Kapitalisme Pemupus Generasi Harapan Umat


Pendidikan sejatinya adalah kebutuhan utama demi tercapainya masa depan cemerlang. Peran pendidiknya menjadi hal yang utama. Padanya digantungkan mimpi dan harapan akan adanya perubahan arah  peradaban generasi yang lebih baik. Namun, ketika pendidik lahir dari rezim kapitalis yang memimpin dan mendominasi dalam pengaturan kehidupan. Impian generasi cemerlang hanya akan bertahan menjadi 'bunga tidur' semata. 

Dunia pendidikan kembali menyita perhatian publik. Setelah heboh dengan polemik anak didik di daerah Padang yang katanya dipaksa memakai pakaian keagamaan lain, kini kabar mengejutkan datang dari Tana Toraja yang menempatkan guru non Muslim di sekolah Islam atau madrasah.

Analis kepegawaian Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel Andi Syaifullah mengatakan, kebijakan penempatan guru beragama kristen di sekolah Islam atau madrasah sejalan dengan peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia tentang pengangkatan guru madrasah khususnya pada Bab VI pasal 30. 

PMA nomor 90 tahun 2013 telah diperbaharui dengan PMA nomor 60 tahun 2015 dan PMA nomor 66 tahun 2016, dimana pada Bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam,” terang Andi Syaifullah, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Sabtu 30 Januarin2021. “Kan guru non muslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Jadi saya pikirtidak ada masalah. Bahkan ini salah satu manifestasi dari moderasi beragama, dimana Islam tidak menjadi ekslusif bagi agama lainnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, eti Kurniawati calon pegawai negeri sipil (CPNS) kaget melihat SK pengangkatan sebagai guru CPNS. Dengan penempatan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja. Pasalnya, Eti yang merupakan alumni Geografi Universitas Negeri Makasar (UNM) beragama Kristen. Kemudian ditempatkan di sekolah islam. Eti mengatakan akan berusaha melangkah sesuai dengan kaidah agamanya yang juga menghargai perbedaan keyakinan orang lain. (suarasulsel.id, 5/02/2021)

Kebijakan Kemenag dalam membuka peluang pengajar non Muslim di sekolah Islam sungguh sangat disayangkan terjadi di dunia pendidikan. Namun karena sistem kapitalis yang menganut asas kebebasan hal ini pun dianggap biasa sebagai bentuk moderasi. Moderasi memang merupakan istilah yang disematkan untuk Islam menjadi Islam moderat. Ini sejatinya tak lepas dari upaya barat untuk semakin menjauhkan generasi dan umat dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Sayangnya sebagian umat banyak yang terkecoh dengan hal ini, dan menganggap Islam moderasi adalah lebih baik karena sesuai dengan perkembangan zaman.

Penempatan guru non Muslim di sekolah Islam atau madrasah yang terjadi di Sulsel ini, nampaknya harus ditinjau ulang. Pasal nya harus dipahami bahwa guru bukan hanya sekedar sebagai penyampai materi pelajaran saja di sekolah. Guru adalah sosok panutan yang senantiasa jadi kiblat siswanya. Dalam pepatah jawa guru pun diungkapkan sebagai seorang yang “digugu lan ditiru”, hal itu bermakna bahwa dia merupakan contoh teladan yang tentunya diharapkan mampu menanamkan kepribadian yang baik.

Di dalam Islam pendidik atau guru adalah pemberi keteladanan atau uswah yang baik, bukan sekedar sebagai penyampai pelajaran semata. Disamping itu haruslah berakhlak yang baik karena dia bertanggung jawab atas kepribadian para siswanya.

Di dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh sehingga segala sesuatu yang menyangkut pendidikan demi terciptanya generasi yang cemerlang adalah menjadi hal yang diprioritaskan. Pendidik dalam sistem Islam diberikan upah tinggi dan senantiasa menghadirkan  yang amanah dan kafa’ah. Hadirnya tanggung jawab negara akan pendidikan berkualitas sesuai dengan sabda nabi yang artinya, “Imam itu adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR Al-Bukhari). 

Tujuan Pendidikan di dalam Islam memiliki tujuan mulia, yaitu menyiapkan generani yang tangguh di peradaban mendatang. Banyaknya generasi tangguh yang terlahir dari Islam penyumbang peradaban merupakan bukti nyata keberhasilan ketika dia diterapakan dalam kehidupan. Sebut saja:

Pertama. Ibnu Sina. Seorang filsuf yang terkenal dalam dunia medis. Ia bahkan dijuluki sebagai Bapak Kedokteran Modern.
Dua karyanya yang paling berpengaruh adalah ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa’ (The Book of Healing) dan The Canon of Medicine. Keduanya kini dipakai sebagai standar ilmu medis di seluruh dunia.

Kedua. Al Khawarizmi. Seorang ahli matematika dari Islam yang dikenal sebagai penemu aljabar. Selain itu, ilmuwan asal Persia ini juga menemukan algoritma dan sistem penomoran. Al-Khawarizmi juga dikenal ahli di berbagai bidang, seperti astrologi dan astronomi.

Ketiga. Abbas Bin Firnas. Pada tahun 9 Masehi, Abbas Ibn Firnas sudah berhasil mendesain alat yang memiliki sayap, mirip seperti kostum burung. Alat tersebut dibuat dengan perhitungan dan penelitian yang rumit. Pada waktu percobaannya, ia berhasil terbang cukup jauh hingga kemudian jatuh dan mematahkan tulang belakangnya. Ia kemudian menginspirasi ilmuwan barat untuk mengembangkan pesawat.

Keempat. Al Haytham. Karyanya yang terkenal adalah Kitab al-Manazir (Book of Optics) yang hingga kini diakui sebagai rujukan ilmu optik. Al Haytham berhasil menjelaskan cara kerja optik mata manusia dalam menangkap gambar secara detail. Dia juga memberikan kontribusi dengan cara melakukan penelitian terhadap lensa, cermin, dan dispersi cahaya.

Generasi cemerlang dambaan umat hanya akan terlahir dari para pendidik yang baik, dimana terjadi proses memahamkan keimanan terhadap Islam sebagai satu satunya yang layak mengatur kehidupan, mengajarkan tentang hukum syara’ dan membiasakan peserta didik selalu dalam kesempurnaan ketataatan. Semua itu hanya bisa tercapai jika sistem Islam hadir kembali di bumi ini.

Maka dibukanya peluang guru non muslim untuk mengajar sekolah Islam atau madrasah merupakan celah yang berdampak pada kedangkalan akidah bagi generasi Islam. Allahu alam bisshowab.[]

Oleh: Murni Ummu Nafeeza

Posting Komentar

0 Komentar