Isu Kriminalisasi Islam Melalui Dinar Dirham

Akhir-akhir ini publik (khususnya kaum muslimin) dikejutkan oleh beberapa kabar duka yang menimpa negeri ini. Selain kabar berpulangnya beberapa ulama ke pangkuan Sang Khaliq, ada kabar duka lain yang tak kalah mengejutkan yakni isu ditangkapnya salah satu pegiat pasar muamalah. Pasar tersebut dalam transaksinya tidak menggunakan mata uang rupiah, tetapi menggunakan Dinar (emas) dan Dirham (perak), sebagai bagian dari upaya menjalankan syariat Islam. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa dinar dan dirham erat kaitannya dengan peradaban Islam. Walaupun dinar dan dirham sudah digunakan sebelum adanya daulah Islam di Madinah oleh orang-orang Romawi dan Persia, tetapi Rasulullah menyetujui penggunaan dinar dirham sebagai mata uang resmi negara karena kestabilan dan adanya nilai intrinsik yang tidak pernah mengenal  inflasi.  

Isu penangkapan tersebut menuai komentar beberapa tokoh negeri ini, salah satunya dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, yang mempertanyakan proses hukum terhadap aktivitas Pasar Muamalah yang menggunakan dinar dirham tersebut dengan membandingkan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar dalam transaksi wisatawan asing di Bali.

Menurutnya, memang penggunaan mata uang asing bisa berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Tetapi dinar dan dirham bukanlah mata uang asing, melainkan koin dari emas dan perak yang dibeli dari PT. Aneka Tambang ( Pesero) Tbk (Antam) atau dari pihak lainnya dengan menggunakan rupiah. (Kumparan.com, 5 /2/2021).

Melihat fakta di atas, tidak berlebihan jika berkembang isu bahwa apa yang dilakukan pemerintah terhadap dinar dan dirham sesungguhnya adalah  kriminalisasi dan fobia terhadap Islam. Bukan karena ingin menertibkan pelanggaran administrasi terkait alat transaksi. Sesungguhnya dalam hal ini, pemerintah tidak dirugikan sedikit pun dari aktifitas pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat. Justru akan membantu menyelamatkan ekonomi negeri ini dari jerat inflasi.

Kita tentu mengapresiasi setiap upaya umat ini dalam mencari solusi atas setiap masalah yang terjadi. Tetapi harus kita ingat bahwa setiap masalah selalu memiliki akarnya. Solusi yang tidak diambil dari akarnya akan berpotensi membuat permasalahan tersebut berulang kembali.  

Akar masalah dari banyaknya problem kaum muslimin bahkan bangsa hari ini adalah semakin jauhnya kita dari sistem Islam dalam mengatur kehidupan. Ibarat ikan yang hidup di daratan, kaum Muslimin saat ini sedang tidak berada di habitatnya. Ekonomi ribawi, budaya serba bebas, politik transaksional dan jauhnya tujuan pendidikan dari standar Islam adalah secuil permasalahan yang menjadikan kaum Muslimin terpuruk dan jauh dari kata 'umat terbaik' yang  pernah difirmankan Allah dalam kitabNya yakni Al- Qur’an. 

Kaum muslimin pernah hidup dalam kemuliannya ketika menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan. Selama hampir 14 abad hidup dalam habitat aslinya sehingga mampu menjadikan dirinya disegani kawan maupun lawan. Tak ada cerita kriminalisasi ketika hendak menjalankan ajaran Islam. Maka sudah saatnya kaum Muslimin menjadikan energi yang dimiliki untuk menjadikan Islam kembali digunakan sebagai sistem yang mengatur kehidupan agar berkah, mulia dan memuliakan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Khosiah Ummu Hasbian

Posting Komentar

0 Komentar