi Seragam Islami di Sekolah


Virus liberalisme dan Islamophobia terus merasuk ke tubuh umat dan melanda dunia Islam secara overdosis. Penyebarannya pun kian menyasar ke berbagai kalangan termasuk anak dan remaja. Dan para pembenci Islam justru berasal dari kalangan umat Islam itu sendiri, yang pemikirannya telah berpaham ide kapitalis sekuler.

Para punggawa rezim, komunitas masyarakat sipil bahkan ulama (suu’) amat mudah memberikan stigma buruk atas geliat ketaatan dan ketundukan yang penuh terhadap Syariat-Nya. Sehingga terjangkitnya Islamophobia untuk menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang benar merupakan ancaman yang besar bagi nasib umat Islam ke depannya.

Hal ini terjadi pada kontroversi seragam sekolah berkerudung bagi siswi SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat. Padahal diakui oleh siswi non Muslim, mereka berkerudung dengan sukarela tetapi stigma tersebut menyebabkan kehebohan semua pihak untuk bereaksi dan menuntut pencabutan aturan seragam berkerudung.

Kepala SMK Negeri 2 Padang Rusmadi mengungkapkan ada 46 siswi non Muslim yang berada di sekolah tersebut. Rusmadi menyebut seluruh siswi non Muslim di SMK tersebut mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-hari kecuali Jeni Cahyani Hia.

“Secara keseluruhan, di SMK Negeri 2 Padang, ada 46 anak (siswi) non Muslim termasuk ananda Jeni. Semuanya (kecuali Jeni) mengenakan kerudung seperti teman-temannya yang muslim. Senin sampai kamis, anak-anak tetap menggunakan kerudung walaupun non Muslim,“ kata Rusmadi saat pertemuan dengan wartawan.

Belakangan terungkap, Jeni Cahyani Hia merupakan salah satu murid di sekolah tersebut yang menolak mengenakan hijab. Rusmadi lantas menegaskan pihak sekolah tak pernah melakukan paksaan apapun terkait pakaian seragam bagi non Muslim. Dia mengklaim siswi non Muslim di SMK tersebut memakai hijab atas keinginan sendiri.

“Tidak ada memaksa anak-anak. (Di luar aturan sekolah), memakai pakaian seperti itu adalah juga keinginan anak-anak itu sendiri. Kami pernah menanyakan, nyaman nggak memakainya. Anak-anak menjawab nyaman, karena semuanya memakai pakaian yang sama di sekolah ini, tidak ada yang berbeda. Bahkan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan (Islam) yang kami adakan, anak-anak nonmuslim juga datang, walaupun sudah kami dispensasi untuk tidak dating. Artinya, nyaman anak-anak salami ini,” jelas Rusmadi (detiknews,Sabtu,23/1/2021).

Terkait soal ini Mantan Walikota Padang (2004-2014) Fauzi Bahar berpendapat aturan memakai pakaian muslimah atau berkerudung di sekolah Padang tidak perlu dicabut. Menurut Fauzi, aturan itu sudah bagus. Karena tujuannya untuk melindungi generasi muda Sumatera Barat.
“Peraturan itu sudah sangat bagus dan tidak perlu dicabut. Toh itu semangatnya bukan paksaan buat non Muslim. Kita melindungi generasi kita sendiri,“ kata Fauzi (ihram.co.id,Ahad,24/1/2021).

Dengan adanya kontroversi seragam berkerudung maka semakin menegaskan bahwa dalam sistem kapitalis sekuler, ajaran Islam dianggap intoleran sehingga dapat menjadi sumber lahirnya diskriminasi dan pelanggaran HAM.

Tetapi sebaliknya di wilayah bagian lain saat siswi muslimah di banyak sekolah secara resmi dilarang berpakaian Muslimah, tidak banyak yang membela. Ini juga menegaskan terjadinya tirani minoritas.

Hal ini dialami oleh siswi Muslim di wilayah PII Bali. Berdasarkan pendataan Pengurus Wilayah PII Bali, ada sekitar 40 sekolah yang melarang siswi Muslimah memakai jilbab. Caranya bermacam-macam. Ada yang terang-terangan dengan mencantumkan larangan tertulis. Cara lainnya, ancaman yang  tersamar  sehingga siswi Muslim merasa ketakutan mengenakan jilbab di sekolah dan akhirnya membuka jilbabnya. Data mengenai 40 sekolah yang melarang jilbab ini menggambarkan kondisi di lapangan.

Dengan demikian, Kemendiknas mempunyai alasan sangat kuat menginvestigasi  larangan jilbab di sekolah-sekolah di Bali. “Kami juga membuat petisi. Intinya meminta Kemendiknas menindaklanjuti adanya pelarangan jilbab bagi siswi di Bali,“ kata Helmy.

PII pun mendesak adanya jaminan Kemendiknas agar siswi berjilbab di Bali tak mendapatkan tekanan atau ancaman. Kalau ada yang akan berjilbab, jangan sampai dihalangi. Begitu pula bagi siswi yang sudah berjilbab tak diteror atau intimidasi. 

Sekretaris Umum PW PII Bali Fatimah Azzahra mengatakan, memang ada juga sekolah negeri dan swasta yang membolehkan jilbab. Mereka tak mempermasalahkannya. Tapi, siswi berjilbab diminta untuk siap menanggung resiko.

Bentuk resiko itu, seperti diejek atau dipandang berbeda oleh teman-teman sekolahnya. “Hal semacam ini biasanya terjadi di kalangan siswi SMP,” kata perempuan yang biasa disapa Zira itu (republika.co.id,Rabo,26/2/2014).

Kontradiksi inilah yang menjadi ciri khas ideologi kapitalis liberal. Ideologi ini menyanjung nilai-nilai kebebasan individu dan mengabaikan akibat buruk pada masyarakat, khususnya pelajar muslimah. Kebutuhan individu manapun mesti dipenuhi selama mereka menginginkannya. Tidak peduli apakah keinginan itu benar atau salah. Kapitalisme menganggap bahwa unsur masyarakat hanya individu saja. Mereka menafikan aturan, pemikiran dan perasaan yang dibentuk oleh aturan tersebut. Fokusnya pada kepentingan individu dan mewujudkan semua kebutuhannya. Aturan dibuat ketika muncul gesekan atau konflik di antara kepentingan individu-individu tersebut. Sebab itu, aturan dari ideologi kapitalis seperti “pemadam kebakaran”. Baru dirumuskan jika masalah sudah terjadi. Bersifat tambal sulam dan kontradiktif. Tidak menyelesaikan sama sekali. Selamanya masyarakat di sistem kapitalis liberal akan bergulat dengan masalah yang tidak kunjung usai, seperti seragam berkerudung ini.   

Jilbab rupanya tidak hanya diwajibkan dalam Islam, tapi juga diwajibkan dalam agama Yahudi dan Nasrani, agama pendahulu yang kemudian disempurnakan Islam. Dan dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, terdapat beberapa istilah yang semakna dengan hijab seperti feret. Bila dalam taurat pun ada, berarti jilbab diwajibkan di masa Nabi Musa.

 “Apabila seorang wanita melanggar syariat Talmud, seperti keluar ke tengah-tengah masyarakat tanpa mengenakan kerudung atau berceloteh di jalan umum atau asyik mengobrol bersama laki-laki dari kelas apapun, atau bersuara keras dirumahnya sehingga terdengar oleh tetangga-tetangganya, maka dalam keadaan seperti itu suaminya boleh menceraikannya tanpa membayar mahar padanya”. (“Al Hijab”, Abul A’la Maududi, h.6)

Seorang pemuka agama Yahudi, Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish womwn in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. “Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala” dan “Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut istrinya terlihat,” dan “Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan.” (Sabda Langit Perempuan dalam tradisi Islam, Yahudi, dan Kristen, Sherif Abdel Azeem, (Yogyakarta: Gama Media, 2001), cet. Ke-2, h.74).

Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani (Kristen dan Katolik) juga ditemukan istilah semakna. Misalnya istilah zammah, realah, zaif dan mitpahat. Lagi-lagi membuktikan bahwa menutup aurat adalah sesuatu yang diwajibkan pada masa Nabi Isa (inilahcom, 31/10/2016).

Sedangkan menutup aurat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw adalah “wajib” dilakukan oleh setiap Muslimah, karena menutup aurat sama seperti ibadah-ibadah lainnya yaitu seperti shalat, puasa, zakat yang juga diwajibkan bagi setiap muslim, dan bukanlah kewajiban terpisah yang dikarenakan kondisi daerah tertentu seperti Arab dengan daerah lain.

Rasulullah juga memerintahkan setiap muslimah yang keluar rumah harus menggunakan jilbab, bahkan bila seorang Muslimah tidak memiliki maka sesama Muslimah harus meminjamkan jilbabnya. 

Perintah menutup aurat ini bukan karena untuk menindas kaum wanita tetapi justru demi kebaikan dan keamanan wanita, karena banyaknya kasus pelecehan yang terjadi terhadap kaum wanita serta melindungi masyarakat dari akhlak tercela dan perilaku-perilaku hina.

Dan perintah menutup aurat sudah ditetapkan berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Menutup aurat yang sempurna adalah bukan yang masih terlihat lekuk tubuh. Menutup aurat yang sempurna adalah memakai pakaian yang digunakan didalam jilbab(baju), memakai jilbab (baju) keseluruh tubuh hingga menutupi kaki, kerudung (khimar) diulurkan sampai ke bawah dada, serta kaos kaki karena kaki kita adalah aurat.

Dan Allah SWT juga berfirman: “Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak dari dirinya.” (QS an-Nur: 31)

Menurut Imam Ath-Thabari makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah muka dan telapak tangan. Keduanya bukan aurat dan boleh ditampakkan di kehidupan umum. 

Sedangkan menurut Imam an-Nasafi yang dimaksud perhiasan adalah tempat menaruh semua perhiasan yang digunakan oleh Muslimah untuk berhias, misalnya cincin, kalung, gelang dan sebagainya. Artinya “Janganlah kalian menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk menaruh perhiasan kecuali yang biasa tampak yakni muka dan kedua telapak tangan.”

Sehingga perintah Allah SWT dan penerapan aturan Islam secara Kaffah untuk menutup aurat berlaku untuk semua warga termasuk kafir (non Muslim), yang mempunyai misi penjagaan, perlindungan dan kemuliaan bagi setiap Muslimah harus ditanamkan dan dilaksanakan. Disinilah kesetiaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya diuji. Waktunya untuk membuktikan, kemana kita akan berpihak? Wallahu’alam bish-shawab.[]

Oleh: Dewi Rahayu Cahyaningrum
(Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember)

Posting Komentar

0 Komentar