Keluarga Muslim, Jagalah Keluargamu dari Azab Allah


Persoalan keluarga memang tiada habisnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perceraian, pergaulan bebas anak, kemiskinan, pengangguran, sengketa hak waris dan lain sebagainya masih menghantui keluarga Muslim di negeri ini. Sebagai dampak diterapkannya sistem sekuler di negeri ini.

Kondisi ini pun telah meresahkan sebagian besar keluarga Muslim dan akhirnya mereka mulai menyadari bahwa solusi atas persoalan yang sedang mereka hadapi hanya ada pada Islam. Kesadaran ini pun terimplementasi melalui upaya keluarga muslim untuk mengenal kembali agamanya bahkan #Islamsolusinegeri dan #Islamjagaperempuan sempat bertengger di twitter hingga menjadi trending topik akhir tahun lalu. 

Namun faktanya tidak semudah membalikan telapak tangan, di tengah banyaknya keluarga Muslim tertarik mempelajari Islam disaat itulah muncul narasi kontra radikalisme yang bergulir di tengah masyarakat dan telah menjadi penghalang dalam upaya pengenalan upaya mereka terhadap Islam kaffah dan implementasinya dalam lingkup keluarga, masyarakat hingga bangsa.

Siapapun memahami bahwa kontra radikalisme muncul dari penguasa yang diimplementasikan melalui kebijakan-kebijakannya dan merupakan bagian dari program deradikalisasi yang sedang dijalankan dunia barat hari ini. Mereka tidak akan tinggal diam melihat maraknya pakaian Muslimah (jilbab) bertebaran di lingkungan sekolah. 

Dengan dalih kebebasan individu maka keluarlah SKB 3 Menteri dimana dilansir dari detik.com, (4/2/2021), Tiga menteri yakni Mendikbud Nadiem Makarim, Mendagri Tito Karnavian, dan Menag Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 02/KB/2021, Nomor 025-199 Tahun 2021, dan Nomor 219 Tahun 2021 Tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut Bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerinta Daerah Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Poinnya adalah peserta didik, pendidik dan tenaga pendidikan di lingkungan sekolah berhak untuk memilih menggunakan pakaian seragam dan atribut tanpa kekhasan agama tertentu.

Begitulah negara dengan sistem sekuler. Pakaian menutup aurat yang diwajibkan oleh Allah Swt di ubah hukumnya menjadi mubah.


Kewajiban Menutup Aurat

Allah Swt telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat. Didalam alquran Surat Al-a'raf ayat 26 Allah Swt berfirman:

يَابَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.” 

Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini merupakan dalil wajibnya menutup aurat. Para ulama tidak berbeda pendapat mengenai wajibnya menutup aurat. Mereka hanya berbeda pendapat tentang bagian tubuh mana yang termasuk aurat.

Rasulullah juga pernah bersabda: “Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan perempuan yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium harumnya. Padahal, harum surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”  (HR. Muslim).

Ajaran tentang menutup aurat dengan sempurna kepada para Muslimah terdapat dengan jelas didalam alquran surat An-Nur ayat 31 (perintah mengenakan kerudung) dan surah Al-Ahzab ayat 59 (perintah mengenakan jilbab) serta surat Al-Ahzab ayat 33 (agar wanita tidak  berhias secara berlebihan dalam berpakaian atau memoles wajahnya).

Setiap syariat Islam pasti mengandung maslahat di dalamnya. Kewajiban menutup aurat adalah untuk memuliakan Muslimah itu sendiri. Islam menutup peluang terjadinya kejahatan seperti pelecehan seksual hingga terjadinya pemerkosaan terhadap perempuan serta menghalangi apa saja yang bisa mendorong dan memicu hal tersebut dengan diterapkannya sistem sosial Islam dalam mengatur pergaulan masyarakat oleh negara.

Namun demikian, ketaatan seorang Muslimah terhadap aturan Allah bukan karena ada maslahatnya atau demi menghindari mudarat, namun motivasi utamanya adalah untuk mencari keridaan Allah Swt semata.

Islam mengatur pergaulan masyarakat termasuk relasi antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan yang mulia dan memuliakan yakni melestarikan keturunan sekaligus mewujudkan generasi cemerlang pionir peradaban yang purna dalam kehidupan.

Keluarga pun mendapat kedudukan penting dalam Islam. Selain sebagai tempat memenuhi naluri nau' (melestarikan keturunan) dan sebagai tempat menebar rahmat juga memiliki posisi politis dan strategis sebagai madrasah. Sebagai kamp perjuangan serta sebagai tempat mencetak generasi cemerlang.

Dalam kontek seperti itulah, maka Islam memberi aturan-aturan termasuk memberi tugas yang berbeda antara laki-laki dan perempuan (suami dan istri). Ayah sebagai nahkoda alias pemegang kendali kepemimpinan sekaligus pencari nafkah bagi keluarga. Sementara sang Ibu sebagai guru atau madrasah ula bagi anak-anaknya sekaligus sebagai manajer rumah tangga suaminya.

Syariat Islam telah menempatkan perempuan sebagai mitra yang kedudukannya setara dengan kaum laki-laki.

Nabi saw. bersabda,

إنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ آلرِّجالِ

“Sesungguhnya perempuan itu adalah saudaranya para laki-laki.” (HR. Ahmad)

Karena itu penerapan aturan Islam harus diyakini oleh setiap keluarga Muslim sebagai solusi tuntas bagi problem kehidupan dan perjuangan penerapannya pun harus ditempuh sesuai metode dakwah Rasulullah Saw yakni melakukan dakwah pemikiran mencerdaskan umat dengan Islam kaffah melalui cara non kekerasan yang mengarah kepada terwujudnya kekuatan politik Islam sebagai institusi penerapannya.

Dengan tegaknya seluruh aturan Islam dalam kehidupan inilah insyaAllah individu, keluarga, masyarakat bahkan negara akan kukuh terjaga.

Keberkahan dan rahmat Allah akan melingkupi seluruh alam. Sebagaimana  sejarah telah membuktikan. keluarga Muslim termasuk para Ibu harus kembali berfungsi sebagai benteng umat yang kokoh yang siap melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa. Dengan visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah yang mengemban misi kekhalifahan di muka bumi.

Oleh karena itu, keluarga Muslim hanya akan taat kepada perintah Allah Swt saja. Apapun yang di perintahkan manusia jika itu terindikasi melanggar syariat, maka wajib kita tolak. Mengajarkan anak-anak menutup aurat (taat syariat) sejak dini adalah tanggung jawab setiap orang tua Muslim. Karena surga neraka keluarga kita, kita sendiri yang menanggungnya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ ناراً وقودها النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عليها مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدادٌ لاَّ يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).[]

Oleh: Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar