Islam Wujudkan Biaya Kesehatan Cuma-Cuma dan Berkualitas

Badan  Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengumumkan bahwa pada 2020 mereka berhasil mengatasi defisit dan mengalami surplus Rp18,3 triliun berdasarkan laporan keuangan yang belum di audit. Rekor surplus oleh BPJS Kesehatan ini terjadi pertama kali dalam 5 tahun terakhir. Pada 2016, BPJS Kesehatan belum defisit, namun piutang dalam proses bayar mencapai Rp2,41 triliun. Setahun kemudian atau 2017, asuransi kesehatan negeri ini membukukan defisit Rp1,01 triliun dan utang klaim yang dalam proses Rp4,27 triliun. Jumlah itu terus membengkak tahun berikutnya dimana defisit mencapai Rp9,16 triliun dan hutang klaim Rp1,47 triliun. Puncaknya, pada 2019, defisit mencapai Rp15,56 triliun dan utang klaim dalam proses Rp1,56 triliun (Bisnis.com, 09/02/2021).

Anggota komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati menyatakan kondisi surplus pada tahun anggaran 2020 Rp18,7 triliun yang dialami BPJS Kesehatan, seharusnya bisa membuat ada peninjauan kembali kenaikan tarif. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS)  itu menyatakan dengan adanya surplus ini, sudah selayaknya iuran BPJS khususnya kelas 3 dikembalikan seperti semula yaitu Rp 25.500 ( jpnn.com, 13/02/2021).

Kabar mengenai surplus yang dialami oleh BPJS Kesehatan ini agaknya memunculkan harapan adanya penurunan biaya pembayaran premi BPJS. Pembayaran premi BPJS Kesehatan memang mengalami beberapa kenaikan selama beberapa tahun sebelumya, namun dengan adanya kabar surplus ini harapan akan rendahnya biaya yang dibayarkan dan pelayanan medis yang memuaskan dapat terealisasi.  

Kesehatan memang merupakan kebutuhan dasar dan merupakan sesuatu yang mahal saat ini. Hal itu dikarenakan biaya kesehatan ditanggung oleh indifidu secara mandiri. Mereka  harus menyisihkan uang setiap bulannya guna membayar premi yang dibebankan. Demi untuk mendapatkan pelayanan dalam kesehatan.

Sistem kapitalis yang diterapkan saat ini memang menjalanlan fungsi penguasa nya hanya sebagai regulator. Yaitu menjadikan tanggung jawab terpenuhinya kebutuhan dasar ditanggung oleh rakyat sendiri, seperti kesehatan. Padahal kesehatan sejatinya merupakan kewajiban mendasar yang harus diberikan negara (penguasa l) atas rakyatnya.

Kapitalisme dengan asas sekular yang diterapkan saat ini menjadikan penguasa (negara) tampak berlepas tangan terhadap tanggung jawab kesehatan rakyatnya. Dengan diberlakukanya BPJS Kesehatan secara tidak langsung menghilangkan kewajiban terpenuhinya kebutuhan akan kesehatan yang seharusnya wajib diberikan negara. Kewajiban itu justru diberikan kepada rakyat. Rakyat seakan dituntut  untuk saling membiayai pelayanan kesehatan di antara mereka secara mandiri. Hal ini dikarenakan racun sekularisme yang meminggirkan peran agama sehingga menghilangkan pemahaman akan kewajiban penguasa (negara) yang sesungguhnya. 

Kesehatan memang merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh penguasa (negara). Sangat tidak memungkinkan jika dibebankan kepada indifidu secara mandiri. Sudah selayaknya ada pengaturan agar kesehatan menjadi hal yang mudah diakses oleh semua kalangan. Harapan penurunan biaya pembayaran premi BPJS Kesehatan agaknya masih belum mampu membawa dampak yang signifikan jika itu benar terealisasi. Jikalau memang ada penurunan pembayaran tetap ada biaya yang dibebankan dan harus dibayar. Karena sejatinya butuh adanya perombakan sistem yang mampu menjadikan pengelolaan kesehatan yang bisa diperoleh dengan cuma cuma dan berkualitas yang tentunya sesuai yang diharapkan.

Penjaminan kesehatan secara sempurna dapat kita lihat dalam sejarah kegemilangan Islam. Wiil Durant dalam The Story Civilization menjelaskan, ”Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak. Sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang sakit tanpa memungut biaya dan obat disediakan secara gratis. Para sejarawan berkata, bahwa cahayanya bersinar selama 267 tahun.

Demi untuk memenuhi kebutuhan akan layanan kesehatan yang gratis, sistem Islam pun membangun banyak institusi layanan kesehatan. Diantaranya adalah rumah sakit yang didirikan oleh Khalifah al-Mansyur di tahun 1248 M. Rumah sakit yang didirikan di Kairo itu memiliki 8000 kapasitas tempat tidur dilengkapi dengan masjid dan chapel yang diperiuntuhkan bagi pasien Kristen. Serta dilengkapi dengan terapi musik bagi penderita gangguan jiwa. 4000 pasien dilayani setiap hari tanpa membedakan ras, warna kulit, serta agama bagi mereka yang ingin berobat. Selama kurang lebih 7 abad semua  pasien dilayani sampai benar benar sembuh tanpa ada batas waktu, memperoleh obat, makanan dan perawatan secara gratis. Disamping itu mereka juga mendapatkan pakaian dan uang saku yang cukup selama masa perawatan.

Kesehatan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara. Menjadikan pengobatan adalah kemaslahatan dan fasilitas publik yang wajib disediakan secara cuma-cuma oleh negara sebagai bentuk pengurusan terhadap umat. Hal ini sesuai dengan sabda rasululloh saw yang diriwayatkan oleh al-Bukhari yang artinya, ”Pemimpin adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus”.

Hal itu pun pernah dicontohkan rasul sebagai pemimpin negara. Ketika mendapat hadiah dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikannya sebagai dokter umum bagi umat kala itu dan beliau pun pernah  menyediakan pengobatan gratis untuk mengobati Ubay (HR.Muslim). Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa ada serombongan orang dari kabilah “urainah” yang masuk Islam. Kemudian mereka jatuh sakit di Madinah. Rasulullah sebagai kepala negara kemudian meminta mereka untuk tinggal di pengembalaan unta zakat yang dikelola Baitul Mal di dekat Quba’. Dan diperbolehkan untuk meminum air susunya secara gratis sampai sembuh (HR al-Bukhari dan Muslim). Semua itu merupakan dalil sekaligus bukti bahwa pelayanan kesehatan dan pengobatan adalah kebutuhan dasar yang wajib di sediakan secara gratis kepada seluruh rakyat tanpa adanya uang yang harus dikeluarkan.

Jaminan kesehatan dalam Islam bersifat universal, bebas biaya, mudah diakses serta pelayanannya mengikuti kebutuhan medis. Pembiayaan itu pun dipenuhi tanpa memungut biaya sepeser pun dikarenakan hal itu sudah dipenuhi negara dari pemasukan negara yang bersumber dari hukum syara’. Diantaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan yang bersifat umum seperti hutan, pertambangan dan sebagainya. Juga bisa diperoleh dari jizyah, fa’i, ghanimah, ‘usyur dan sebagainya. 

Pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas hanya ada di dalam Islam. Islam memang sempurna bila diterapkan di dalam sendi kehidupan. Karena aturan Islam sejatinya membawa ketenangan karena dia bersumber dari Sang Maha pencipta dan pengatur seluruh Alam. Allahu a’lam bisshawab.[]

Oleh: Murni Ummu Nafeeza

Posting Komentar

0 Komentar