Indonesia Kembali Diserang


Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya, bahkan hingga kini angka kasus sudah mencapai 1 juta lebih. Kasus covid-19 yang telah menyerang hampir satu tahun, masih belum berakhir. Ditambah sekarang ada varian baru dari virus tersebut muncul ke permukaan. Pada bulan September 2020 lalu, disampaikan bahwa varian baru dari mutasi virus SARS-CoV-2 muncul di tenggara Inggris. Bahkan varian virus baru ini, dikatakan lebih cepat menular dari virus sebelumnya.

Walaupun belum ada penemuan varian virus baru covid-19 di Indonesia, namun para ahli mengatakan bahwa varian virus baru corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, juga bisa muncul di negara Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Dosen dan Peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati di Institut Teknologi Bandung (ITB), Husna Nugrahapraja PhD. Dijelaskan Husna, kemungkinan atau potensi munculnya varian baru di Indonesia ini sangat bisa terjadi karena sifat mutasi yang alamiah terjadi pada makhluk hidup seperti virus tersebut (kompas.com, 12/01/2021).

Menanggapi hal tersebut, tentu kita masyarakat harus tetap waspada. Begitupun juga pemerintah, harus benar-benar mampu menjaga rakyatnya dari serangan virus ini. Namun sayangnya hal tersebut, tentu hanya menjadi angan-angan belaka, ketika masih ada warga Negara asing masuk ke Indonesia dengan mudahnya walaupun di tengah pandemi yang belum berakhir. 

Sebagaimana dikutip pada halaman kompas.com, 25/01/2021, disampaikan bahwa Warga Negara Asing (WNA) dari China terpantau masuk ke Indonesia di tengah larangan masuknya WNA ke Tanah Air demi pencegahan penularan Covid-19. Sebanyak 153 WNA dari China masuk ke Indonesia melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu (23/1/2021). Informasi tersebut pun dibenarkan oleh Kasubbag Humas Ditjen Imigrasi Ahmad Nursaleh ketika menanggapi isu kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang beredar di media sosial.

Kedatangan warga Negara China ditengah larangan masuknya WNA ke Tanah Air membuat warga bertanya-tanya, kenapa hal tersebut terjadi disaat kita masih berperang dengan pandemi. Berbagai alasan disampaikan oleh pihak pemerintah, bahwa kedatang WNA dari China tersebut disahkan secara hukum.

Walaupun begitu, kita bisa menilai bahwa pemerintah masih setengah-setengah dalam menangani pandemi. Ini terbukti dari berbagai kebijakan, yang justru tak mampu untuk menurunkan kasus covid-19 di Indonesia. Keterikatan pemerintah dengan China, juga menjadi pemicu kenapa kedatangan WNA dari China dibolehkan walaupun ditengah pandemi. 

Sungguh ironis, sistem yang mengikat kita hari ini. Pananganan kasus covid-19 pada sistem kapitalisme-sekulerisme, tidak mampu untuk menjaga keselamatan nyawa rakyatnya. Berbagai kebijakan dilakukan. Namun yang terjadi kasus covid-19 semakin ganas setiap harinya. Ketika ingin menerapkan kebijakan lockdown, pemerintah juga masih cemas untuk mengeluarkan anggaran guna memenuhi kebutuhan rakyat semasa lockdown. Adapun masyarakat juga tak mau melakukan lockdown, ketika mereka sadar pemerintah belum tentu mau memenuhi kebutuhan hidupnya semasa lockdown.

Adapun bantuan sosial yang juga menjadi kebijakan dalam pegaman sosial ditengah covid-19 juga turut dikorupsi oleh  Menteri Sosial. Sungguh ironis, betapa kejamnya orang-orang pada sistem hari ini.

Hal ini berbeda ketika islam diterapkan pada masa lampau. Pada masa kepemimpinan khilafah Umar bin Khatab RA, masa itu pernah terjadi suatu wabah. Mengetahui hal tersebut, khilafah langsung melaksanakan lockdown sebagaimana dinasehatkan oleh orang kepercayaannya dan telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Orang-orang yang berada di daerah wabah tidak dibolehkan beraktivitas ditempat ramai, atau bepergian keluar daerah yang tidak terkena wabah. Adapun kebutuhan pokok mereka selama masa isolasi tersebut, ditanggung penuh oleh khilafah. 

Beginilah cara islam menangani pandemi, tidak setengah-setengah  seperti yang terjadi hari ini. Disaat Indonesia diserang oleh virus, seharusnya pemerintah serius dalam melawannya. Dengan berbagai kebijakan yang benar dan tepat. Salah satunya dengan kebijakan yang bersumber dari islam. Akan tetapi hal tersebut, tidak bisa dilakukan, kecuali Negara yang mau memimpin dengan islam. Islam yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘alam.[]

Oleh: Sarinah A, Pegiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar