KH Ainul Yaqin: Dinar dan Dirham Mata Uang Syar’i



TintaSiyasi.com-- Menanggapi pro kontra dinar dan dirham Mudir Mahad Al-Ukhuwah al-Islamiyah KH Ainul Yaqin mengatakan, Islam menjadikan mata uang dinar dan dirham sebagai mata uang syari.

“Islam menjadikan mata uang dinar dan dirham sebagai mata uang yang syar’i karena untuk membedakan dengan fiat money,” tuturnya dalam acara Duduk Soal Dinar Dirham, Ahad (14/02/2021) Channel YouTube Akal Baik.

Ia menjelaskan, fiat money merupakan uang kertas yang tidak dijamin emas atau perak. Menurutnya, seseorang boleh melakukan jual beli menggunakan mata uang kertas, yakni uang kertas yang seratus persen di-cover dengan emas perak. Atau menggunakan uang kertas substitusi lima puluh persen dijamin emas dan perak, jadi ia menegaskan, tidak selalu bentuknya kepingan dinar dan dirham, bisa saja yang beredar uang kertas tetapi dijamin oleh emas.

“Ketika orang berjual beli dengan uang kertas atau dengan uang yang sebagian dijamin dengan emas secara hukum boleh, karena berjual beli dengan rupiah itu boleh. Di awal kemerdekaan RI menggunakan beberapa mata uang sebagaimana Islam, ketika baru berdiri belum mencetak uang sendiri,” tegasnya.

Ia memaparkan, hukum negara terkait mencetak mata uang sendiri. Pertama, hukum asal mencetak mata uang itu jaiz. Kedua, hukum asal mencetak mata uang yang asalnya mubah bisa menjadi wajib, jika dimaksudkan untuk melaksanakan kewajiban dalam rangka menjaga perekonomian negara. 

Ketiga, jika negara mencetak mata uang sendiri maka uang tersebut tidak boleh terikat dengan mata uang asing mana pun. Keempat, jika negara mencetak uang, maka mata uang yang dicetak wajib berupa dinar dan dirham secara syar’i. 

Ia mengatakan, ketika berbicara dinar dirham dalam pandangan syariah maka sumber kita Al-Qur’an dan As sunnah. Dalam perjalanan dakwah Rasulullah Saw, terutama tatkala Rasul menjadi ra’suyatul Daulah Madinah, ia katakan, pada saat itu, Rasul membiarkan atas adanya transaksi dengan menggunakan dinar dan dirham, yaitu dinar Romawi pada saat itu dan dirham Persia. 

"Bahkan Beliau mengakui ukuran-ukuran, artinya yang demikian menunjukkan, bahwa dinar dirham yang tadinya menjadi sesuatu yang berjalan di pasar, kemudian ditakrir dari satu fakta sosial, kemudian menjadi hukum syar’i,” pungkasnya [] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar