Islam Menjaga Nyawa Manusia


Ketua tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PBIDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Selain itu, Indonesia juga termasuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia.

Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi covid 19, ujar Adib di kutip dari siaran pers PBIDI, sabtu(2/1/2021). Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis lebih lanjut Adib mengungkapkan sepanjang Desember 2020 PBIDI mencatat 52 tenaga medis dokter meninggal akibat Covid-19.

Angka ini naik lima kali lipat dari awal pandemi. Kenaikan ini, merupakan salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi seperti berlibur, pilkada dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah.

Islam sangat menghargai dan menjaga nyawa manusia karena itu, Islam sangat memperhatikan penjagaan nyawa manusia. Allah SWT berfirman: 

"Siapa saja yang membunuh seorang manusia bukan karena itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maidah: 32)

Nabi Saw pun pernah bersabda: "Sungguh dunia ini hancur lebih ringan disisi Allah dari pada seorang muslim yang terbunuh." (HR an nasa'i, at tirmidzi, dan al baihaqi).

Solusi Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal yang memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. 

Dalam sejarah wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah Saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah Saw adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah Saw memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut.

Beliau bersabda: "Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta." (HR al Bukhari). 

Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah Saw  untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul Saw. membagun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah Saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, "Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa." (HR al Bukhari). 

Rasulullah Saw juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada ditempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR al Bukhari). 

Penguasa berperan penting untuk menjaga kesehatan warganya. apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai, sudah seharusnya menjadi bertanggung jawab seorang penguasa atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, diantaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular saat ini.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah tidak ada jalan lain yang akan menyelamatkan negri ini dari wabah penyakit dan yang lainnya, kecuali umat Islam kembali menerapkan syariah islam secara kaffah. Seperti Firman Allah SWT: "Jikalau sekiranya negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. al-Araf: 96). Wallahu'alam bishawab.[]

Oleh: Haeni

Posting Komentar

0 Komentar