Jangan Memilah Milih Ajaran Islam yang Mulia


Pemerintah menilai potensi wakaf di Indonesia masih cukup besar. Tercatat potensi wakaf secara nasional senilai Rp 217 triliun atau setara 3,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan potensi tersebut berasal dari 74 juta penduduk kelas menengah saja. “Potensi yang besar ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk memulai melakukan gerakan wakaf, salah satunya melalui instrumen surat berharga negara syariah (SBSN) atau sukuk,” ujarnya saat konferensi pers virtual ‘Indonesia Menuju Pusat Produsen Halal Dunia’ Sabtu (24/10).

Seolah pemerintah sudah kehabisan akal untuk memperbaiki kondisi perekonomian negeri ini. Setelah dana zakat dan dana talangan haji dijadikan pos pemasukan negara, kali ini pemerintah melebarkan sayapnya membidik dana wakaf dari kaum muslim. Juga dengan alasan yang sama, yaitu untuk menolong perekonomian Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa saat ini ia sedang membidik partisipasi pengumpulan dana wakaf dari kalangan kelas menengah, khususnya generasi muda, alias millenial. Ia menyebutkan bahwa kesadaran kalangan ini sangat meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, bisa dijadikan sumber keuangan baru untuk menolong perekonomian Indonesia. Ini diungkap dalam konferensi pers di kantor Wakil Presiden Republik Indonesia, Jakarta (24/11/2020).

Sumber dana yang berasal dari umat Islam begitu diminati, tapi tidak dengan syariat Islam yang lain, seperti menerapkan hukum Islam bagi para koruptor, hukum potong tangan, qishas apalagi menerapkan Islam secara menyeluruh. Hal yang demikian itu dianggap bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut bangsa dan tidak menguntungkan bagi negara. Sehingga, ada pihak yang dengan mudah menolaknya. Bahkan yang lebih parah lagi, justru mengkriminalisasi pihak yang memperjuangkan syariat Islam.

Sampai kapan umat akan diam dengan kondisi seperti ini? Bukankan negeri ini kaya akan sumber daya alam? Sangat di luar nalar jika tidak mampu mempertahankan atau memperbaiki perekonomian yang ada.

Segala cara sudah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil, bahkan semakin parah. Sejatinya, akar masalah dari problem yang ada bukan karena pos pemasukan negara yang kurang, bukan pula karena semata adanya Covid-19 menyerang. Melainkan, dari kesalahan sistem yang diterapkan, yaitu sistem demokrasi serta turunannya. Sistem yang lahir dari akal manusia.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat membenahi semua permasalahan negeri ini dengan menerapkan sistem Islam dan mencampakkan sistem kufur buatan manusia. Sebab, sistem saat ini telah nyata tidak mampu menyejahterakan rakyat. Bahkan, membuat rakyat makin melarat. Tidak ada alasan untuk menunda penerapan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan. Insya Allah, dengan diterapkannya Islam kaffah, negeri ini akan terbebas dari semua masalah. Hal ini sudah terbukti di masa pemerintahan Khilafah Rasyidah pada masanya. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Anis, Ibu Rumah Tangga, Butul-Pacet - Kab. Bandung

Posting Komentar

0 Komentar