Kiai Shiddiq al-Jawi Jelaskan Hukum Berobat dengan Zat Najis atau Haram



TintaSiyasi.com-- Kiai Muhammad Shiddiq Al-Jawi menyatakan berobat dengan vaksin yang mengandung unsur najis atau haram hukumnya makruh.

“Hukum berobat dengan zat najis atau haram untuk dimanfaatkan hukumnya makruh. Makruh itu artinya ada celaan kurang baik menurut syariat. Kalau kita lakukan tidak berdosa tetapi kalau kita tinggalkan kita mendapat pahala. Makruh itu ketika ada satu pilihan. Jadi yang lebih baik adalah tidak dilakukan,” jelasnya, Jumat (22/01) di YouTube Khilafah Channel.

Ia mengutip sabda nabi yang diriwayatkan Imam Abu Dawud nomor 3376, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan obat bagi tiap penyakit. Maka berobatlah kamu dan janganlah kamu berobat dengan dengan sesuatu yang haram.” 

“Apakah perintah ini memiliki pengertian wajib? Di sini kita memerlukan yang namanya qorinah (petunjuk atau indikasi) dari dalil-dalil yang lain yang bisa kita simpulkan sabda nabi tadi. Dari kajian mengenai hadis ini ada qorinah atau petunjuk bahwa perintah nabi tadi bersifat tidak jazm atau tidak tegas, tetapi bersifat anjuran atau dengan kata lain perintah nabi tadi hukumnya adalah sunah. Kenapa? Karena ada riwayat lain dibeberapa hadis yang menunjukkan bahwa tidak berobat itu boleh,” terangnya.

Diterangkannya salah satu qorinah kesunnahan berobat dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Atha bin Abi Rabah, Ibnu Abbas mengatakan, “Maukah kamu aku tunjukkan seorang perempuan dari penghuni surga?” Aku berkata, “Ya mau.” Ibnu Abbas ra. berkata, “Inilah seorang perempuan berkulit hitam, dia pernah menemui nabi sambil berkata, “Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Nabi bersabda, “Jika kamu mau, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Wanita itu berkata, “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi, “Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka, nabi mendoakannya untuknya. 

“Hadis ini menjadi qarinah (petunjuk/indikasi) yang menunjukkan boleh tidaknya berobat, sebagaimana taqrir (persetujuan) nabi terhadap perempuan tersebut yang memilih bersabar. Sebab ketika perempuan tersebut memilih bersabar dengan pahala surga, artinya ia tidak menempuh upaya berobat, dan tetap berpenyakit epilepsi. Jika perintah berobat sebelumnya (hadis Imam Abu Dawud) digabung dengan qorinah ini, diperoleh kesimpulan perintah berobat itu bukan perintah tegas (jazm) yaitu wajib, melainkan perintah anjuran (ghairu jazm) yaitu sunnah/tidak wajib. Inilah hukum asal berobat,” paparnya lagi.

Ia menjelaskan, dilihat dari perbandingan mazhab yang ada (khususnya mazhab yang empat), ini adalah pendapat ulama Syafi’iyyah. Ia tegaskan, hukum asal berobat adalah sunnah atau mustahab. Imam Nawawi pun memberikan syarah atau penjelasan mengenai hadis yang memerintahkan berobat tadi, imbuhnya.

“Dalam hadits ini terdapat isyarat mengenai sunahnya berobat. Inilah mazhab sahabat-sahabat kami, dan dan juga mazhab jumhur ulama salaf dan umumnya ulama khalaf,” kutipnya dalam kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, juz V, halaman 106. Menurutnya, ini memang berbeda dengan jumhur ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah yang mengatakan berobat itu hukumnya mubah (boleh).  

Menurutnya, kemakruhan berobat dengan zat najis atau haram dihasilkan dari simpulan adanya dalil larangan (nahiy) berobat dengan yang haram dari Imam Abu Dawud, termasuk hadis tentang seorang thabib (istilah kita sekarang dokter) yang datang kepada nabi. Thabib tersebut akan membuat obat dari katak (dhifda’). 

Ia menjelaskan, nabi melarang membuat obat dari katak, "berarti katak ini haram. Hadis lain yang maknanya sama yaitu larangan berobat dengan yang haram, misalnya hadits riwayat Imam Ibnu Hibban (nomor 379), yaitu, Rasulullah Saw mengatakan, Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kamu pada apa-apa yang Allah haramkan atas kamu.”

“Tetapi persoalannya adalah apakah larangan-larangan jangan berobat dengan yang haram terus hukumnya haram. Di sinilah kita memerlukan yang namanya qorinah yaitu petunjuk atau indikasi dari dalil-dalil yang lain sehingga kajiannya komprehensif. Ternyata ada qorinah-qorinah yang menunjukan atau memberikan pengertian bahwa larangan tadi bukan larangan yang sifatnya jazm atau tegas yaitu haram. Tapi masih ada toleransi yang berarti makruh,” jelasnya lagi.

Tiga qorinah disebutkannya yaitu, pertama, Nabi Saw membolehkan dua suku Badui ‘Ukl dan ‘Urainah yang sakit ketika memasuki kota Madinah untuk meminum air kencing unta, kedua, membolehkan Abdurrahman bin ‘Auf dan Zubair bin ‘Awwam untuk memakai kain sutera, karena penyakit kulit (gatal-gatal), ketiga, membolehkan ‘Arfajah bin As’ad untuk memakai hidung palsu dari emas.

Ia menyimpulkan, dari ketiga qorinah tersebut, hukumnya makruh berobat dengan barang haram, "ketika dipertemukan dengan larangan berobat dengan yang haram, Imam Taqiyyudin an-Nabhani menyimpulkan dalam kitabnya Syakhshiyyah Islamiyah juz III halaman 116, maka fakta bahwa Rasulullah Saw membolehkan berobat dengan yang najis dan yang diharamkan."

"Padahal pada waktu yang sama Rasulullah Saw melarang berobat dengan keduanya, merupakan qorinah bahwa larangan tersebut bukanlah larangan tegas, sehingga hukumnya makruh. Inilah pendapat paling rajih dan kuat,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli S

Posting Komentar

0 Komentar